Tingkatkan Hubungan Bilateral dengan 5 Rencana Aksi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 13 2020
No Comments
Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Datuk Zainal Abidin Bin Bakar

Tingkatkan Hubungan Bilateral dengan 5 Rencana Aksi

Tingkatkan Hubungan Bilateral dengan 5 Rencana Aksi

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Malaysia dan Indonesia sebagai negara bertetangga serta serumpun selalu dihadapkan pada banyak persoalan seperti hubungan kedua negara yang pasang surut terkait batas wilayah darat, laut, dan udara, masalah pandemi virus Covid-19 atau korona, maupun kejahatan global terorisme, perdagangan narkotika dan manusia (human trafficking).

 

Untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah pemerintah Malaysia menangani penyebaran Covid-19, dan kerja sama dalam memerangi kejahatan global terorisme, perdagangan narkotika, dan manusia, wartawan Koran Jakarta, Aloysius Widiyatmaka, mewawancarai Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Datuk Zainal Abidin Bin Bakar. Berikut petikan wawancara selengkapnya.

Malaysia masuk lima negara terbaik dalam menangani pandemi Covid-19. Apa saja yang dilakukan?

Kementerian Kesihatan Malaysia (KKM) memainkan peran penting dalam memastikan kesiapan maksimum untuk menghentikan penularan virus. Di antara upaya paling awal yang dilakukan oleh KKM untuk mencegah penularan penyakit adalah penegakan pemeriksaan kesehatan di semua titik masuk. Proses penyaringan ketat di semua bandara di Malaysia diberlakukan setelah kasus pertama di luar Tiongkok dilaporkan di Thailand pada 13 Januari 2020.

Langkah kunci berikutnya yang diambil oleh KKM bersama dengan pemerintah untuk mengatasi penularan Covid-19 adalah dengan meningkatkan jumlah rumah sakit yang dapat menangani kasus Covid-19. Harus dipastikan bahwa kapasitas negara untuk menerima dan merawat pesakit (pasien) Covid-19 harus senantiasa berada di tahap optimal.

Untuk mengurangi penularan Covid-19, KKM telah mengambil langkah-langkah agresif dengan bekerja sama erat dengan polisi untuk menemukan kemungkinan pembawa virus, mengidentifikasi mereka, melakukan pengujian, dan memaksakan karantina mandiri selama 14 hari. KKM bersama penyedia layanan kesehatan tertentu menawarkan pengujian swab dan pengumpulan sampel dari individu dan perusahaan di tempat mereka, serta lokasi uji drive-through.

Langkah paling penting adalah usaha pemerintah Malaysia menerapkan Perintah Kawalan Pergerakan (Movement Control Order/ MCO) sejak 18 Maret 2020 sehingga kini. Di bawah MCO, kecuali layanan penting dan strategis buat negara, semua harus ditutup dan rakyat diminta untuk tetap berada di rumah. Hanya seorang wakil dari setiap keluarga bisa untuk keluar bagi membeli bahan makanan dan juga urusan penting yang lain. MCO membatasi perpindahan orang masuk atau keluar dari suatu daerah. MCO atau lockdown versi Malaysia telah berhasil menekan penularan wabah Covid-19.

Dalam kesempatan ini, saya ingin menyebutkan juga peran pihak lain seperti Media dan NGO (Lembaga Sosial Masyarakat/LSM) di Malaysia. Media telah bersama-sama membantu pemerintah Malaysia bagi menyampaikan maklumat yang tepat serta mengimbau masyarakat untuk tetap tinggal di rumah dan menghindari pertemuan massa. Tagar #stayhome telah digunakan secara luas di media dan diharapkan pesan-pesan penting untuk menghentikan penularan Covid-19 dapat menjangkau semua lapisan masyarakat. Pemerintah juga terus memberantas hoaks yang bisa membuatkan rakyat panik dan merasa resah dengan situasi Covid-19.

LSM telah secara aktif membantu mereka yang terkena dampak pandemi ini. Mereka telah menyediakan makanan, tempat tinggal bagi para tunawisma, dan bahkan telah memberikan uang untuk membantu mereka yang membutuhkan. Beberapa LSM telah membantu dengan menyediakan masker pelindung, ruang desinfeksi dan membantu mendidik warga tentang Covid-19. LSM bersama-sama pemerintah Malaysia telah membantu pekerja migran Indonesia yang berada di Malaysia melalui pemberian sembako bagi mengurangi beban mereka yang telah hilang mata pencarian semasa MCO.

Pokoknya, hasil kejayaan kita menangani kasus Covid-19 sehingga pada 1 Juli 2020 lalu, kita telah mencapai nol kasus infeksi lokal, semuanya adalah berkat tanggung jawab kolektif yang ditunjukkan oleh semua pihak di peringkat pemerintah, LSM dan terutamanya masyarakat Malaysia.

Bagaimana disiplin masyarakat Malaysia dalam mengikuti langkah-langkah pemerintah mengatasi Covid-19?

Harus diakui, kesadaran masyarakat Malaysia pada awal penerapan langkah MCO adalah rendah. Ketika diterapkan Perintah Kawalan Pergerakan pada 18 Maret 2020 masih ada individu yang mengabaikan perintah dan berkeliaran di taman, makan di restoran dan tidak mengindahkan instruksi dari polisi untuk membubarkan kerumunan. Hingga terpaksa pemerintah Malaysia mengukuhkan keamanan dengan bantuan tentara pada 22 Maret 2020, dalam mengendalikan pergerakan publik.

Bersama dengan berjalannya waktu, kesadaran untuk disiplin itu telah tumbuh. Hingga walau pun MCO telah dilonggarkan, banyak masyarakat Malaysia yang lebih memilih untuk tinggal di rumah.

Banyak warga Indonesia di Malaysia yang terkena Covid-19. Bagaimana bantuan Malaysia terhadap mereka?

Pemerintah Malaysia tidak pernah membedakan antara warga negara Malaysia atau warga negara asing, termasuk warga Indonesia dalam perawatan Covid-19. Semua pasien yang terinfeksi Covid-19 dirawat di rumah sakit pemerintah dengan biaya sepenuhnya oleh pemerintah Malaysia. Yang sihat (sehat) juga kita terus bantu karena penularan Covid-19 turut memberi dampak negatif kepada tingkat sosio-ekonomi mereka. Di sini juga, kerja sama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur juga amat penting dalam kita sama-sama menjaga kebutuhan mereka.

Adakah kerja sama Malaysia dengan Indonesia dalam menangani Covid-19?

Malaysia dan Indonesia merupakan negara sahabat. Oleh karena itu, kita akan cepat saling membantu di dalam waktu krisis seperti ini. Banyaknya rakyat kita di luar negeri yang terdampar akibat penutupan perbatasan internasional dan maskapai penerbangan yang berhenti beroperasi kerana kebijakan lockdown di seluruh dunia. Ini memberi peluang kepada kedua negara untuk saling membantu bagi mengevakuasi dan merepatriasi rakyat kita dari banyak negara ketiga untuk pulang ke Malaysia dan Indonesia.

Selain itu, pemerintah Indonesia turut membantu Malaysia dalam upaya kita merepatriasi rakyat Malaysia yang terdampar di Indonesia untuk pulang.

Kebanyakan mereka adalah di kalangan wisatawan dan pelajar yang sangat berdampak akibat penghentian operasi penerbangan di antara kedua-dua negara. Pada masa yang sama, Malaysia turut sama membantu merepatriasi rakyat Indonesia dari Malaysia untuk pulang ke pangkuan keluarga masing-masing. Upaya ini kita intensifkan waktu di bulan Ramadan dulu agar mereka bisa merayakan Lebaran bersama-sama orang yang dikasihi.

Malaysia dan Indonesia juga saling mempelajari antara satu sama lain dalam upaya kita menangani Covid-19 secara bersama. Bermula dari usaha pembatasan sosial yang diterapkan dalam masyarakat sehingga bantuan-bantuan ekonomi yang dihulurkan (diberikan) kepada masyarakat selama kebijakan lockdown masih berjalan. Ini semua kita pelajari dan terapkan secara bersama.

Sekarang kita melihat banyak negara di dunia semakin nasionalis dalam usaha mereka menangani Covid-19. Malaysia dan Indonesia harus melihat di sisi lain bagaimana untuk kita terus menerapkan semangat kerja sama dalam semua hal, terutamanya dalam isu Covid-19 ini.
Solidaritas yang terwujud ini adalah hasil hubungan bilateral yang sangat rapat berdasarkan semangat serumpun dan persaudaraan yang erat yang telah wujud berkurun lamanya.

Apa kendala-kendala Malaysia mengatasi Covid-19?

Kebanyakan negara di dunia telah mulai transisi ke arah “new normal” termasuk Malaysia dan Indonesia. Untuk menemukan keseimbangan yang tepat di antara pembukaan awal kegiatan ekonomi dan penanganan Covid-19 secara total adalah amat sulit. Pembukaan ekonomi membutuhkan masyarakat untuk keluar dari rumah dan beraktivitas di pelbagai sektor ekonomi dan risiko gelombang kedua penularan Covid-19 akan terus meningkat sekiranya masyarakat tidak tetap menjaga protokol kesehatan seperti yang telah disarankan.

Bagaimana Bapak melihat hubungan Indonesia dan Malaysia selama ini?

Hubungan diplomatik Malaysia dan Indonesia telah mencapai 63 tahun yang dilakar (digores) penuh warna. Hubungan spesial ini wajib untuk kita jaga dan terus eratkan demi masa depan negara dan anak cucu kita. Stabilitas wilayah Asean banyak bergantung kepada keakraban dan dinamis dalam hubungan bilateral kita. Oleh karena itu, tidak bisa kita membiarkan siapa-siapa pun mengganggu hubungan ini.

Menjadi tanggung jawab kita untuk terus mencari peluang dan ruang untuk kedua-dua negara bekerja sama bagi memastikan kepentingan, keamanan dan kemakmuran bersama kita tetap terjaga. Kemesraan kita ibarat peribahasa cubit paha kanan, paha kiri pun merasa. Begitulah keakraban dua sahabat tetangga, Malaysia dan Indonesia. Maka haruslah kita saling melindungi dan membantu dalam konteks hubungan internasional.

Tidak dapat dipungkiri, meski sebagai tetangga, kedua negara kerap mengalami ketegangan dalam berbagai hal. Bagaimana tanggapan Bapak Duta Besar?


Pasang surut sesuatu hubungan bilateral itu adalah satu hal yang lumrah dalam adat bertetangga. Dengan adanya turun naik dalam hubungan ini, ia akan membuka mata dan minda (pikiran) kita untuk saling mengerti negara sahabat kita. Ini juga akan terus meningkatkan tingkat kepercayaan antara negara dalam pelbagai hal baik di bidang politik, sosial maupun ekonomi. Ini adalah pilar utama jika kedua-dua negara ingin terus mengeratkan hubungan bilateral ini ke tingkat yang lebih strategik agar kita bisa menghadapi pelbagai tantangan global masa kini, terutamanya di waktu pandemi.

Masalah perbatasan juga sangat rawan menimbulkan konflik. Apa pandangan Bapak Duta Besar untuk mengatasinya?


Malaysia dan Indonesia mempunyai cara unik yang tersendiri dalam kita sama-sama menyelesaikan isu perbatasan. Hasil daripada negosiasi dua negara ini, pada tahun 2019 kita telah menyepakati secara prinsip batas laut teritorial di Laut Sulawesi. Sesuatu yang kedua-dua negara coba selesaikan sejak tahun 1970. Untuk batas darat juga, kita berjaya selesaikan empat daripada sembilan outstanding boundary problem pada tahun 2019 yang tertunda tanpa kemajuan sejak 1989.

Saya percaya, apabila kita menemukan sesuatu permasalahan di antara dua negara kita, maka harus kita selesaikan dengan cara kita yang tersendiri melalui jalur damai. Inilah yang saya namakan diplomasi Nusantara. Diplomasi cara kita.

Menurut Bapak Duta Besar, kira-kira apa saja yang harus dilakukan kedua pemerintahan untuk hubungan ke depan yang lebih baik?


Sebaik saya mengambil posisi sebagai Duta Besar Malaysia ke Republik Indonesia pada pertengahan tahun 2019, saya telah memformulasikan beberapa perkara yang saya pikir adalah penting untuk kita laksanakan agar hubungan spesial ini terus mekar dan erat. Dengan itu, saya mengadopsi lima Rencana Aksi (Plan of Action).

Rencana yang pertama adalah mengeratkan hubungan pemimpin kedua negara (Malaysia dan Indonesia). Malaysia dan Indonesia termasuk beruntung karena selama ini memiliki hubungan personal yang cukup baik di pucuk pimpinan negara. Diharapkan hubungan baik ini akan terus berkelanjutan di antara Perdana Menteri Malaysia, Tan Sri Muhyiddin Yassin, dengan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Rencana yang kedua adalah mengintensifkan hubungan kerja di antara pemerintah Indonesia dan Malaysia. Kita perlu meningkatkan kerja sama kedua negara di pelbagai sektor. Selain itu, lapangan kerja yang baru harus kita terokai (jelajahi) bersama demi meningkatkan taraf kehidupan sosial rakyat kedua negara. Ini saya pikir adalah satu platform yang tepat untuk kita bekerja sama dalam menangani penularan Covid-19.

Rencana yang ketiga adalah memantapkan kerja sama militer dan aparat keamanan kedua-dua negara. Dunia kita saat ini menghadapi pelbagai tantangan dan kejahatan global dari terorisme hingga perdagangan narkoba dan manusia. Ini harus kita perangi bersama.

Rencana keempat adalah mendorong hubungan perdagangan dan bisnis, meningkatkan investasi antar-negara serta mengukuhkan kerja sama di dalam sektor ekonomi yang strategis. Dunia sedang menghadapi perang dagang, Malaysia dan Indonesia hendaklah mencari jalan penyelesaian bersama.

Rencana kelima adalah menjaga hubungan di antara 264 juta penduduk Indonesia dan 32 juta penduduk Malaysia. Dengan ini, saya mengharapkan bantuan para insan media, seperti Koran Jakarta, untuk terus mendukung usaha menghumaniskan hubungan rakyat kedua negara. Rakyat merupakan pemelihara hubungan bilateral yang paling penting di antara Malaysia dan Indonesia, terutamanya golongan pemuda milenial yang akan mencorak masa depan kedua-dua negara.

S-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment