Koran Jakarta | April 26 2019
No Comments

Efek Samping Diabetes dan Upaya Mengatasinya

Efek Samping Diabetes dan Upaya Mengatasinya
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Dari Diabetes Menuju Jantung dan Stroke

Penulis : Hans Tandra

Penerjemah : Dina Kumala Sari

Tebal :xiii + 226 halaman

Penerbit : Gramedia

Cetakan : Oktober 2018

ISBN : 978–602- 06-1410-6

Badan kesehatan dunia WHO di tahun 2012 mencatat 17,5 juta orang meninggal karena gangguan pembuluh darah, yaitu jantung dan stroke. Lebih dari 75 persen kematian karena kedua penyakit tersebut ditemukan di negara berpenghasilan sedang dan rendah.

Penyakit jantung dan stroke sebagian besar disebabkan diabetes. Timbunan gula darah berpotensi menyumbat pembuluh darah di otak dan jantung, sehingga keduanya tidak bisa berfungsi normal. Diabetes disebut The Silent Killer. Data Internasional Diabetes Federation (IDF) 2015 menyebutkan, dari 220 negara di seluruh dunia jumlah penderita diabetes diperkirakan akan naik dari 415 juta orang tahun 2015 menjadi 642 juta jiwa pada tahun 2040.

Hampir setengah dari angka tersebut berada di Asia, terutama India, Tiongkok, Pakistan dan Indonesia (hlm xi). IDF juga mencatat, dari prediksi 413 juta pengidap diabetes, usia 20 sampai 79 tahun di seluruh dunia mencapai 193 juta jiwa. Hampir 50 persen di antaranya tidak tahu mereka terkena diabetes.

Penyakit diabetes bermula dari kadar gula darah tidak normal. Gula sebenarnya kebutuhan vital tubuh. Seperti mobil yang memerlukan bahan bakar, tubuh manusia juga butuh bahan bakar yang bersumber dari karbohidrat, protein, dan lemak. Tubuh akan mengubah ketiganya menjadi gula yang kemudian diserap usus dan masuk ke peredaran darah.

Kelenjar pankreas mengeluarkan hormon insulin yang membuka pintu sel-sel agar gula masuk dan menjadi energi, sehingga sel tubuh dapat bekerja dan berfungsi dengan baik. Insulin juga mengatur perubahan kelebihan gula darah menjadi glukogen yang disimpan di hati atau menjadi timbunan lemak (hlm 5).

Sejalan dengan bertambahnya usia, fungsi insulin akan melemah, sehingga tidak bisa berfungsi normal. Kadar gula dalam tubuh turut meningkat, menumpuk, dan menimbulkan diabetes. Selain faktor usia, diabetes karena ras atau etnis. Orang dari etnis kulit hitam lebih mudah terkena diabetes daripada berkulit putih. Orang Asia juga rentan mengidap diabetes.

Penyakit gula ini juga disebabkan pola aktivitas dan gaya hidup salah, kurang bergerak, serta kegemukan. Lebih dari 80 persen orang gemuk akan mengidap diabetes. Mereka berisiko terkena sakit jantung dan stroke dua sampai empat kali lipat. Semakin banyak lemak tertimbun di perut, tambah sulit insulin bekerja, sehingga gula darah mudah naik. Stres juga menyebabkan hormon counter insulin menjadi lebih aktif, sehingga gula darah meningkat (hlm 111).

Banyak pakar melihat urbanisasi sebagai biang timbulnya diabetes. Orang di masa lalu banyak bergerak. Orang masa kini cenderung santai. Semua serba-instan dan otomatis. Makanan pun semakin beragam. Semakin banyak makan berkalori tinggi, manis, serta mengandung lemak. Orang bertubuh gemuk ada di mana-mana.

Diabetes bisa dicegah dengan pola hidup sehat. Kunci hidup sehat bertumpu pada kesadaran dan pengendalian diri menghindari kebiasaan tidak sehat. Beberapa kebiasaan buruk seperti tidur larut malam dan makan tidak teratur. Kemudian, mengonsumsi makanan tidak sehat seperti sering mengudap keripik, mengemil, gemar minuman bersoda, serta merokok.

Ketika terkena diabetes, harus giat memeriksakan diri, minum obat secara teratur, dan menghindari seluruh pantangan saran dokter (hlm 119). Sari adalah buruh pabrik pakaian di Sidoarjo. Usianya baru 45 tahun. Namun dia sudah terkena diabetes. Dia malas berobat karena tidak merasakan gejalanya.

Dia menganggap sudah sembuh. Padahal belum mencapai rentang waktu yang disarankan dokter untuk menghentikan minum obat. Akibatnya suatu saat dia mengeluh pusing dan ketika bangun tiba-tiba tak bisa menggerakkan tangan kaki sebelah kiri. Dia lumpuh karena stroke. Buku ini menjelaskan bahaya diabetes, efek negatifnya terhadap timbulnya stroke dan penyakit jantung. Juga cara mencegah dan mengobatinya. 

Diresensi Redy Ismanto, Alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment