Koran Jakarta | April 22 2019
No Comments
Kasus Suap - Direktur Teknologi dan Produksi Jadi Tersangka

Dirut Krakatau Steel Akan Kooperatif

Dirut Krakatau Steel Akan Kooperatif

Foto : KORAN JAKARTA/M FACHRI
BARANG BUKTI - Penyidik didampingi Wakil Ketua KPK Saut Situmoang (kanan) menunjukkan barang bukti uang suap senilai 20 juta rupiah dan Buku Tabungan, yang melibatkan Direktur Produksi dan Teknologi PT Krakatau Steel Wisnu Kuncoro, saat menggelar konferensi pers, di Jakarta, Sabtu (23/3).
A   A   A   Pengaturan Font
Direktur Utama PT Krakatau Steel (KS), Silmy Karim, berharap kejadian ini menjadi titik balik bagi KS agar bisa menjadi lebih baik.

 

JAKARTA – Direktur Uta­ma (Dirut) PT Krakatau Steel (Persero), Silmy Karim, mengatakan pihaknya akan ko­operatif membantu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap dan menuntas­kan kasus dugaan suap yang melibatkan Direktur Teknologi dan Produksi PT Krakatau Steel, Wisnu Kuncoro. Silmy ingin kasus ini cepat selesai.

“Kita akan transparan. Kami akan kooperatif mendukung apa pun yang dilakukan KPK,” kata Silmy, di Jakarta, Minggu (24/3).

Jumat (22/3), KPK melaku­kan operasi tangkap tangan (OTT) dan mengamankan enam orang di Jakarta, Tangerang Selatan, dan Banten dalam kasus dugaan suap ter­kait pengadaan barang dan jasa di PT Krakatau Steel tahun 2019. Keenam orang tersebut yakni, Wisnu; General Manager Blast Furnice PT KS, Hernanto (HTO); General Manager Cen­tral Maintenance dan Facili­ties PT KS, Heri Susanto (HES); dua Swasta, Alexander Mustika (AMU) dan Kenneth Sutardja (KSU); serta supir Hernanto.

Dalam perkara ini, KPK menetapkan Wisnu menjadi tersangka penerima suap bersama Alexander Muskita ter­kait proyek di perusahaannya. KPK menyebut proyek itu ber­nilai 2,4 miliar rupiah dan 24 miliar rupiah.

KPK menyangka Wisnu dan Alexander menerima komit­men imbalan sebanyak 10 persen dari total nilai proyek dari Kenneth Sutardja dari PT Grand Kartech (GK) dan Kur­niawan Eddy Tjokro alias Yudi Tjokro dari Group Tjokro (GT) selaku kontraktor.

Diduga, Alexander bertin­dak mewakili Wisnu dan me­minta uang sebesar 50 juta rupiah kepada PT GK dan 100 juta rupiah kepada Kurniawan dari GT. Selanjutnya, Alexan­der menerima uang sebesar 4 ribu dolar Amerika Serikat dan 45 juta rupiah dari Kenneth. Lalu, 20 juta rupiah diserahkan oleh Alexander ke Wisnu.

Silmy berharap kejadian ini menjadi titik balik bagi Krakatau Steel agar bisa men­jadi perusahaan yang lebih baik. “Saya berdiskusi dengan rekan-rekan, tidak hanya di jajaran, tapi juga di jajaran manajemen, untuk menjadikan ini titik di mana untuk melaku­kan percepatan pembenahan,” kata dia.

Gaji Besar

Silmy menjelaskan gaji be­sar yang diterima, tidak menu­tup kemungkinan seseorang yang menjabat di jajaran di­reksi pada PT Krakatau Steel (Persero) melakukan tindak pidana korupsi, salah satunya terima suap.

“Saya pikir sudah banyak kasus di mana faktor gaji tidak menjadi dasar atau linier ter­hadap satu kejadian yang me­langgar hukum,” kata Silmy.

Silmy sangat menyayangkan kasus yang melibatkan anggot­anya tersebut. Namun, ia akan berusaha untuk memperbaiki hal-hal yang kurang baik di PT Krakatau Steel (Persero).

Saat dikonfirmasi, apakah kasus ini menghambat taha­pan produksi di PT Krakatau Steel, Silmy mengatakan tidak. Silmy menegaskan pihaknya sudah mengantisipasi lang­kah-langkah yang akan ditem­puh selanjutnya. ola/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment