Koran Jakarta | April 29 2017
No Comments
SAINSTEK

Deteksi Ranjau dengan Rekayasa Molekuler Bakteri

Deteksi Ranjau dengan Rekayasa Molekuler Bakteri

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari The Hebrew University of Jerusalem, berhasil mengembangkan sebuah cara baru untuk mendeteksi keberadaan ranjau darat.

Keberadaan ranjau bisa dideteksi dari jarak jauh dengan menggunakan fluorescent bacteria. Yaitu bakteri yang mampu berpendar atau berpijar serta diterangi dengan sistem scanning berbasis laser. Sistem deteksi dari jarak jauh pada ranjau darat yang ditanamkan di dalam tanah merupakan aplikasi yang memungkinkan seseorang untuk melakukan sistem pendeteksiaan dalam jarak yang cukup jauh dan melacak keberadaan ranjau darat yang terkubur . Salah satunya menggunakan sensor bakteri dan sistem scanning berbasis laser.

Membersihkan ranjau darat merupakan salah satu jenis pekerjaan yang cukup berbahaya. Proses ini memiliki risiko yang cukup tinggi pada kasus cedera atau bahkan kematian personil yang sedang berusaha untuk menemukan keberadaan ranjau-ranjau yang ditanam tersebut. Merespons kebutuhan ini, para peneliti yang dipimpin oleh Prof. Shimshon Belkin, melaporkan sebuah temuan mereka.

Yakni sebuah sistem baru yang menggabungkan laser dan bakteri fluorescent atau bakteri yang mampu berpendar atau memancarkan cahaya sendiri untuk dapat memetakan lokasi ranjau darat yang terkubur dan arteleri yang tidak meledak meskipun dalam jarak yang jauh. Kebutuhan teknologi yang aman dan efisien untuk mendeteksi ranjau darat yang terkubur atau tertanam dalam tanah beserta arteleri yang tidak atau belum meledak. Hal ini bisa dikatakan sebagai salah satu masalah kemanusiaan yang menempati porsi global yang cukup besar.

Setidaknya sekitar setengah juta orang di seluruh dunia menderita cedera akibat operasi penertiban ranjau yang mereka dilakukan. Dan setiap tahun 15-20.000 orang atau bahkan lebih, mereka terluka hingga terbunuh akibat tugas ini. Hingga saat ini diperkirakan ada lebih dari 100 juta perangkat ranjau darat tersebut masih terkubur di lebih dari 70 negara di dunia. Tantangan teknis utama di area pembersihkan ranjau adalah bagaimana mendeteksi lokasi ranjau yang masih akitif dan berpotensi meledak.

Teknologi yang digunakan saat ini tidak jauh berbeda dari yang digunakan dalam Perang Dunia II. Dimana teknologi ini tetap membutuhkan tim deteksi yang mempertaruhkan nyawa dan anggota tubuh dengan fisik mereka saat memasuki area ranjau darat. Dengan kondisi tersebut, jelas bawah ada kebutuhan penting untuk solusi yang efisien untuk mendeteksi jarak jauh keberadaan ranjau darat yang terkubur dan artileri yang tidak meledak. Para peneliti dari The Hebrew University of Jerusalem, melaporkan potensi jawaban dengan menggunakan teknologi baru untuk menanggapi kebutuhan tersebut.

 

 

Menulis dalam jurnal Nature Biotechnology, mereka menyajikan sebuah, sistem fungsional yang menggabungkan laser dan bakteri untuk memetakan lokasi ranjau darat yang terkubur dan artileri yang tidak meledak dalam jarak jauh. Sistem ini didasarkan pada pengamatan bahwa semua kebocoran ranjau darat dapat berlangsung beberapa menit dan mengeluarkan ledakan, dimana kebocoran ini menumpuk di permukaan tanah dan berfungsi sebagai penanda untuk kehadiran bakteri fluorescent ini.

Para peneliti melakukan rekayasa molekuler pada bakteri hidup yang mampu memancarkan sinyal cahaya ketika mereka datang dan terlibat kontak dengan uap dari hasil kebocoran ranjau ini. Sinyal ini dapat direkam dan dihitung dari lokasi yang cukup terpencil. Bakteri yang dikemas dalam manik-manik polimer kecil, yang di sebar di seluruh permukaan lapangan yang dijadikan titik uji dimana ranjau darat dikubur atau di tanam. Menggunakan sistem scanning berbasis laser, bidang uji jarak jauh dipindai dan lokasi ranjau darat terkubur ditentukan.

Ini merupakan demonstrasi pertama dari sistem deteksi untuk kebutuhaan fungsional ranjau darat. “Data lapangan kami menunjukkan bahwa biosensor yang direkayasa mungkin berguna dalam sistem deteksi ranjau darat,” kata Belkin. Profesor Belkin merupakan ahli dalam bidang rekayasa. Untuk menyempurnakan temuan ini, beberapa hal masih harus di atasi oleh para peneliti agar sistem yang mereka kembagkan ini dapat di aplikasikan.

Seperti misalnya meningkatkan sensitivitas dan stabilitas bakteri sensor, meningkatkan kecepatan pemindaian untuk menutupi area yang luas, serta membuat perangkat scanning yang lebih kompak sehingga dapat digunakan pada papan pesawat tak berawak atau drone. 

 

nik/berbagai sumber/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment