Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments
We Got Rhythm

Dinamika Musik Tiup dan Perkusi

Dinamika Musik Tiup dan Perkusi

Foto : Istimewa
AMPERE (Amadeus Percussion Ensemble) tampil memukau penonton
A   A   A   Pengaturan Font

Alat musik tiup yang biasanya kalah pamor dengan piano maupun alat gesek kali ini menjadi pusat perhatian dengan diadakannya konser “We Got Rhythm” di GoetheHaus, Menteng.

Empat ensembel dari Sekolah Musik Amadeus (SMA) mempersembahkan karya-karya terkenal dari seluruh dunia yang melintasi berbagai genre, yakni dari klasik, musik film hingga jazz. Keempat ensembel ini antara lain Amadeus Brass, Amadeus Grenadilla Clarinet Community, Amadeus Percussion Ensemble (AMPERE) dan Amadeus Wind & Percussion. Tidak hanya ensembel, konser ini juga menghadirkan solis horn berkebangsaan AS bernama Daren Robbins yang saat ini mengepalai jurusan alat tiup logam dan perkusi di Universitas Mahidol di Thailand. Melalui konser ini, Yayasan Musik Amadeus Indonesia (YMAI) akan meluncurkan program “Adopt a Musician” di mana penonton dapat mendukung program beasiswa alat tiup di SMA.

Daren Robbins memainkan komposisi George Gershwin berjudul Three Preludes yang ia aransir ulang untuk horn dan piano. Ia mengajar di Universitas Mahidol sejak 2008 dan merupakan anggota Thailand Philharmonic Orchestra sejak 2009. Selain menjadi kepala jurusan di Mahidol, ia juga mengajar horn, literatur alat tiup logam, pendidikan musik dan musik kamar.

Sebagai anggota aktif International Horn Society (IHS), ia bertanggungjawab sebagai koordinator regional untuk Thailand juga editor Online Music Sales Library dan telah bermain dan berbicara di berbagai acara IHS.

Ia merupakan pendiri hornexcerpts.com, situs internet mengenai horn yang paling banyak dikunjungi, pelatih Horn Pure, sebuah ensembel horn yang telah banyak memperoleh penghargaan yang anggotanya terdiri dari murid-muridnya sendiri, juga pendiri Thailand Brass and Percussion Conference. Ia menyelesaikan pendidikan S1 hingga S3 di University of Wisconsih- Madison, University of North Texas dan University of Iowa. Guru-guru utamanya antara lain Douglass Hill, William Scharnberg dan Kristin Thelander. Pada konser ini, Daren akan diiringi oleh pianis Lilian O. Lenggono yang telah berpengalaman mengiringi orkes Capella Amadeus dan klarinetis Florent Heau dari Perancis.

Amadeus Brass (AB) lahir melalui bimbingan Christian Syperek, pemain terompet dari Jerman, yang mengajar di SMA pada 2011 melalui kerja sama antara Goethe-Institut dan YMAI. Christian diundang untuk tinggal di Jakarta selama tiga bulan untuk mendirikan jurusan tiup di SMA dengan mengajar alat tiup logam kepada guru dan murid Amadeus yang belum pernah belajar sebelumnya. Hanya dalam tiga bulan, ensembel ini berhasil menampilkan konser di GoetheHaus sebagai bukti kesungguhannya terhadap perkembangan musik tiup di Indonesia. Melihat kesuksesan program ini, Goethe-Institut meneruskan kerjasamanya selama beberapa tahun dengan mensponsori lebih banyak instrumen dan mengundang guru-guru lain dari Jerman. Ensembel ini terus-menerus menampilkan hasil pendidikannya sebagai ensembel maupun sebagai seksi tiup dari Amadeus Symphony Orchestra. Ensembel ini semakin berkembang dengan adanya kerja sama dengan Johann Sebastian Bach Musikschule (JSBM) dari Wina, Austria. Thomas Zsivkovits, guru trombon JSBM, telah beberapa kali ke Indonesia untuk mengajar AB.

Kerja sama ini terjadi berkat usaha Prof. Werner Schulze yang dahulu mengajar di University of Music and Performing Art di Wina, Austria. Prof. Schulze sendiri secara rutin ke Indonesia dua kali dalam setahun untuk memandu perkembangan AB. AB sudah pernah tampil dalam berbagai acara, salah satunya acara perpisahan dan penyambutan DAAD (lembaga pertukaran pelajar Jerman). AB juga tampil secara rutin di tempat umum seperti Taman Suropati dan Pasar Santa untuk memperkenalkan alat musik tiup logam kepada masyarakat. Setiap persiapan penampilannya dibimbing langsung oleh direktur artistiknya, Grace Soedargo.

Amadeus Grenadilla Clarinet Community bermula Grenadilla Kwartet yang merupakan jawaban kerinduan para pemain klarinet di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta untuk mempunyai komunitas untuk belajar dan berbagi ilmu. Kwartet klarinet adalah formasi yang jarang ditemui di Indonesia karena pemainnya tidak banyak dan instrumennya masih jarang ditemui, terutama klarinet bass.

Kelompok ini telah mengikuti lokalatih dari berbagai musisi internasional, seperti Arno van Houtert (Belanda), Florent Heau (Prancis) dan Maja Pawelke (Jerman). Saat ini, Grenadila Kwartet berkembang di bawah Yayasan Musik Amadeus Indonesia menjadi Amadeus Grenadilla Clarinet Community yang terdiri dari musisi profesional dan murid. Amadeus Grenadilla Clarinet Community adalah komunitas pemain klarinet pertama di Indonesia. Penampilan mereka di konser kali ini dimeriahkan oleh Sean Tan, seorang pemain klarinet dari Singapura anggota Phil-Clarinets dan pendiri grup Musicgear, toko musik yang memiliki cabang di Singapura, Filipina dan Indonesia.

 

Berafiliasi dengan Sekolah Musik Internasional

AMPERE didirikan pada Agustus 2017, bertepatan dengan Ulang Tahun Perak 25 tahun SMA. Jurusan perkusi sendiri baru dibuka pada tahun yang sama dengan tujuan mencetak pemain perkusi yang baik dan mampu bersaing di dunia internasional. Hal ini lumrah diharapkan karena pada dasarnya Indonesia adalah negeri yang kaya seni dan budaya, terutama budaya musik perkusi. 90 persen alat musik Nusantara adalah alat perkusi sehingga Indonesia adalah negeri yang luar biasa kaya akan tetabuhan. Fakta ini membuat AMPERE bersemangat tidak hanya dalam bermain, namun juga dalam mempelajari perkusi secara mendalam, dengan harapan bahwa Amadeus dapat menjadi mercusuar perkusi di Indonesia, juga menjadi contoh yang baik bagi seniman pukul Indonesia.

Grace Soedargo mendirikan SMA pada 1992 dan membentuk Capella Amadeus setahun setelah sekolah musik ini berdiri. Berbekal ilmu yang telah dipelajari selama di Austria dan pengalaman bermain musik di Austria dan Jerman, Grace senantiasa menginspirasi dan bersemangat membimbing serta menggali potensi pemusik-pemusik muda Indonesia peminat musik klasik yang ingin mengembangkan bakatnya lebih jauh.

“Pendidikan alat musik tiup harus ditingkatkan dan didukung, karena tidak mungkin ada orkestra yang bagus tanpa pemain yang cakap, dan tidak mungkin ada pemain yang cakap tanpa pendidikan yang baik,” jelas Grace.

Sejak berdiri pada 1992, SMA sudah mendidik ribuan murid dari usia 2 sampai 50 tahun. Saat ini, terdapat hampir 300 siswa yang belajar di SMA, mempelajari piano, biola, cello, viola, juga alat-alat tiup seperti oboe, klarinet, terompet, horn, trombone, dan alat-alat perkusi. Dengan 21 guru, SMA terus mengembangkan musik klasik di Indonesia melalui pendidikan di ruang kelas, juga melalui bermain bersama di berbagai orkes siswa (4 orkes gesek) dan ensambel (6 ensambel) yang terdapat di sekolah ini. SMA merupakan satusatunya sekolah musik di seluruh Asia Tenggara yang memiliki afiliasi dengan sekolah musik di Wina, Austria, yakni dengan JSBM. 

sur/R-1

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment