Koran Jakarta | March 24 2019
No Comments

Doa Nasional

Doa Nasional

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Sakitnya Ibu Ani Yudhoyono disampaikan sendiri oleh Presiden RI ke-6, Bapak Susilo Bam­bang Yudjoyono, suaminya, ketika menemani berobat di Singapura. Dalam nada penuh emosi namun terkuasai, diutara­kan melalui pers konperensi.

“Saat ini saya sedang berada di Singapura, mendampingi Ibu Ani dalam mengatasi pengobatan dan perawatan.” Dijelaskan pula bahwa Ibu Ani menderita blood cancer, kanker darah. Angin keprihati­nan berembus menguat melalui medsos, yang sebelumnya masih dugaan dan perkiraan mengenai penyakit Ibu Ani.

Serentak dengan itu yang terus bersambut adalah keprihatinan bersama, doa bersama agar Ibu Ani segera disembuhkan penyakitnya, dan keluarga diberi ketabahan. Atau dengan tema dasar yang sama, yang biasanya memenuhi ruang di WA.

Seramai kalau ada yang ulang tahun, semua anggota saling mengucapkan, saling berbalas terima kasih. Namun kali ini beda. Ajakan berdoa bersama justru terasa menyentuh, ajakan damai yang menenteramkan.

Berbeda jauh dengan ajakan yang bersifat agitatoris, atau ajakan keras lainnya. Saya terbawa rasa damai, tulus, dan kebersamaan dalam harap yang sama kepada Sang Maha Kasih, Sang Segalanya, di mana umat manusia hanya bisa berserah. Pasrah—walau bukan menyerah.

Episode “Doa Nasional” untuk kesembuhan Ibu Ani mempunyai arti penting. Pertama: manakala media sosial terus mengobarkan “kebakaran” dengan kebencian, kecurigaan, kini berhembus kesejukan bersama, dan bisa terasakan aksi dan reaksi.

Kalau masih ada yang sempat bernyinyir sinis soal bantuan tenaga kedokteran yang dikirim, segera tertiup dalam kekhusyukan doa bersama. Untuk sementara yang “receh ngajak berantem”, tak berhasil memancing jawaban atau reaksi. Sekali ini ini suatu keadaan, penyampaian kepada keadaan, di mana ada saat teduh, sejuk menjadi prioritas bersama.

Kedua: masyarakat kita se­bagian besar sadar bahayanya CA—sebutan untuk kanker, karena dalam keluarga besarnya ada yang terkena, dan banyak yang kembali pulih. Dalam hal ini mengajarkan bahwa bukan hanya pasien saja yang sakit melainkan juga yang dekat dengannya.

Maka kebersamaan menjadi penting, seperti disampaikan Humas BNPB,yang dalam perawatan dan masih memakai infus, Sutopo Nugroho, mendoakan dan berb­agai pengalaman sebagai penyintas. Kini dalam per­awatan kemo ke-8 di RSPAD Jakarta menganjurkan apa yang dilakukan: menghindari makanan berpengawet atau yang dibakar, perbanyak buah dan sayur. Dan yang penting berpikir positif.

Yang terakhir inilah yang terus tergemakan, baik secara langsung tersuarakan maupun yang ter­panjatkan. Tulisan ini ingin dalam bagian itu: bagian turut berdoa, bagian turut mengembangkan pikiran positif.

Yang terakhir ini mudah dikatakan, namun tak mu­dah dilakukan. Ketika perasaan tak mau menerima kenyataan, atau tak menemukan sebab akibat penya­kitnya. Ibu Ani dalam kondisi itu, sekaligus memberi semangat dan pikiran positif, untuk pasien-pasien yang lain.

Inilah yang saya anggap oase indah, episode yang lembut me­nyentuhi kesadaraan akan kebersa­maan kita bersama. Yang membuat merasa sejuk, aman, dan tidak sendirian. Kita selalu menemu­kan sesama dalam berdoa, dalam semangat.

Doa Nasional itu membisikkan: doa kesembuhan buat Ibu Ani Yud­hoyono dan ketabahan keluarga besar, yang akhirnya memberi semangat kepada keluarga dan pasien lain.

Berpikir positif.

Semangat.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment