Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments

Efek Nyaman Berawal dari Interior

Efek Nyaman Berawal dari Interior

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Detail dekorasi ruang akan semakin nyaman dengan beberapa kursi yang terbuat dari kulit berwarna coklat, meja, kayu tebal dan karpet lantai yang lembut.

Adakalanya, tempat tinggal nyaman tidak selalu berbanding lurus dengan estetika desain. Ini lantaran kenyamanan dapat terwujud melalui perasaan kehangatan, kebahagiaan, dan kebersamaan dalam sebuah hunian.

Kenyamanan itu, misalnya, bisa dirasakan dalam pilihan warna. Untuk warna gelap, ini identik dengan kesedihan. Warna ini memiliki makna yang berbeda saat digoreskan di fasad dan sebagian dinding.

Warna tersebut mampu memberikan perasaan nyaman hampir di seluruh ruang. Konsep desain sepeeti ini dilakukan oleh Studio Four. Sebuah studio arsitektur yang dipimpin Annabelle Berryman dan Sarah Henry, saat mereka menangani klien yang memiliki akar dari Denmark.

Proyek rumah tinggal yang berada di Central Park Road Residence, di pinggiran Malvern, Australia ini, dirancang dengan mengambil definisi hygge. Hygge sebagai istilah Denmark digunakan untuk menggambarkan perasaan nyaman sebagai kepuasaan umum.

Awalnya, pihak studio mengalami kesulitan untuk menterjemahkan hygge yang diinginkan kliennya. Mereka mengalami keterbatasan untuk memahami hygge.

“Selama proses desain, pemahaman kami tentang hygge diperdalam dan diinformasikan oleh klien kami. Kami diajari bahwa itu tidak selalu soal estetika tetapi itu adalah perasaan yang dihasilkan oleh konteks dan pada intinya adalah perayaan kehangatan, kebahagiaan dan kebersamaan,” ujar Studio Four seperti yang dilansir dari dezeen.

Studio arsitek yang berbasis di Melbourne, Australia ini menambahkan, semangat hygge adalah terinspirasi untuk menyediakan waktu berkualitas untuk teman dan keluarga. Namun tidak meninggalkan, motivasi untuk menjaga diri sendiri.

Dalam awal pengerjaannya, studio menggoreskan fasad dengan warna hitam arang untuk memberikan rasa kedalaman dan bayangan yang lebih besar. Tujuannya untuk menginformasikan interior tersebut tidak gelap.

Warna gelap dapat menginformasikan suasana yang murung. Namun semakin ke dalam, perasaan tersebut akan semakin surut.

Bagian atap juga diperluas untuk membentuk atap besar di atas pintu depan. Sedangkan ruang tamu ditambatkan perapian baru yang sangat besar yang ditutup dengan cerobong baja setinggi lima meter.

Ruang tersebut menjadi tempat duduk selama musim dingin yang dapat berlangsung selama beberapa bulan. Detail dekorasi ruang tersebut semakin nyaman dengan beberapa kursi yang terbuat dari kulit berwarna coklat, meja, kayu tebal dan karpet lantai yang terasa nyaman.

Sementara, langit-langit rumah sebagian besar telah dilapisi kembali dengan rangka kayu ek. Langit-langit yang baru dirombak tersebut menunjukkan keseimbangan yang sempurna hygge. Struktur langit-langit menunjukkan nilai dan kehangatan yang diperoleh dari langit-langit kayu.

Rumah tingga tersebut sebagian besar mempertahankan tata ruang ruma terbuka. Salah satu tandanya dengan membiarkan jendela baru untuk menghubungkan kamar-kamar dengan taman dan area kolam renang yang lebih hijau di luar ruangan.

Tak lupa, tempat tinggal menggunakan beberapa partisi yang didirikan untuk membentuk ruang tamu yang lebih tertutup. Ruang tamu menjadi volume yang bersisikan dinding hitam dengan langit-langit dan lemari yang terintegrasi untuk menyembunyikan dapur.

Kejelasan brief dari klien menuntun arsitek untuk mengkompilasikan ruang yang akan mengarah ke berbagai tingkatan dan intensitas keintiman. Keintiman yang dimaksud tidak lain saat ada perayaan keluarga hingga sebagai tempat perenunngan intim untuk keluar dari rutinitas yang sibuk.

Rumah dengan konsep hygge bukan satu-satunya karya yang pernah dibuat Studio Four. Karya serupa pernah dibuat Norm Architects, mereka mereferensikan konsep gaya hidup Scandinavia saat menyelesaikan salah satu interior rumah keluarga di Oslo. Rumah tersebut menampilkan sudut-sudut yang nyaman dengan dinding abu-abu berbintik-bintik dan tekstil.

Alhasil, desain tempat tinggal tidak hanya penuh estetika. Namun yang tidak dapat dikesampingkan tempat tinggal menjadi ruang sosialisasi bahkan untuk perenungan diri. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment