Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments

Dikembangkan, Perangkat Nirkabel Pendeteksi Amfetamin

Dikembangkan, Perangkat Nirkabel Pendeteksi Amfetamin

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Sebuah perangkat baru yang bisa dimanfaatkan dunia medis, telah dikembangkan il­muwan. Perangkat itu adalah sensor nirkabel yang mampu mendeteksi kadar amphetamine (amfetamin) yang rendah dalam setetes urin ma­nusia.

Amfetamin adalah obat golongan stimulansia (hanya dapat diperoleh dengan resep dokter) yang biasanya digunakan hanya untuk mengobati gangguan hiperaktif karena kurang perhatian atau Attention-deficit Hy­peractivity Disorder (ADHD) pada pasien dewasa dan anak-anak. Juga digunakan untuk mengobati gejala-gejala luka-luka traumatik pada otak dan gejala mengantuk pada siang hari pada kasus narkolepsi dan sindrom kelelahan kronis.

Perangkat ini memiliki banyak kelebihan, mulai dari tingkat kepe­kaan yang tinggi hingga bentuknya yang cukup portable untuk di kena­kan sebagai gelang tangan.

Selebihnya perangkat ini juga diperkirakan dapat diproduksi secara masal dengan harga yang terjangkau. Periset di Korea telah mengembangkan sensor nirkabel dan aplikasi smartphoneyang bisa dengan cepet mendeteksi setetes air seni manusia dalam hitungan detik.

Perangkat prototip juga cukup portabel untuk dipakai sebagai gelang dan memiliki kepekaan amphetamine yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan risiko hasil palsu yang relatif rendah. Jika di produksi secara masal, harga produksinya sekitar 50 dolar AS.

Para peneliti ini menyajikan desain mereka pada jurnal Chem, September lalu. Amfetamin atau le­bih dikenal dengan sebutan Shabu-Shabu sendiri merupakan satu jenis narkoba yang dibuat secara sintetis dan kini terkenal di wilayah Asia Tenggara. Amfetamin dapat be­rupa bubuk putih, kuning, maupun coklat, atau bubuk putih kristal kecil.

“Deteksi obat konvensional um­umnya menggunakan teknik yang memerlukan waktu operasi yang lama, prosedur eksperimental yang canggih, dan peralatan yang mahal dengan operator profesional yang terlatih, terlebih lagi, perangkat jenis ini biasanya tidak portabel,” kata penulis senior Joon Hak Oh.

Oh mengepalai laboratorium elektronik organik di Pohang Uni­versity of Science and Technology (POSTECH). “Metode kami adalah jenis sensor obat baru yang bisa menyelesaikan semua masalah ini sekaligus,” tambah Hak Oh.

Laboratorium Oh, memiliki keahlian dalam mengembangkan teknologi sensor, ia mengerjakan proyek ini bekerja sama dengan lab Kimoon Kim yang merupakan penu­lis senior dan sudah lama mempela­jari tentang molekuler di POSTECH dan Institute for Basic Science (IBS) dengan menggunakan keluarga dari molekul berbentuk labu berlubang yang disebut cucurbiturils.

Kemitraan ini terinspirasi saat Ilha Hwang, seorang ilmuwan senior di laboratorium Kim, memiliki hipo­tesis bahwa amfetamin - yang dia lihat dalam laporan berita banyak disalahgunakan - akan mengikat molekul cucurbituril dengan ketat dan dengan demikian membantu dalam deteksi obat.

Para peneliti menguji sensor mereka dengan menambahkan am­fetamin ke air kencing dan kemudi­an mengevaluasi hasil yang dikirim melalui Bluetooth dari sensor ke aplikasi Android.

Pengujian lebih lanjut dalam setting klinis perlu dilakukan sebe­lum produk dapat dikomersialkan, namun tujuan utamanya adalah menyediakan mekanisme pengujian obat langsung di tempat. Untuk tu­juan ini, para peneliti membuatnya menjadi sensor mini sehingga bisa muat dan menganalisa sampel pada gelang.

“Pengujian amfetamin di tempat secara real time berpotensi men­cegah kejahatan tambahan atau kecelakaan yang mungkin dise­babkan oleh penyalahgunaan obat terlarang,” kata Hwang.

“Misalnya, breathalyzers yang efektif dalam mendapatkan penge­mudi yang mabuk di tempat saat itu juga, sehingga mencegah kecela­kaan, kami berharap sensor kami memiliki efek yang sama dengan orang-orang yang menyalahguna­kan amfetamin,” tambah Hwang.

“Kami percaya bahwa kombinasi molekuler dan elektronik organik sangat kuat dan akan sangat ber­kontribusi terhadap pengembangan sensor yang akurat, sensitif, dan murah di luar metode yang ada,” tambah Kim.

“Ada banyak bidang yang penting dan membutuhkan sensor seperti pemantauan lingkungan, perawatan kesehatan, deteksi zat berbahaya, masalah keselamatan, dan sebagai­nya. Saat ini kami melakukan pene­litian lebih lanjut mengenai hal ini,” tambah Kim. nik/berbagai sumber/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment