Koran Jakarta | October 20 2017
No Comments
Kelompok Militan

Dua Tewas dalam Serangan di Thailand Selatan

Dua Tewas dalam Serangan di Thailand Selatan

Foto : REUTERS/Surapan Boonthanom
Seorang personel militer Thailand sedang memeriksa lokasi serangan oleh kelompok separatis di wilayah Saba Yoi, Provinsi Songkhla, Thailand selatan, Kamis (20/4). Serangkaian 13 serangan oleh kelompok bersenjata terjadi di tiga provinsi Thailand yaitu Narathiwat, Pattani, dan Songkhla, pada Rabu (19/4) yang menewaskan dua orang serta melukai 13 orang.
A   A   A   Pengaturan Font

BANGKOK – Serangkaian serangan bersenjata dan ledakan granat yang terjadi di Thailand selatan sepanjang Rabu (19/4) diwartakan telah menewaskan dua orang serta melukai 13 orang lainnya. Menurut lembaga pemantau konflik pada Kamis (20/4) serangkaian serangan tersebut mencerminkan adanya ketegangan yang amat mendalam dalam upaya mengakhiri kekerasan di Thailand. 

“Tak mustahil akan ada serangan serupa di masa yang akan datang,” kata lembaga pemantau Deep South Watch. 

Wilayah Thailand selatan telah jadi medan peperangan kelompok separatis sejak 2004. Mereka menentang penguasa pusat yang menganut agama Buddha di wilayah yang mayoritas berpenduduk Muslim. Tercatat sudah 6.500 orang harus kehilangan nyawa dalam aksi kekerasan separatis itu. 

Ada 13 serangan yang terjadi di Provinsi Narathiwat, Pattani, dan Songkhla, yang berbatasan dengan Malaysia. Sejauh ini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab dalam aksi serangan tersebut. 

Serangkaian serangan tersebut diduga ada kaitannya dengan penolakan pemerintah Thailand atas kondisi-kondisi yang diajukan satu kelompok utama pemberontak, Barisan Revolusi Nasional (BRN), dalam perundingan damai yang digelar bulan ini. 

“Serangkaian serangan tersebut seakan menunjukkan bahwa BRN mampu melakukan serangan terkoordinasi untuk mendesak tuntutan mereka,” kata ketua Deep South Watch, Srisompob Jitpiromsri. “Kondisi ini merupakan cerminan dari jalannya perundingan damai di masa yang akan datang,” imbuh Srisompob. 

Sementara itu keterangan resmi yang disampaikan pemerintah bahwa serangan itu sengaja mengincar aparat keamanan dan warga sipil untuk menciptakan kekacauan. Keterangan resmi itu sama sekali tak menyebut kelompok BRN. 

Tolak Konstitusi Baru 

Serangan kekerasan yang terjadi Rabu lalu terjadi setelah serangan yang terkoordinasi di wilayah Thailand selatan pada 7 April lalu, selang beberapa jam setelah Raja Thailand, Maha Vajiralongkorn, menandatangani konstitusi baru yang ditujukan untuk mengakhiri pemerintahan militer. 

Isi konstitusi baru menurut kritikan para penentangnya malah akan semakin menancapkan kuku militer dalam pemerintahan di Thailand dan hal itu amat ditentang oleh warga yang mendiami Thailand selatan. 

Perundingan antara pemerintah Thailand dengan sejumlah kelompok pemberontak dimulai pada 2013. Pada Februari lalu, pemerintah militer mengklaim berhasil membuat kesepakatan dengan perwakilan kelompok-kelompok pemberontak yaitu MARA Patani. Sayangnya hanya sejumlah kecil anggota BRN yang tergabung dalam MARA Patani sehingga masih ada kelompok-kelompok pemberontak melakukan aksi tersendiri demi memaksakan tuntutan dalam perundingan damai. Rtr/I-1 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment