Koran Jakarta | May 27 2019
No Comments

Efektif, Apartemen Nempel Stasiun Kereta

Efektif, Apartemen Nempel Stasiun Kereta

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Dengan total panjang jalan di DKI Jakarta yang mencapai sekitar 7000 km, dampak langsung yang terjadi adalah terjadinya kemacetan yang terjadi hampir setiap hari.

Kerugian akibat kemacetan ini, diperkirakan mencapai 6 triliun rupiah setiap tahunnya. Pemerintah dengan langkah strategisnya, yaitu membangun sistem transportasi massal, baik itu MRT (angkutan cepat terpadu), LRT (proyek lintas rel terpadu) maupun BRT (bus rapid transit/bus cepat).

Pembangunan sistem transportasi terpadu ini diharapkan akan menjadi solusi jangka panjang atas problem kemacetan tersebut. Karena itu, pengembang-pengembang mulai menyerbu ke wilayah atau lahan di sekitar stasiun transportasi terpadu.

Pengembang akan membuat proyek yang dikembangkannya terintegrasi sebagai kawasan hunian berkonsep transportasi, alias TOD (Transit Oriented Development). Memang, seiring dengan laju pembangunan perkotaan, konsep hunian di Jakarta akan nempel dengan stasiun. Dan ini menjadi tren.

Perum Perumnas mengungkapkan minat masyarakat terhadap hunian terintegrasi sangat tinggi. Ini dibuktikan dengan tingginya minat pembeli hunian milik proyek Perumnas, seperi Apartemen Mahata Margonda dengan Stasiun Pondok Cina, Kota Depok, Jawa Barat.

Hunian yang terintegrasi dengan transportasi jadi pilihan karena dinilai lebih efektif dan efisien untuk menunjang aktivitas sehari-hari. “Antusias masyarakat yang cukup tinggi, memacu kami meluncurkan tower kedua Mahata Margonda ini,” kata Direktur Pemasaran Perum Perumnas Anna Kunti Pratiwi di Depok.

Sebagai wujud keseriusan dalam membangun hunian terintegrasi transportasi Commuter Line Stasiun Pondok Cina ini, kami meluncurkan Tower Galioleo sebagai tower kedua Mahata Margonda.

“Tower pertama kami saat ini sudah terjual 95 persen dan hanya menyisakan 30 unit lagi,” katanya. Selain terintegrasi dengan transportasi KRL di Stasiun, pengembangan hunian apartemen Mahata Margonda ini dengan konsep terintegrasi ini juga akan dilengkapi area retail juga sarana lainnya dalam satu lokasi untuk menunjang aktivitas penghuni.

Tidak hanya itu, lokasinya pun berdekatan dengan beberapa universitas di sekitarnya. Misalnya Universitas Indonesia, Universitas Pancasila, Universitas Gunadarma dan lainnya.

“Kami juga tetap pada misi kami dalam penyediaan rumah terjangkau di setiap proyek kami, tidak terkecuali di proyek Mahata Margonda ini yang dislotkan sekitar 20 hingga 30 persen,” katanya.

Sementara itu GM Marketing Divisi Pemasaran Perumnas Ari Kartika menjelaskan Mahata Margonda akan menjadi landmark terbaru di Depok nanti khususnya di Jalan Margonda Raya, karena selain memiliki lokasi yang sangat strategis dekat dengan gerbang tol Margonda yang akan segera dibuka dan terkoneksi langsung dengan Tol Cijago nanti.

Ke depan, diharapkan dengan sinergi BUMN dalam rangka penyediaan rumah pada konsep hunian terintegrasi ini lebih merata dapat diterapkan di seluruh Indonesia.

Sehingga tidak hanya penurunan angka backlog atau kesenjangan antara jumlah rumah terbangun dengan jumlah rumah yang dibutuhkan rakyat dapat teratasi, namun peningkatan kapasitas rumah terjangkau dengan kualitas yang baik semakin meningkat dan rencana pemerintah pada Program Satu Juta Rumah dapat terealisasi dengan cepat.

Perumnas merupakan salah satu BUMN yang mempunyai tugas pokok menyediakan perumahan dan pemukiman bagi masyarakat menengah ke bawah.

Beberapa kawasan pemukiman skala besar telah dibangun melingkupi area Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi yang kini telah berkembang, menjadi kota baru dan berfungsi sebangai kota penyangga ibukota Jakarta.

Dengan memiliki cakupan area operasional dari Sabang sampai Merauke, Perumnas terbagi menjadi 8 regional strategis. Perumnas telah membangun di lebih dari 187 kota dan 400 lokasi di seluruh Indonesia. yun/Ant/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment