Koran Jakarta | July 22 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi - Pertumbuhan Kuartal I-2019 Belum Beranjak dari Level 5 Persen

Dorong Manufaktur untuk Ciptakan Pertumbuhan Tinggi

Dorong Manufaktur untuk Ciptakan Pertumbuhan Tinggi

Foto : ANTARA/M Agung Rajasa
A   A   A   Pengaturan Font
>> Defisit neraca perdagangan masih mereduksi pertumbuhan ekonomi.

>> Industri manufaktur membaik, RI dapat keluar dari middle income trap.



 

 

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2019 dinilai belum mampu beranjak meninggalkan level lima persen. Sebab, sejumlah faktor pendukung pertumbuhan, seperti konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah, belum berubah secara signifikan. Selain itu, ancaman defisit perdagangan juga belum mereda sehingga akan mereduksi pertumbuhan ekonomi dalam tiga bulan pertama tahun ini.

Sebelumnya, Asian Development Bank (ADB) menyatakan pengembangan industri manufaktur merupakan kunci penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tanpa perbaikan dan pengembangan sektor manufaktur, sulit bagi Indonesia mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi pada periode 2020–2024.

Ekonom Indef Achmad, Heri Firdaus, mengemukakan tidak terlalu optimistis dengan kinerja ekonomi kuartal pertama tahun ini, karena sejumlah indikator penting pertumbuhan tidak banyak berkembang dibandingkan periode yang sama tahun lalu. “Artinya, kita masih business as usual. Masih belum ada perubahan,” jelas dia, dia Jakarta, Selasa (9/4).

Heri menilai pesta demokrasi tahun ini tidak banyak berpengaruh terhadap perilaku konsumsi masyarakat. Konsumsi rumah tangga, misalnya, meski tetap tumbuh tapi tidak banyak. “Pertumbuhannya masih biasa-biasa saja, sekitar 5,1 persen atau 5,05 persen,” ungkap dia. Kemudian, imbuh Heri, defisit neraca perdagangan pada Februari lalu juga akan mengganjal pertumbuhan.

Meskipun pada Maret 2019, ekspor surplus tapi belum bisa mengompensasi defisit neracanya. Sementara itu, Center of Reform on Economics (CORE) memproyeksikan pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 menjadi salah satu faktor yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2019 bakal mencapai lima persen.

“Menjelang pemilu, konsumsi rumah tangga cukup baik sehingga menopang perekonomian nasional kuartal pertama tahun ini mencapai lima persen,” ujar Direktur Eksekutif CORE, Mohammad Faisal, Selasa. Dia memprediksi konsumsi rumah tangga yang selama ini diandalkan sebagai kontributor utama perekonomian nasional, akan memberikan andil sebesar 58 persen sekaligus menahan dampak negatif akibat perlambatan ekonomi global.

“Konsumsi masyarakat itu cukup membantu dalam meredam guncangan eksternal. Namun, untuk jangka menengah dan panjang pertumbuhan ekonomi juga harus ditopang sektor lainnya, seperti industri manufaktur agar mencapai tujuh persen,” tutur Faisal.

Menurut dia, untuk mencapai target itu pemerintah harus mampu membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas. Tingkat pengangguran terbuka memang menunjukkan kecenderungan menurun dalam beberapa tahun terakhir, hingga mencapai 5,34 persen pada 2018. “Industri manufaktur memiliki daya penyerapan tenaga kerja yang besar. Namun, pertumbuhan industri itu belum terlalu baik,” ungkap Faisal.

Apabila industri manufaktur membaik, dia meyakini Indonesia dapat keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap pada 2030.

 

Minim Industri Besar

 

Dalam laporan “Asia Development Outlook 2019”, pekan lalu, ADB menilai hambatan transformasi sektor manufaktur Indonesia terletak pada minimnya industri skala besar yang masuk ke sektor manufaktur. ADB menemukan justru 99 persen perusahaan manufaktur di Tanah Air didominasi skala usaha mikro dan kecil.

Padahal, usaha manufaktur skala mikro dan kecil umumnya memiliki produktivitas rendah dan kurang mampu mengadopsi kemajuan teknologi. Itulah sebabnya, mengapa industri manufaktur Indonesia masih minim dalam memanfaatkan teknologi digital seperti komputasi awan (cloud computing), big data, kecerdasan artifisial (AI), machine learning, dan internet of things (ToT).

Padahal, ADB menyatakan teknologi tersebut memungkinkan industri manufaktur lainnya di negara-negara lain menyederhanakan alur logistik, mengembangkan produk baru, dan menumbuhkan skala perusahaan mereka.

Makanya, tidak mengherankan jika Economist Intelligence Unit untuk periode 2018–2022 menempatkan Indonesia pada peringkat teknologi hampir terbawah, yaitu ke-67, di antara negara Asia lainnya. Ini menunjukkan rendahnya kesiapan teknologi, masih terbatasnya akses internet, serta rendahnya kualitas layanan digital di Indonesia. 

 

ahm/Ant/YK/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment