Koran Jakarta | October 21 2018
No Comments
Pasar Efek - Kapitalisasi Saham Syariah dalam 5 Tahun Naik 42% Jadi Rp3.479 Triliun

Dikaji, Pendirian Bursa Syariah

Dikaji, Pendirian Bursa Syariah

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil pada 5,0 persen dan berpenduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki potensi untuk tumbuhnya perekonomian syariah.

DUBAI – Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Pasar Keuangan Dubai (DFM) bersepakat untuk bekerja sama dalam pengembangan keuangan syariah, misalnya menjadikan Indonesia sebagai hub atau pusat pasar keuangan syariah global.

Direktur Utama BEI, Tito Sulistio, di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), Minggu (29/10), mengatakan pembicaraan lanjutan tentang pembentukan bursa efek syariah itu akan kembali dilakukan dua pekan depan.

Tito optimistis harapan kerja sama itu bakal terlaksana karena empat keuangan syariah terbesar saat ini, yakni Dubai, Turki, Malaysia, dan Indonesia tentunya memiliki pandangan yang sama bahwa bersinergi lebih baik dalam meningkatkan pangsa keuangan syariah di keuangan global.

Tito menyatakan pernah menyampaikan rencana pengembangan pasar modal syariah kepada otoritas di Indonesia. Ia yakin pemerintah dan otoritas bakal mendukungnya karena itu adalah upaya baru dalam memobilisasi dana sebagai sumber pembiayaan.

Sebelumnya, Tito mengatakan perlunya membentuk bursa efek syariah yang tidak hanya menyediakan produk, namun juga proses yang sesuai syariah karena negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia itu berpotensi menjadi pusat unggulan bursa efek syariah dunia.

“Kita perlu punya bursa efek syariah yang full syariah. Kita bisa jadi center of excellence dunia. Apakah kita bisa? Bisa,” kata Tito. Ia menjelaskan, Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang stabil pada kisaran 5,0 persen dan berpenduduk muslim terbesar di dunia, memiliki potensi untuk tumbuhnya perekonomian syariah, khususnya pasar modal syariah.

Berkaitan dengan itu, menurut Tito, Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan P Roeslani, menyatakan ketertarikannya untuk mempromotori pembentukan bursa efek syariah. “BEI mendukung rencana itu dan siap membantu,” kata Tito seraya menambahkan bahwa sebaiknya bursa efek syariah itu ada di Jawa Timur.

 

Sudah Ada Fatwa

 

Landasan hukum pasar modal syariah pun sudah cukup. “Indonesia ada 17 fatwa DSN dan 10 peraturan OJK soal pasar modal syariah,” kata Irwan Abdalloh, Assistant Vice President Sharia Capital Market Development BEI. Tito mencontohkan, di Indonesia sebenarnya sudah ada fatwa mengenai penerbitan dan perdagangan waran syariah.

“Tapi produknya belum ada,” kata dia. Anggota bursa juga pada dasarnya sudah siap. Sebab, saat ini setidaknya ada 12 anggota bursa yang mengembangkan syariah online trading system (SOTS). Namun, Tito masih belum pasang target kapan bursa syariah ini bakal berjalan. “Secara teori, sembilan bulan juga bisa jalan,” cetus dia.

Pasar modal syariah Indonesia kini memiliki empat efek syariah yang dapat ditransaksikan investor, 343 saham syariah, 160 reksadana syariah, satu ETF syariah, 68 sukuk korporasi dan 29 sukuk pemerintah. Per Juni 2017 dibandingkan tahun sebelumnya return indeks saham syariah Indonesia meningkat sebesar 28,1 persen.

Kapitalisasi saham syariah dalam lima tahun terakhir meningkat 42 persen menjadi 3.479 triliun rupiah. Sementara itu, kapitalisasi total saham saat ini sebesar 6.473 triliun rupiah. 

 

Ant/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment