Dirilis, Perangkat Baru Peredam Infeksi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 10 2019
No Comments

Dirilis, Perangkat Baru Peredam Infeksi

Dirilis, Perangkat Baru Peredam Infeksi

Foto : istimewa
Biosensor Microneedle mampu mendeteksi tingkat antibiotik pasien secara akurat.
A   A   A   Pengaturan Font
Para ilmuwan berhasil menggunakan biosensor microneedle untuk dimanfaatkan dunia medis. Perangkat ini mampu mendeteksi secara akurat perubahan kadar antibiotik dalam tubuh.

 

Dalam evaluasi klinis skala kecil, para peneliti di Imperial College London untuk pertama kalinya berhasil menunjukkan bagaimana biosensor mikroneedle dapat digu­nakan untuk memantau perubahan konsentrasi antibiotik. Microneedle adalah metode perawatan yang menggunakan jarum sangat kecil untuk meihat luka mikro pada kulit.

Temuan mereka ini diterbitkan di The Lancet Digital Health. Teknologi ini menunjukkan teknik bahwa sen­sor ini memungkinkan memantau secara real time setiap perubahan konsentrasi antibiotik yang ada da­lam tubuh. Hasil yang sama dengan hasil yang diperoleh dari tes darah.

Tim percaya bahwa teknologi itu dapat mengubah cara pasien untuk sembuh. Yakni setelah mendapat infeksi serius dan dirawat. Biosensor ini dapat menunjukkan seberapa cepat tubuh mereka ‘menghabis­kan’ obat yang diberikan kepada mereka.

Para peneliti menambahkan bahwa jika pengembangan dan pengujian di masa depan terbukti berhasil. Teknologi ini dapat mem­bantu untuk memotong biaya untuk NHS, mengurangi infeksi yang resistan terhadap obat dan menin­gkatkan pengobatan untuk pasien dengan infeksi yang mengancam jiwa.

Mereka menambahkan bahwa biosensor dapat mengurangi kebu­tuhan untuk pengambilan sampel darah dan analisis yang perlu waktu, serta menawarkan metode pengiriman obat yang lebih efisien dan lebih personal seperti pada pasien rawat jalan.

Dr Timothy Rawson, dari Depar­temen Penyakit Menular Impe­rial yang memimpin penelitian, mengatakan Biosensor Microneedle ini memiliki potensi besar untuk memantau dan merawat pasien yang paling sakit.

“Ketika pasien di rumah sakit dirawat karena infeksi bakteri parah, satu-satunya cara yang kita miliki adalah melihat apakah antibiotik yang kita berikan berfungsi. Lalu menunggu dan melihat bagaimana meresponnya, dan mengambil sam­pel darah yang sering untuk men­ganalisis kadar obat dalam sistem mereka - tetapi ini bisa memakan waktu,” kata Rawson.

“Biosensor kami dapat mem­bantu mengubahnya. Dengan menggunakan patch sederhana pada kulit lengan, atau berpotensi di lokasi infeksi, ia dapat memberi tahu kami berapa banyak obat yang digunakan oleh tubuh dan memberi kami perawatan medis yang vital. informasi, secara real time,” Rawson menambahkan.

Biosensor Microneedle meng­gunakan serangkaian ‘gigi’ mikros­kopis untuk menembus kulit dan mendeteksi perubahan cairan antar sel. Gigi-gigi ini bertindak seba­gai elektroda untuk mendeteksi perubahan pH dan dapat dilapisi dengan enzim yang bereaksi den­gan pilihan obat, mengubah pH lokal dari jaringan di sekitarnya jika ada obat.

Teknologi ini telah digunakan untuk memantau gula darah secara terus-menerus. Tetapi tim Imperial, untuk pertama kalinya menunjuk­kan potensi lainnya untuk meman­tau perubahan konsentrasi obat.

Dalam uji coba kecil, tim Impe­rial menguji coba sensor pada 10 pasien sehat yang diberi dosis penisilin. Patch sensor (1,5 cm persegi) ditempatkan di lengan mereka dan terhubung ke monitor, dengan pengukuran yang sering dilakukan. Hitungannya mulai 30 menit sebelum menerima penisilin oral, hingga empat jam sesudahnya. Sampel darah diambil pada titik waktu yang sama untuk perband­ingan.

Data yang dikumpulkan dari sembilan pasien mengungkapkan bahwa sensor dapat secara akurat mendeteksi perubahan konsen­trasi penisilin dalam tubuh pasien. Para peneliti menemukan bahwa sementara konsentrasi penisilin sangat bervariasi dari pasien ke pasien, pembacaan keseluruhan dari biosensor serupa dengan dari sampel darah.

Kondisi ini menunjukkan penu­runan yang nyata dalam konsen­trasi obat dari waktu ke waktu. Menurut tim, temuan awal adalah positif, tetapi mereka menjelaskan penelitian dibatasi oleh ukuran sampel yang sangat kecil dan hanya diuji pada antibiotik tunggal dan pada pasien sehat.

Para peneliti menjelaskan bahwa bersamaan dengan pengujian lebih lanjut pada kelompok pasien yang lebih besar untuk memperkuat temuan awal. Mereka akan melihat bagaimana sensor dapat membantu mengoptimalkan dosis penisilin dan antibiotik serupa.

Profesor Tony Cass, dari Depar­temen Kimia mengatakan, uji coba tahap awal yang kecil ini menunjuk­kan bahwa teknologi sensor sama efektifnya dengan analisis klinis. Yakni saat mendeteksi perubahan konsentrasi penisilin dalam tubuh manusia.

Ketika dikembangkan lebih lanjut, teknologi ini terbukti sangat penting untuk pemantauan dan perawatan pasien dengan infeksi parah. Lebih luas dapat digunakan untuk memantau banyak obat lain dan mempersonalisasikan pengo­batan pada banyak penyakit,” kata Cass. nik/berbagai sumber/E-6

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment