Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra Esok Selalu Ada Harapan Lebih Baik | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 13 2020
No Comments
WAWANCARA

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra Esok Selalu Ada Harapan Lebih Baik

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra Esok Selalu Ada Harapan Lebih Baik

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Industri penerbangan Tanah Air telah mengalami masa-masa sangat sulit dalam satu tahun belakangan. Setelah masalah tarif tiket yang dinilai amat mahal pada tahun lalu, sehingga menurunkan jumlah penumpang, terpaan pandemi Covid 19 pada Maret lalu makin menggerus pendapatan maskapai.

Berbagai upaya dan usaha dilakukan untuk membuat perseroan tetap dapat hidup, tidak terkecuali maskapai pelat merah Garuda Indonesia. Untuk mengetahui langkah dan jurus-jurus dalam menghadapi situasi sangat sulit seperti sekarang, berikut disampaikan wawancara wartawan Koran Jakarta, Mohammad Zaki Alatas, dengan Direktur Urama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra.

Belum genap satu semester, berbagai ujian menerpa masa kepemimpinan Bapak. Apa komentar Bapak?

Kondisi saat ini benar-benar berat. Di awali pandemi Covid 19 yang mulai pada Februari lalu, sehingga orang banyak yang tidak ingin berpergian. Kemudian, dilanjutkan larangan mudik Lebaran 2020 hingga pembatalan ibadah haji tahun ini. Padahal, keduanya adalah waktu bagi Garuda Indonesia biasanya mendulang pendapatan. Maka, semua itu menggerus pendapatan perseroan hingga 90 persen. Lalu, sebanyak 70 persen pesawat dikandangkan. Sementara itu, keterisian pesawat sudah di bawah 50 persen.

Jadi benar-benar separah itu ya?

Iya... Beberapa hari setelah saya menjabat Dirut. Saya dilantik 22 Januari. Itu dari kaca ruang kerja, saya masih bisa melihat arus lalu lintas penerbangan supersibuk. Saya bisa memandangi pesawat Garuda Indonesia jenis Boeing 737 dan 777 berseliweran di langit Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Saya bisa melihat pesawat bolak-balik. Tapi belum lama ini, saya melihat hanya awan yang menghampar biru. Saya tidak lagi melihat banyaknya pesawat yang terbang.

Bagaimana sikap Bapak melihat ini semua?

Hidup itu dari harapan, bukan kenyataan. Ketika Anda duduk di sini harus menyebarkan optimisme semua orang. Saya berpegangan bahwa selalu ada harapan yang lebih baik di hari esok. Badai itu pasti berlalu.

Tapi, Bapak pernah mengeluh terkait kondisi saat ini?

Hahahaha….Saya gagah perkasa, bukan berarti tidak mau ngeluh. Tapi ngeluh tidak membawa perubahan. Kalau saya ngeluh di depan anak buah, mereka akan bilang, “Yah, Bos saja ngeluh.” Saya masih optimistis. Mudah-mudahan Gusti Allah membantu. Badai pasti berlalu. Hanya, kapan.

Apakah situasinya bisa kembali normal lagi?

Kalau ini membaik jadi 30 persen, menurut Anda sudah membaik belum? Membaik! Tapi tidak ada artinya! Sebab pada waktu 100 persen, Anda tahu laporan keuangan kami. Masih berjalan 90 persen saja, sudah babak belur. Apalagi tinggal 10 persen. Dari 10 persen menjadi 100 persen, pertanyaan yang menantang buat orang seperti saya dan orang-orang di industri ini, berapa lama menjadi 100 persen?

Yang paling penting 50 persennya kapan. Karena Anda bisa bikin plan basis 50 persen atau 70 persen atau 100 persen? Anda harus punya asumsi yang clear, kira-kira kapan. Sebab kalau Anda bilang, “Oh ini masih akan terjadi Desember 2021.” Pertanyaannya, what is gonna happen? Thai Airlines, perusahaan yang dipuji-puji dan menjadi kebanggaan orang Thailand, ternyata merugi terus. Pemerintah memutuskan membangkrutkan.

Tapi, akankah bisa kembali 100 persen?

Rasanya hari ini kalau bicara target seperti diskusi kusir. Betul kita ada RKP. Rencana kerja dan revisi melihat pertumbuhan, dollar AS, dan lain-lain. Kalau kita bikin rencana probability mendekati kenyataan, sekarang asumsi yang dipakai apa? Dollar AS senilai 15.000 rupiah, ternyata hari ini sudah menjadi 13.000. Swing-nya gila-gilaan.

Garuda Indonesia itu besar dan mempunyai banyak anak serta cucu perusahaan. Apakah ini mengganggu kinerja Bapak?
Yang mesti diselesaikan dulu adalah pandemi Covid-19. Banyak planning tetap kita jalankan. Reorganisasi dan promosi kita jalankan. Salah satu contohnya, kargo tidak perlu rapid test. Kita dorong kargo. Banyak opportunity seperti ekstensi kargo.

Bagaimana dengan beban perusahaan saat ini?

Iya. Sekitar pertengahan bulan lalu, kami telah memgajukan perpanjangan waktu pelunasan Trust Certificates “Garuda Indonesia Global Sukuk Limited” senilai 500 juta dollar AS yang jatuh tempo pada tanggal 3 Juni lalu. Usulan perpanjangan waktu pelunasan global sukuk yang jatuh tempo tersebut diajukan untuk jangka waktu minimal tiga tahun. Itu disampaikan melalui proposal permohonan persetujuan (consent solicitation) kepada pemegang sukuk (sukukholder).

Usulan tersebut disampaikan melalui Singapore Exchange (SGX) dengan informasi keterbukaan di Indonesia Stock Exchange (IDX) dan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kami melakukan permohonan persetujuan (consent solicitation) atas sukuk ini agar Garuda Indonesia dapat memperkuat pengelolaan rasio likuiditas perseroan di skala yang lebih favourable, sehingga kami dapat mengoptimalkan upaya peningkatan kinerja perseroan dengan lebih dinamis.

Hasilnya?

Alhamdulillah, kami berhasil memperoleh persetujuan sukukholders atas Consent Solicitation perpanjangan masa pelunasan global sukuk limited senilai 500 juta dollar AS selama tiga tahun.

Oh ya, kemarin ada informasi, terjadi PHK di Garuda Indonesia?

Nah, ini yang harus diluruskan. Jadi begini, kami sementara merumahkan sekitar 800 karyawan dengan status tenaga kerja kontrak atau Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) selama tiga bulan sejak tanggal 14 Mei lalu. Jadi, yang dirumahkan PKWT dan sementara. Kita berdoa agar Covid-19 segera berlalu agar keuangan lebih baik dan para PKWT dapat bekerja lagi.

Selain dari PKWT adakah pengetatan keuangan di bagian lain?

Tentu ada. Sebelumnya, Garuda Indonesia telah melaksanakan sejumlah upaya strategis berkelanjutan dalam memastikan keberlangsungan bisnis perusahaan, antara lain melalui renegosiasi sewa pesawat, restrukturisasi network, dan efisiensi biaya produksi, juga termasuk penyesuaian gaji jajaran komisaris, direksi, hingga staf secara proporsional, serta tidak memberikan THR kepada direksi dan komisaris.

Terus sebagai upaya bertahan, apa yang dilakukan perusahaan?

Pandemi Covid-19 menuntut kami untuk semakin adaptif dan kreatif berakselerasi mengembangkan opportunity bisnis di era new normal. Salah satunya, kami kembangkan melalui bisnis layanan logistik. Kami memperkenalkan “KirimAja” yang merupakan layanan pengiriman barang berbasis aplikasi digital.

Bisa dijelaskan lebih jauh tentang KirimAja?

KirimAja juga didukung bisnis model berbasis komunitas (community based). Ini tidak hanya semakin mendekatkan layanan kepada masyarakat, namun juga diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi kepada agen pengiriman melalui program Sohib KirimAja di seluruh Indonesia.
KirimAja kami harapkan dapat menjadi pilihan tersendiri masyarakat maupun sektor UMKM yang membutuhkan layanan pengiriman barang secara online.

Layanan apa saja yang diberikan KirimAja?


Dilengkapi berbagai fitur seperti reservasi, booking management, real time tracking, tracing, pengecekan tarif pengiriman, hingga pembayaran dengan virtual account, aplikasi pendukung layanan KirimAja menawarkan konsep layanan one stop service untuk kebutuhan pengiriman paket ke seluruh Indonesia.

Ini merupakan usaha Garuda Indonesia untuk bertahan?

Kehadiran KirimAja kami harapkan dapat menjadi langkah berkelanjutan perusahaan untuk “tumbuh” bersama masyarakat dengan mengembangkan model bisnis yang dapat mendukung upaya peningkatkan daya saing layanan kargo dan logistik Garuda Indonesia serta memberi kontribusi nyata terhadap kepentingan ekonomi masyarakat luas.

Sedikit flashback, kira-kira mengapa Bapak yang ditunjuk pemerintah sebagai CEO?

Hahaha..., waktu saya mendapat tawaran itu dari Pak Erick Thohir (Menteri BUMN –red), saya menyampaikan tidak berpengalaman di airlines. Namun, dia hanya berkata, “Don’t worry.” Artinya, saya hanya perlu menemukan peran diri saya. Selain itu juga, berdasarkan pengalaman saya di banyak perusahaan, jangan pernah memaksakan diri menjadi expert di suatu industri karena saya di-hire bukan untuk itu. Saya melihat Pak Erick bukan mencari orang dari airlines, tapi mungkin orang yang akan memberikan different view terhadap Garuda.

Mungkin ada pesan-pesan khusus dari Pak Erick?

Pada saat diskusi, dia menawari saya bisa build a legacy di Garuda. Statement menantang saya. Sebab, jika sekadar membenahi Garuda secara finansial, banyak orang bisa. Tetapi, Pak Erick mempercayakan kepada saya untuk membangun legacy jangka panjang. Pak Erick juga menyampaikan pesan agar kita semua semakin bangga dengan Garuda.

Bagaimana analisis awal saat Bapak menerima amanah sebagai dirut?

Bagi kebanyakan orang yang terlibat di dalam suatu bisnis puluhan tahun, biasanya ada yang missing, meskipun bukan kelemahan, yaitu melihat the other side of the coin. Dalam pemikiran saya, di bisnis maskapai, pertanyaannya apakah kita sudah memahami dan mengerti customer.
Saya berkontemplasi dan menyadari bahwa setiap orang naik pesawat adalah orang yang berbahagia. Naik pesawat membawa kita dari suatu tempat ke tempat lain sebagai sesuatu yang baru dan membahagiakan. Ini memberi kita excitement. Karena itu, menurut saya, industri penerbangan harus membahagiakan.

Lalu, apa yang Bapak titikberatkan dalam pengembangan ke depannya?


Poin penting, apakah Garuda dapat memenuhi experience penumpang. Namun, ini bisa menjadi weakness karena dari awal ketika penumpang pesan tiket sampai tujuan, porsi Garuda untuk mengelola experience penumpang tidak banyak. Hanya ketika penumpang naik pesawat. Travel agent, operator bandara, dan ground service berada di luar kendali Garuda. Karena itu, Garuda mencoba expanding layanan seperti dengan membuat executive lounge dan check-in counter khusus penumpang kelas bisnis.

Hal baru apa yang Bapak akan lakukan?


Ada tiga fokus utama Garuda yang dalam kondisi apa pun kami jaga. Kebetulan, virus korona baru mulai. Pertama, safety. Ini tidak bisa ditawar-tawar. Garuda sebagai registered airline dari IOSA (IATA Operational Safety Audit) akan terus menjaga aspek operational safety di seluruh lini perusahaan. Jadi, bukan hanya capaian on time performance (OTP) yang terjaga, tetapi kualitas keamanan juga telah sesuai dengan standar internasional.

Kedua, service (layanan). Sebagai maskapai full service end-to-end dengan layanan Indonesian style dan bermartabat, terus berinovasi out of the box. Ini untuk memastikan layanan terbaik. Kami tidak ingin layanan Garuda tergolong bagus, tetapi sifatnya mekanistis atau terkesan seperti robot atau predictable. Ketiga, profitability. Ketiga poin ini berurutan berdasarkan prioritas yang tidak bisa dibalik, apa pun kondisinya.

Kira-kira apa peluang Garuda saat ini?

Dalam peluang, banyak riset mengatakan, pergerakan manusia dengan pesawat akan meningkat drastis, khususnya di Indonesia dan regional. Pengguna pesawat akan naik. Ini menjadi peluang besar Garuda. Di samping itu, yang berkaitan dengan kargo, pergerakan barang juga semakin membesar. Apalagi didukung dengan ekosistem e-commerce dan terbukanya akses ke banyak daerah Indonesia.

Tantangannya?

Tantangan hari ini, bagaimana mendiversifikasi diri dalam persaingan yang begitu ketat. Intinya, bagaimana beradaptasi dengan situasi yang terus berubah secara cepat. Salah satu tantangan beratnya adalah pandemi Covid-19 yang terjadi secara global. Penting bagi maskapai seperti Garuda untuk adaptif terhadap situasi ini. Perlu antisipasi dan modifikasi internal agar bisa melewati guncangan berat ini.

G-1 / S-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment