Koran Jakarta | January 17 2017
No Comments

Desain Tradisional dalam Konsep Rumah Modern

Desain Tradisional dalam Konsep Rumah Modern

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Inspirasi rumah tradisional di Tanah Air membuat hunian modern sesuai dengan iklim tropis. Hal tersebut tidak lain, karena rumah tradisional didesain mengacu kondisi iklim setempat.

Ruang lebar, jendela mengelilingi dinding maupun plafon yang tinggi, merupakan ciri khas struktur bangunan beberapa rumah tradisional di Tanah Air. Desain dan struktur membuat sirkulasi udara maupun cahaya bebas masuk sehingga ruangan terasa lebih lega. Desain rumah tradisional tersebutlah yang dicoba ditransformasikan ke hunian modern. Maksudnya tidak lain, agar bangunan dapat menyatu dengan iklim tropis di Tanah Air.

Michael Julius Brohet, arsitek dari MJBArchitects mencoba mentransformasikan Rumah Tradisional Minahasa menjadi banguan modern. Rumah Minahasa dipandang sebagai salah satu rumah tradisional yang sesuai untuk ditransformasikan menjadi bangunan saat ini. Dengan pembagian lantai atas sebagai ruang tidur, ruang berkumpul atau bersosialisasi lengkap dengan balkonnya. Sedangkan lantai bawah berfungsi sebagai dapur dan gudang.

Dalam Rumah Minahasa asli, lantai atas sebagai ruang berkumpul dibuat tanpa plafon sehingga terasa luas dan tinggi sesuai dengan iklim tropis. Kalau jaman sekarang, Michael mengatakan, bentuk tersebut dikenal dengan sebutan lofty. “Baik secara kesan ruang maupun secara fisik bangunan tropis, Rumah Minahasa adalah benar dan teruji,” ujar dia melalui pesan elektronik yang diterima, Rabu (21/12). Dalam karya desainnya, Michael tidak secara mentah meniru pembagian ruang yang ada di Rumah Minahasa.

Dalam karyanya, kesan lofty diterjemahkan dengan membuat ruang berkumpul dan dapur di lantai atas sedangkan ruang tidur di kamar bawah. “Memang ini bertentangan dengan Rumah Minahasa asli. Menurut saya, inilah bentuk adopsi atau penyesuaian tehadap kebutuhan jaman sekarang,” ujar dia. Selain itu, perubahan desain tersebut untuk mengakomodasi luas lahan yang semakin kecil.

Dalam bentuk aslinya, Rumah Minahasa berdiri di lahan yang dikelilingi alam terbuka. Michael mengangkat konsep rumah dengan membuat massa bangunan yang memisahkan diri dengan dinding tetangga, untuk bangunan lantai atas. Lalu, bentuk atasnya dibuat terusan menjadi dinding yang menjorok ke luar (cantilever) dengan balkon di bagian ujungnya. Sementara di ke empat sisinya dibuat dengan bukaan lebar. Desain rumah tampak melayang berbeda dengan Rumah Minahasa asli yang berdiri anggun bertiang dari bahan alam.

Noerhadi, arsitek dari RDMA, sebuah biro arsitek mengatakan bahwa untuk mengadopsi rumah tradisional dapat mengambil beberapa bagian saja.” Secara bentuk bisa diambil secara keseluruhan, dalam arti siluet yang mewakili rumah tradisional. Secara konsep mengambil prinsip-prinsip dari bentukbentuk tersebut,” ujar dia.  din/E-6

Sebuah Evolusi Bangunan

Desain rumah yang mengacu pada rumah tradisional bukan berarti menggunakan kayu sebagai bahan bakunya. Bahan baku menyesuaikan dengan ketersediaan di pasaran. Hal tersebut tidak lain, agar material lebih mudah diperoleh dan harga dapat menyesuaikan dengan anggaran pemilik bangunan.

Michael Julius Brohet mengatakan inspirasi rumah tradisional bukan berarti lantas menggunakan material yang sama dengan rumah tersebut. Pada rumah tradisional, material yang digunakan sesuai dengan material yang ada pada saat itu, dalam hal ini kayu. Cara pandang tersebutlah yang digunakan untuk membangun rumah saat ini. “Dengan semangat yang sama, material yang dipakai adalah material yang tersedia,” ujar dia.

Alhasil, Michael memilih menggunakan material industrial karena material tersebut tersedia secara massal, pembuatannya lebih cepat dan efisien. Namun, ia membatasi bahwa material yang digunakan sesuai untuk iklim tropis. Salah satu pilihannya adalah menggunakan material alderon untuk bagian atap maupun dinding lantai dua. Alderon merupakan material yang memiliki rongga sehingga dapat menahan panas sinar matahari.

Sepertihalnya Michael, Noerhadi mengatakan bahwa material yang digunakan tidak selalu kayu. “Material disesuaikan dengan budget,” ujar dia. Karena dalam menggunakan desain tradisional lebih dititik beratkan ke arah massa bangunan bukan bahan bakunya.

Bagi Noerhadi, bangunan yang terinspirasi dari rumah tradisional membaut bangunan lebih terkesan tropis dan kontemporer. Alasannya, bangunan rumah tradisional selalu dibuat menyesuaikan kondisi iklim di wilayah setempat.

Hal serupa dirasakan Michael, ia mengambil inspirasi rumah tradisional tidak lain karena merupakan contoh hunian tropis yang telah teruji secara fisika bangunan, struktur dan program. “Dengan memakai konsep dan prinsip hunian tradisional, kita bisa membuat hunian tropis sesuai pola hidup kita,” ujar dia. Noerhadi mengandaikan karya sebagai evolusi hunian tradisional nenek moyang.  din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment