Koran Jakarta | October 22 2018
No Comments
WAWANCARA

Diaz Faisal Malik Hendropriyono

Diaz Faisal Malik Hendropriyono

Foto : Koran Jakarta/Wachyu AP
A   A   A   Pengaturan Font
Dalam sistem demokrasi, peran partai politik (Parpol) sangat besar menjadi penghubung yang strategis antara pemerintahan dan warga. Untuk itulah, para pimpinan Parpol bersama seluruh pengurus dan simpatisannya, harus peka dan tanggap pada aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat.

Tantangan terbesar Parpol, termasuk Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) saat ini adalah bagaimana mereka memperoleh kepercayaan dari para konstituen. Dengan adanya kepercayaan tersebut, selanjutnya bisa memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat.

Untuk mengetahui apa saja yang akan dilaksanakan jajaran pimpinan PKPI dalam menghadapi pesta demokrasi nasional pada tahun 2019, wartawan Koran Jakarta, Frans Ekodhanto dan Suradi, berkesempatan mewawancarai Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PKPI, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, di Jakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Apa fokus kerja Anda sebagai Ketua Umum PKPI?

Saya melihat basis suara PKPI. Pada tahun 2014, dapat 1,1 juta sekian suara. Dengan itu, kami punya modal 375 anggota DPRD tingkat provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Saya melihat pemilih PKPI secara tradisional.

Jika melihat sejarahnya, pemimpinnya dari keluarga tentara dan prajurit. Namun, di organisasi ini secara struktur kami tidak melihat ada satu bidang yang mewadahi atau melayani suara kami. Di situ saya melihat dengan pembaruan, kami tidak mau kehilangan 1,1 juta suara. Maka saya dan teman-teman membuat bidang baru, yaitu bidang kesejahteraan prajurit dan veteran yang diketuai oleh cucu Jenderal Sudirman.

Ini kami lakukan untuk memberikan sinyal kepada pemilih kami bahwa jangan khawatir. Walaupun ada pembaruan, saya bukan mantan jenderal, tapi kami tetap punya komitmen melayani dan memperjuangkan kepentingan-kepentingan pemilih. Pembaruan ini harus memberikan sisi baru, pandangan baru, dan suara baru, serta pasar yang baru. Kami ingin menunjukkan bahwa partai ini mengerti akan apa yang terjadi di dunia saat ini.

Yang terjadi di dunia saat ini apa?

Perubahan dunia karena teknologi. Misalnya, zaman dahulu orang melakukan transaksi melalui kas, saat ini sudah ada t-cash, go-pay, dan lain sebagainya. Karena teknologi, akomodasi juga terpengaruh. Misalnya, dulu orang berlomba-lomba membangun hotel, akan tetapi saat ini yang berkuasa bukan pemilik hotel, melainkan pemilik aplikasi, yang ketika seseorang ingin memesan hotel melalui aplikasi tersebut. Perkembangan teknologi ini memengaruhi semua lini kehidupan, termasuk olahraga.

Dengan ini, kami ingin memberikan kesan atau sinyal kepada publik bahwa kami mengerti mengenai sejarah partai, bahkan mengerti sejarah bangsa. Pemuda itu berperan dalam pembangunan bangsa. Saat membuat struktur organisasi parpol ini, kepemudaan yang paling prioritas. Pada saat yang sama, kami mengerti perubahan yang terjadi di dunia karena teknologi yang bisa memengaruhi semua lini kehidupan, termasuk bidang olahraga.

Kami mengerti sejarah partai, sejarah bangsa, dan perubahan dunia yang terjadi pada saat ini. Semua itu, kami gabungkan dengan hastag partai zaman now. Maka dari itu, di pengurusan PKPI saat ini orangnya bukan orang muda semua, tapi orang-orang yang terbilang tua di PKPI tetap dimasukkan.

Lebih baik mempekerjakan orang yang umurnya 50–60 tahun, tapi jiwanya 25 tahun, daripada mempekerjakan orang yang umurnya 25 tahun, tapi jiwanya 70 tahun, tidak mau bekerja dan tidak mau ngapa-ngapain. Jadi, ketika dibilang ini partai anak muda, itu salah. Sebab, kami merupakan partai yang berjiwa muda, semua orang asal mau bekerja, mau maju, bisa ikut kami.

Tantangan zaman now ini apa?

Strukturnya sudah kami buat sedemikian rupa sehingga ada berkelanjutan dari masa lalu ke masa sekarang untuk meraih masa depan. Pengurus dan programnya sudah berkelanjutan. Ada satu orang DPK di Jawa Tengah, umurnya kalau tidak salah 80 tahun, tapi masih mau bekerja, ya kita pertahankan. Mengenai program, biar mereka (pengurus) yang menerjemahkan sesuai dengan keadaan daerah masing-masing. Payung hukum sudah ketua umum berikan.

Pesannya, ketika membuat program, jangan sampai lupa mengenai siapa kamu, siapa partai ini. Intinya sejarah partai ini. Walaupun kami ingin menunjukkan kepada yang lain bahwa kami adalah partai yang mengerti mengenai perubahan.

Yang menjadi target utama yang ingin diraih PKPI apa?

Semuanya sama, berideologi Pancasila. Dengan arahan Try Sutrisno untuk benar-benar mempraktikkan demokrasi Pancasila, yaitu musyawarah untuk mencapai mufakat di setiap kebijakan yang diambil partai. Setiap kebijakan pemilihan-pemilihan ketua bidang hingga ketua umum, yang harus dikedepankan asas demokrasi Pancasila.

Seperti apa PKPI mengerti sejarah bangsa?

Bagaimana peran pemuda dalam membangun bangsa ini. Kalau dari 1928 umurnya baru 20 tahunan semua, bahkan beberapa ada yang belasan, bahkan Bung Karno di Jong Java masih berusia sekitar 14 tahun, tapi ada juga yang sudah tua, tapi berjiwa muda, seperti Sutomo 1908, Wahidin Sudiro Husodo, itu tua yang berjiwa muda.

Inilah, menurut saya, yang menjadi pelajaran bagi kita semua. Dengan keterkaitan ini semangat mudanya harus tecerminkan di partai. Manfaatnya bahwa pemuda berperan besar dalam pembangunan bangsa, tapi jangan lupa orang-orang yang berjiwa muda juga memengaruhi.

Jika bicara soal sejarah bangsa ini, masing-masing ahli punya pemahaman yang berbeda mengenai sejarah tertentu. Apakah Anda sebagai Ketum punya program untuk merapikan sejarah yang berbeda versi tersebut?

Hal itu lagi digodok di Bidang Kepemudaan. Saya sudah minta masing-masing bidang mengajukan program-program karena kami punya 27 bidang, yang jelasnya saya sudah memberikan arahan. Saya juga menyampaikan visi untuk partai ini. Saya melakukan reorganisasi dan pemilihan orang karena saya memilihnya tidak berdasarkan batasan umur.

Total pengurusnya sekitar 180 orang, akan tetapi masih belum selesai dan masih lanjut. Yang jelas di partai kami butuh orang banyak, karena pergerakan juga banyak. Yang penting kami mengetahui kemampuan setiap orang di partai ini, yang mana kemampuan setiap orang berbeda-beda (kelebihan dan kekurangan) yang penting tepat. Menurut saya, “gemuk” tidak masalah asalkan tepat.

Dalam kerangka merebut konstituen, kira-kira yang menjadi fokus perhatiannya apa, Jawa, Sumatera, atau daerah mana?

PKPI memiliki 375 anggota DPRD di seluruh Indonesia, akan tetapi kita belum masuk di DPR karena kami kurang suara di Jawa. Di Jawa, kami hanya ada beberapa kursi. Akan tetapi di daerah lain kami kuat, seperti Sumatera Utara, Kalimantan. Intinya di daerah kami kuat.

Dalam rangka merebut suara dari Jawa, apa strateginya?

Strateginya dengan ketiga program yang saya sebutkan tadi. Itu menjadi visi besar. Itu strategi umumnya, termasuk melakukan pembaruan dengan meremajakan, termasuk ketua umumnya.

 

Bagaimana strategi untuk menekniskan ketiga visi besar tadi?

Dengan adanya penguatan dalam bidang yang melayani pemilih, kami juga memikirkan bagaimana cara merebut pasar-pasar baru ini. Di sini persaingannya akan sengit sebab semuanya pasti akan merebut pasar itu. Artinya, public figur harus di-combain juga agar sesuai dengan visi saya.

Jadi dalam menjaring caleg-caleg, mereka harus bisa menerjemahkan visi saya. Artinya, caleg-calegnya harus bisa mempertahankan suara tradisional dan harus dipilih agar bisa meraih suara baru. Figur-figur tersebut sudah banyak, akan tetapi kami masih terus mengkaji, mana yang paling tepat penempatannya karena menurut saya itu paling berpengaruh.

Ada warga yang apatis dengan pesta demokrasi. Langkah apa yang Anda lakukan agar mereka cerdas dalam berpolitik dan turut andil dalam pesta demokrasi?

Untuk mendekati mereka, kami harus tampil apa adanya. Memberikan masukan ke mereka, termasuk apa adanya secara penampilan, tidak harus formal. Dengan kata lain, tampil dengan diri kita sendiri. Kalau saya sehari-harinya begini maka yang kita tampilkan yang sehari-hari tersebut. Jangan berusaha menjadi orang lain. Mungkin orang banyak yang apatis terhadap politik karena seseorang yang dalam politik tersebut kebanyakan jaim dan penampilan yang formal. Akan tetapi, kita tampil like who i am.

Dengan mendekatkan diri kepada mereka, kami menjadi mudah komunikasinya, tidak ada gap. Untuk apatisme, Indonesia tidak terlalu apatis terhadap politik karena tingkat partisipasinya lumayan tinggi, apalagi jika dibandingkan dengan Amerika. Jadi, kalau dibilang apatis, tidak juga. Apalagi jika kita bisa memberikan hal yang tepat atau figur yang tepat, mereka tidak akan apatis terhadap politik.

Anda tadi menyampaikan PKPI berlandaskan asas demokrasi Pancasila yang bermuara pada musyawarah mufakat. Bagaimana dengan maraknya debat kandidat, baik calon kepala daerah dan calon presiden yang mempertontonkan debat bukan muasyawarah menuju mufakat?

Itu semua terbuka karena reformasi 1998, ada perubahan dari cara kita berdemokrasi. Ini memengaruhi bangsa kita dalam berdemokrasi dan berpolitik. Sekarang sudah seperti ini, tinggal cara kita agar hal ini tidak membawa dampak negatif dari perubahan yang terjadi setelah reformasi.

Bagaimanapun itu “keran” sudah dibuka, hati-hati jangan terlalu deras. Jangan sampai banjir. Saya sangat setuju, karena “keran” sudah dibuka sehingga cara kita berdemokrasi juga sudah terpengaruh dengan cara negara lain berdemokrasi.

Kendala apa yang dihadapi PKPI hingga saat ini?

Kendalanya pasti soal waktu, memang sedikit teknis tapi akibatnya cukup panjang untuk kita. Pada saat itu, kami sempat tidak lolos di KPU, Bawaslu, dan untungnya masih ada keadilan di PTUN. Akan tetapi begitu diberikan keadilan, kami memiliki tantangan di internal, yaitu bagaimana caranya kami berbenah secara internal agar bisa langsung melaju kencang.

Terus terang, untuk hal ini tidak mudah sebab saya harus membenahi semua provinsi dan kabupaten dan harus benar-benar cari orang-orang yang tepat. Pada saat yang sama saya juga harus melakukan reorganisasi di pusat, dan kami mau masuk ke pemilu. Intinya, tantangannya adalah bebenah internal.

Apakah nama besar orang tua turut membantu atau malah menjadi hambatan?

Nama besar orang tua pasti sangat membantu karena saya masih anaknya AM Hendropriyono, tapi partai ini tidak biasa dipimpin oleh orang muda. Untungnya saya masih anaknya. Muda tapi masih anaknya, coba jika muda tapi bukan siapa-siapa, mungkin secara internal lebih tidak kondusif. Artinya, secara psikologi kurang lebihnya nama besar orang tua cukup membantu.

Soal koalisi PKPI bagaimana?

Soal koalisi, kami sudah menetapkan, PKPI mendukung Pak Jokowi. Dari sana sudah jelas tidak pindah ke mana pun dan tidak mungkin mencalonkan orang lain. Itu dari partai yang menunjukkan bahwa partai ini punya komitmen, tidak salah pilih dan tidak asal pilih.

Dari segi personal, sepulangnya saya dari Amerika Serikat, tahun 2012, saya sudah mendukung Jokowi, menjadi relawan Jokowi untuk menjadi Gubernur DKI. Tahun 2014, saya bentuk Kawan Jokowi (relawan) untuk mendukung Pak Jokowi jadi presiden. Sekarang, saya menjadi ketua umum partai masih tetap mendukung Pak Jokowi.

Kenapa mendukung Pak Jokowi?

Karena sudah yang terbaik. Yang pertama elaktibilitas, tingkat popularitas, dan kepuasan publik terhadap capaian Jokowi di domestik tinggi. Pengakuan dunia terhadap Presiden Jokowi tinggi. Misalkan, pengakuan dari Rating Agnecy tentang investasi di Indonesia, tentang kemudahan usaha sudah membaik juga. Itu yang memberikan penilaian internasional. Jadi, kalau ditanya kenapa saya memilih? Sebenarnya bukan saya yang memilih, saya hanya melihat dari dalam dan dari luar itu memberikan penilaian yang sangat positif terhadap figur Pak Jokowi. 

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment