Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments
HONF

Dua Dasawarsa untuk Seni dan Teknologi

Dua Dasawarsa untuk Seni dan Teknologi

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Ini adalah tahun penting bagi House of Natural Fiber (HONF) Foundation, lembaga yang 20 tahun lalu dimulai dari komunitas yang berpijak atas nama media baru, kini telah berkembang dengan pesat dan sudah melahirkan berbagai lab kecil dan bermacam kelompok di dalamnya.

Melampaui ekspektasi para pendirinya, HONF berubah menjadi platform untuk sa­ling bertemu dan berbagi, khususnya antara para pemikir, pekerja seni, dan para ilmuwan (scientist).

“Ya, 20 tahun waktu yang cepat ternyata. Ini tahun mengingat kem­bali perjalanan panjang kami, refleksi, dan menghitung ulang visi. Yang jelas tujuan utamanya adalah mendorong masyarakat kita melek sains, dengan mediumnya bisa apa saja, salah satunya seni,” kata salah satu pendiri, direktur, dan karakter utama HONF, Venzha Christ, kepada Koran Jakarta, baru-baru ini di Yogyakarta.

Maret lalu, Venzha baru saja mengi­kuti percobaan hidup di Mars, selama 16 hari diisolasi di sebuah kapal besar pemecah es (ice breaker) milik Jepang, SHIRASE 5002. Ya Venzha adalah satu-satunya orang Indonesia yang mengi­kuti serangkaian percobaan hidup di mars. Maret 2018, ia telah melakukan­nya di Utah, AS.

Venzha mengatakan, keterlibatan dirinya dan HONF dalam proyek per­cobaan di Mars adalah hasil perkem­bangan komunitas pada 2011-2014. Tahun itu bermunculan banyak proyek sains kolaboratif di mana salah satunya v.u.f.o.c bersama beberapa lembaga dan institusi bidang Space Science juga mencanangkan untuk membuat plat­form baru bernama ISSS - Indonesia Space Science Society.

“Ini tahun yang bergairah. Kami juga bikin Transformaking, event sains dan kearifan lokal yang menghadirkan peserta internasional dan daerah kum­pul jadi satu,” katanya.

Pada era ini juga muncul beberapa generasi yang lebih muda untuk mem­buat kelanjutan dari eksplorasi Bio Material, dibukanya kelas-kelas Bio-Art, perjalanan riset ke beberapa industri, serta munculnya project-project baru lanjutan Citizen Class, XXLab, SOYA C[O]U[L]TURE, A.P.L, CELLSKitchen, dan C6H12O6+6O2. Minimal 5 peng­hargaan dan awards Internasional yang diterima HONF Foundation selama era ini, dan satu penghargaan dari pemerin­tah daerah dan pusat di era setelahnya.

Pada 2016, ISSS diresmikan sebagai institusi, dan memproduksi konferensi internasional di bidang Space Science dan Space Exploration (SSSE), bernama SETI - Search for Extra-Terrestrial Intel­ligence, yang pertama di Asia Tenggara. SETI Festival ini juga diselenggarakan setiap tahun sejak 2016. Hingga saat ini, ISSS sudah melakukan riset dan penelitian kurang lebih di 40 institusi, lembaga, serta universitas di bidang SSSE dari seluruh dunia. Scientist dan Astronom penting Indonesia yang men-support lembaga ini adalah Ilham A Habibie, Premana W Premadi, dan Gunawan Admiranto.  YK/R-1

Mengikis Gap Laboratorium dan Pekerja Seni

Ide dibentuknya HONF diinisiasi beberapa lulusan ISI - Institut Seni Indonesia pada mulanya. Mereka berasal dari fakultas Seni Rupa dan Disain era 90-an, yang mencoba untuk membuat dunia seni dan area teknologi pada saat itu bisa mempunyai energi yang sama serta bisa saling berkolaborasi.

Tidak banyak persona atau kelompok pada saat itu yang men­gambil ranah seni dan teknologi ini sebagai pijakan untuk berimajinasi serta berkarya. Di sisi lain juga terdapat adanya gap yang lebar antara para scientist yang hidup dan berpikir di dalam lab mereka masing-masing dengan para pe­kerja kreatif dan pekerja seni pada umumnya. Inilah gagasan awal yang kemudian mencoba untuk dibedah dan ditawarkan pada publik secara luas oleh HONF, yang saat itu para pendirinya tergila-gila dengan inovasi dan perkembangan teknologi yang ada.

Pada Desember 1999, HONF menjalankan aktivitas perta­manya yakni membuat rangkaian workshop dan lokakarya untuk anak-anak SD dan SMP. Kegiatan ini fokus pada pengenalan pera­latan dan penalaran pada banyak seni terap seperti fotografi, video, teater, multimedia dan lain lain. Dari kelas-kelas tersebut kemu­dian membuat versi DIY dengan menggunakan bahan serta pera­latan yang sederhana dan mudah didapat.

Platform EFP - Education Focus Program pertama kali diterap­kan pada era ini. Dua tahun awal adalah masa perkenalan dan inkubasi bagi HONF untuk mulai merajut network yang ada di dalam negeri. Nama-nama yang turut men-support dan mendirikan HONF pada awal terbentuknya adalah Venzha Christ, Tommy Surya, Irene Agrivina, A Sudjud Dartanto, dan Istasius.

Pada 2001, HONF mulai men­gajak lembaga dan/atau insti­tusi penting yang sarat birokrasi dan aturan pada saat itu untuk berkolaborasi dengan ide-ide yang mereka paparkan. Diantaranya beberapa rumah sakit, lembaga penelitian, Laboratorium Biologi, serta Laboratorium Instrumentasi yang ada di sejumlah universitas.

Di era ini muncul nama-nama dan judul project yang dikerjakan dalam durasi panjang seperti ElectrophonicAnalog, Intelligence Bacteria, Garden Of The Blind, ICU in ma mind, the house of natural fiber, StudioSoragan, Yogyakarta­MediaLab, dan lain lain.

Menyebut seni dan teknologi di Indonesia, tak bisa tak meny­ertakan HONF. Atas dedikasinya pada seni dan teknologi, Pemda DIY, memberikan penghargaan Kreator Pelopor Pencipta Karya Budaya kepada Venzha Christ pada Desember tahun lalu.  YK/R-1

Agenda 2019

Sepanjang 2019 dalam rangka 20 tahun HONF, ada puluhan agenda yang telah dikerjakan mulai April hingga Desem­ber. Pop Up Lab, Transformaking festival bagi para makers, Cellsbutton media art festival, HONF Record untuk musik eksperimental dan dokumentasi, UFO Festival bersama BETA UFO Indonesia pada Mei, dan SETI pada Juli yang menghadirkan Direktur SETI AS dan pakar-pakar astronomi dari berbagai negara termasuk dari LIPI, ITB, dan UGM.

Venzha meminta untuk menyebutkan lengkap semua yang terlibat dalam rangkaian acara 20 tahun HONF di antaranya, Langga Jasuma, Galih, Dwiky KA, Bayu bawono, Ab­dillah F Noor, UpinMelo, Yudhistira, Sagitha Happy A, Gama, Ito, Dadan Geets, Ana S Putri, Chrisna Fernand, Eko, Ipo Hadi, Agus Pengkit, Rasyid, Anggito Rahman, Eka J Ayuningtyas, Ratna Djuwita, Haryono, Lyana Fuad, Argha Mahendra, Ichan Harem, Reza Wardhana, Yudhis Purwa Anugrah, Irene Agrivina, Haryo Hutomo, A Sudjud Dartanto, Dhoni Yudhanto, Nur Agustinus, dan Yudianto Asmoro.

“Kami tak bisa tanpa pribadi-pribadi itu. Penghormatan terbesar untuk mereka, We Are HONF, We Are Done,” kata Venzha.

Ke depan, Venzha mengatakan, HONF akan diisi para penerus berusia lebih muda sebagai wujud proses regenerasi. “Mereka akan menghadirkan banyak proyek baru seperti, X-PLORE, Spacial, Atlas Of The Dead, UFO-LOGIC, Evolution of The Unknown, (under)standing:(micro)cosmos+(macro)cos­mos, DIY Radio Astronomy, Circular Material, C6H12O6+O2, Microbial Dress, dan lain lain,” pungkas Venzha.  YK/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment