Koran Jakarta | December 19 2018
No Comments

Djoko Harjanto

Djoko Harjanto

Foto : koran jakarta/wachyu ap
A   A   A   Pengaturan Font
Pemerintah Indonesia mendukung penyelesaian konflik di Suriah secara politis dan damai. Dengan cepat terselesaikannya konflik di negara tersebut maka aneka hubungan kerja sama antara Indonesia dan Suriah yang selama ini sudah dijalin dapat ditingkatkan sehingga menguntungkan masyarakat di kedua negara tersebut.

 

Meski di beberapa wilayah Suriah masih sering terdengar rentetan tembakan dan ledakan mortir akibat dari perang, para pengusaha di Suriah tetap menjalankan bisnis mereka.

Terbukti, sejumlah pengusaha Suriah dengan antusias datang ke Indonesia untuk menjajaki kemungkinan kerja sama perdagangan dengan pengusaha Indonesia.


Untuk mengetahui apa saja yang telah dan akan dikerjakan oleh jajaran Kedutaan Besar Indonesia untuk Suriah, wartawan Koran Jakarta, Eko Nugroho, berkesempatan mewawancarai Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Arab Suriah, Djoko Harjanto, di Jakarta, Kamis (1/11). Berikut petikan selengkapnya.


Apakah pemicu perang di Suriah sehingga terjadi seperti saat ini?

Sebelum menjawab itu, saya jelaskan bahwa saya datang ke Indonesia mengantar para pengusaha Suriah ikut pameran di Jakarta. Ada 60 pengusaha. Sewaktu Asian Games sudah ada 100 atlet Suriah yang datang ke Indonesia.


Saya sampaikan fakta bahwa konflik di Suriah merupakan gelombang dari Arab Spring. Kemudian ada demonstrasi-demonstrasi, ada teriak reformasi, katanya demonstrasi damai, tapi akhirnya terjadi konflik pada Maret 2011.

Kemudian pihak oposisi mendapat senjata, bertebaran ke mana-mana. Berkobar begitu kuatnya para pemberontak yang namanya Syria Free Army. Pada 2013, muncul Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).


Hingga pada akhir 2014, ISIS sudah ada konflik luar biasa. Tugas utama saya sebagai duta besar untuk melindungi TKI, mahasiswa, dan staf kedutaan.

Ketika 2015, saya masuk Aleppo, bukan karena berani, tapi untuk melindungi rakyat Indonesia di sana. Banyak TKI yang butuh perlindungan. Tidak semenit pun berhenti bunyi mortir, senapan, AK 47, bahkan bom.


Oposisi banyak kekuatan dan mendapat dukungan dari Amerika, Israel, negara-negara Uni Eropa. Gubernur Aleppo mengatakan wilayah pemerintah hanya tinggal 20 persen dan sisanya dikuasai oposisi.

Sampai kemudian pemerintah Suriah sedikit demi sedikit bisa merebut kembali wilayahnya setelah mengundang Russia dan Iran untuk membantu penyelesaian konflik.

Bagaimana agar konflik di Suriah, tidak terjadi di Indonesia?


Saya sebagai orang Indonesia optimistis di sini tidak akan terjadi konflik seperti di Suriah. Organisasi Islam yang besar, seperti NU dan Muhammadiyah, tidak mengajarkan radikalisme dan tidak mengajarkan pendeknya ekstremisme.

Orang Suriah (warga Suriah) yang ke sini mengagumi Indonesia, mengapa orang Indonesia malah mengagumi Suriah yang perang?


Nah, perang saudara tidak pernah berakhir. Pendeknya, konflik tidak pernah baik. Oleh sebab itu, pada seminar hari ini sangat membanggakan. Saya lebih banyak memberikan waktu pada orang Suriah (pembicara dari Suriah) kita paham mengenai Suriah.

Karena itu jangan men-Suriah-kan Indonesia. Ini hanya sekadar judul agar yang hadir memahami bahwa Indonesia tidak sama seperti Suriah.


Untuk saat ini, perkembangan di negara Suriah seperti apa?


Sekarang perkembangannya mendekati selesai perangnya. Jadi ISIS sudah terpojok. ISIS itu sebetulnya buatan pihak tertentu yang nyatanya sekarang ini tidak didukung lagi negara yang membiayainya, akan tetapi masih banyak persoalan mengenai solusi politik.


Artinya, penyelesaian damai mengalami persoalan karena perang zaman terorisme itu era perang yang kacau. Zaman teroris, semua diserang.

Masjid, rumah sakit, gereja diserang. Kemudian, masalahnya lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan lain sebagainya tidak rukun.


Seperti apa skema penyelesaian perang di Suriah dan targetnya kapan?


Skemanya kalau negara-negara lain itu menghentikan dukungannya pada pemberontak dan kemudian tokohnya rekonsiliasi. Tokohnya sudah mengatakan rekonsiliasi sudah terjadi.

Yang tadinya berontak kemudian bersatu mendukung pemerintah. Itu artinya rukun. Itu yang akan dituju. Di Suriah itu murah ekonominya.

Mahasiswa kita kerasan di sana karena murah. Jangan mempolitisir masalah di Suriah untuk membenarkan kita berantem. Itu yang harus dihindari.


Apakah Anda melihat ada tanda-tanda Indonesia akan seperti Suriah?


Ya, demo-demo itu asalkan masih damai, kan masih biasa. Itu menunjukkan negara demokrasi. Namun, kalau sudah angkat senjata dan ada yang membiayai negara asing, itu baru ada tanda-tandanya.

Saya sampaikan kepada orang-orang Suriah, kalau hari-hari ini di Indonesia juga ada demo, tidak terjadi apa-apa. Itu bagian dari demokrasi.


Kalau ada demonstrasi yang menjurus ke isu agama bagaimana?


Agama jangan dipolitisir. Agama untuk agama. Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah, Syeikh Dr M Adnan al-Afyouni, yang menjadi pembicara diskusi dengan tema Jangan Suriahkan Indonesia, mengatakan negara nomor satu karena yang memayungi kita.

Negara memiliki supra struktur seperti adanya angkatan (perang) dan senjata. Itu yang punya pemerintah. Kalau melawan pemerintah, ceritanya agak lain, agak aneh, apalagi sampai angkat senjata.


Jadi, konflik di Suriah masih jauh untuk terjadi di Indonesia?


Masih jauh, yakin saja. Saya tetap opimistis bahwa Indonesia bisa mengawal ini dan rakyat Indonesia masih bisa diatur. Pendidikan (rakyat Indonesia) masih lebih, tinggi tapi kadang-kadang ini lho media sosial, seperti WhatsApp.

Staf saya pun kalau awalnya (menggunakan) WhatsApp untuk kerukunan, tapi malah berantem maka saya bilang tutup (tidak usah main WhatsApp) supaya tidak berantem.


Anda ke Indonesia membawa para pengusaha Suriah untuk bertemu pengusaha Indonesia. Apa hasil dari pertemuan itu?


Kalau ditanya hasilnya, yang saya ketahui mereka tertarik membeli buah mete, cashew coconut.

Mereka akan membeli tiap bulan dua kontainer. Untuk pertemuan dari kedua pengusaha tersebut karena itu kita lihat dulu, apa yang sudah siap dari penjual dan pembeli. Yang jelas pembeli telah siap karena yang bawa saya sendiri.


Mereka (para pengusaha asal Suriah) tertarik juga dengan alat-alat, seperti ban mobil, ban Gajah Tunggal sangat terkenal.

Tahun kemarin (pengusaha Suriah) sudah membawa uang cash banyak, tapi Gajah Tunggal yang tidak mau menjual karena diembargo. Jadi takut mungkin akibatnya.


Di Dubai sudah ada agen tunggal. Jadi, kalau ada agen tunggalnya dan ada lagi agen, susah, tidak mau jual.

Mereka juga tertarik dengan kosmetik, plastik. Jadi singkatnya, meskipun perang, masih ada perdagangan. Ada kayu manis juga sudah ada satu atau dua kontainer.


Jadi, Anda optimistis ke depan hubungan antara Suriah dan Indonesia akan lebih baik di bidang perdagangan?


Saya yakin ke depan akan lebih baik. Yang pertama bisa membawa 50 orang pengusaha Suriah. Sekarang perang sudah mau berakhir. Sampai sekarang sudah dapat dipulangkan sekitar 13 ribu orang TKI, sejak perang. Pada waktu Asian Games ada 100 atlet Suriah ke sini. Jadi, hubungan dengan Suriah sudah tidak ada persoalan.


Apakah sudah ada kerja sama antara Indonesia dan Suriah untuk mengantisipasi teroris?


Saya yakin sudah ada di tingkat intelijen. Beberapa waktu lalu kan ada keluarga bersama anak-anaknya yang ditangkap di dekat Aleppo, dekat Raqqa. Namun, saya tidak bisa mengunjungi mereka karena bisa diusir atau dipersona-non-gratakan.

Kedua, kalau saya datang ke tempat konflik, berarti sama saja seperti lele marani sunduk. Ketiga, kalau saya tetap ke sana, saya akan jadi target. Karena itu saya hanya bisa memonitor.


Sebetulnya, berapa jumlah warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS?


Saya tidak bisa berikan angkanya. Yang bisa memberikan datanya itu aparat kepolisian dan Badan Intelijen Negara (BIN). Yang masuk ke sana sebagai jihad pun saya tidak tahu berapa jumlahnya.


Warga negara Indonesia yang masuk ke wilayah ISIS, apakah setelah kembali ke Indonesia menjalani proses deradikalisasi agar tidak terpapar paham ISIS?


Ya, tapi yang kemarin kan ngaku ketipu ketika di sana (dijanjikan) akan dibayar sekian ribu euro, ternyata tidak. Berarti dia ngaku setelah ke sana, meskipun ketipu sebelum berangkat perang ke sana. Sekarang, ISIS yang di Aleppo sudah kalah.

Saya hanya bisa berdoa supaya perang selesai karena itu tidak ada gunanya. Semuanya hancur. Gedung-gedung semuanya hancur di Aleppo.


Dari pengamatan Anda, kapan perang di Suriah akan selesai?


Saya belum dapat memperkirakan dengan pasti waktunya kapan perang selesai. Pemerintah Suriah sudah menguasai 90 persen wilayah Suriah, sudah menguasai medan. Kalau tidak dibantu negara lain, akan kolap.


Indonesia akan memasuki tahun politik pada 2019. Apa saran Anda agar tidak terjadi konflik akibat tahun politik?


Memasuki tahun politik, sebagai warga negara biasa, saya akan ikut pemilu. WNI di Suriah saya sarankan memanfaatkan pesta demokrasi dan agenda konstitusi denganbaik-sebaiknya.

Memilih pilihannya dan di sana tidak ada panas-panasan wong karena rakyat di sana, tidak banyak, tidak sampai seratus orang.


Tentang kejadian bendera Tauhid dibakar?


Saya tidak begitu mengikuti. Saya ke sini untuk membawa pengusaha Suriah ke Indonesia. Tujuan saya mengantar pengusaha dan saya diundang ke sini, ke acara seminar, dan alhamdulilah saya bisa hadir karena belum pulang ke Suriah.


Bagaimana pendapat Anda soal demonstrasi yang mempersoalkan kejadian pembakaran bendera Tauhid?


Sudahlah, pokoknya dibicarakan yang baik. Untuk kasus bakar bendera, kalau yang dibakar bendera negara, tentu yang membela adalah warga negaranya.

Namun, kalau yang dibakar bendera lain, diserahkan ke pemilik bendera. Kalau misalnya yang dibakar bendera partai maka pembela partai yang akan membela. Namun, kalau partainya sudah dibubarkan, itu yang repot.


Saya tidak mau berspekulasi. Moralitas bangsa yang sudah merdeka, persatuan kesatuan sudah teruji. Banyak negara, terutama Suriah, menghargai Indonesia.

Permusuhan di sana itu permusuhan politik, tidak ada (permusuhan) agama. Silakan datang ke Suriah, tapi karena pemerintah masih mengumumkan travel warning ya, belum bisa. Saya yakin ke depan akan aman karena orang Suriah sudah banyak ke sini dan orang Indonesia ke Suriah.


Berapa pemilih di Suriah?


Kalau yang sekarang sekitar 100 orang. Namun, kalau TKI bisa ribuan. Namun itu sulit mendatanya, apalagi yang masuk lewat traffiking. Katanya bekerja di Saudi atau Jordania, tapi malah dilempar ke negara konflik.

Dasarnya tidak mau bekerja, lalu dua tiga hari lari ke Kedubes. Lalu, pihak Kedubes yang memulangkan. Ada sekitar seratus orang yang berhak ikut pemilu. N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment