Desain Pasar Mikro untuk Minimalisir Penyebaran Korona | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 31 2020
No Comments

Desain Pasar Mikro untuk Minimalisir Penyebaran Korona

Desain Pasar Mikro untuk Minimalisir Penyebaran Korona

Foto : ist
A   A   A   Pengaturan Font

Pasar saat ini menjadi lokasi yang patut dihindari seiring dengan merebaknya wabah virus Korona atau Covid-19. 

Mengingat pasar merupakan lokasi yang tidak dapat dihindari oleh masyarakat di tengah wabah virus, dipandang perlu untuk membuat desain pasar yang mampu mengakomodasi kebutuhan ruang dalam transaksi jual beli bahan pangan di tengah wabah Korona. Dengan desain yang pas dan sesuai, pasar mikro dipandang dapat meminimalkan jumlah pengunjung yang datang. Dalam konsep pasar mikro, jumlah pengunjung maupun pedagang yang terdapat dalam pasar akan dibatasi. Upaya tersebut tidak lain untuk menjaga jarak antara satu orang dengan lainnya demi menghindari penyebaran virus. Konsep pasar mikro dikembangkan Shift Architecture Urbanism, sebuah studio arsitektur di Belanda. Mereka mengembangkan desain pasar mikro di tengah wabah virus korona.

Pasar dikembangkan supaya masyarakat dapat membeli produk pangan tanpa bersentuhan satu dengan lainnya, seperti yang selama ini biasa terjadi di dalam pasar. “Bahkan dengan langkahlangkah perlindungan, tampaknya sulit serta tidak mungkin mengesampingkan resiko kontaminasi di pasar tradisional,“ ujar ijs van Bijsterveldt Oana dan Harm Timmermans, arsitek seperti yang dilansir dari portal dezeen. Di sisi lain, supermarket menjadi salah satu tempat niaga untuk memenuhi kebutuhan pangan segar di saat wabah virus. Namun, persoalannya, harga barang di supermarket biasanya lebih tinggi ketimbang di pasar tradisional. Selain itu, supermarket juga tidak terlepas dari kendala pengaturan jarak dengan orang lain.

“Aturan jarak sosial sangat sulit dikendalikan dan banyak orang yang menyentuh produk yang sama,” ujar dia. Tiga Kios Proposal yang diajukan Shift Architecture Urbanism berdasarkan gagasan bahwa pasar bahan pangan dapat dipecah dan tersebar di seluruh lingkungan. Mereka menyebutnya pasar mikro yang dapat beroperasi dalam skala lokal. Setiap pasar mikro hanya terdiri tiga kios yang kurang lebih memiliki luas 16 meter persegi. Masing-masing kios memiliki dua bagian, yaitu tempat pemesan dan pembayaran. Pasar yang memiliki satu pintu masuk dan dua pintu keluar tersebut hanya mengizinkan sebanyak enam orang yang masuk ke dalam ruang yang sama.

Selama di dalam pasar, mereka dapat bergerak bebas dengan catatan, satu kios hanya untuk satu pengunjung. Selain itu, setiap kios disarankan menjual barang paket bukan barang eceran. Tujuannya tidak lain, agar proses niaga dapat berlangsung lebih cepat dan barang dagang tidak disentuh banyak tangan. Dalam pasar mikro, desain konsentrasi pasar lebih menyebar. Cara tersebut dilakukan untuk memecah pasar serta dapat dilakukan dalam jangka waktu panjang. Konsep mikro menjadikan pasar datang ke konsumen. 

Hunian Nyaman, Minim Perawatan

Tempat tinggal minim perawatan, kaya cahaya alam serta mampu menjaga privasi penghuni menjadi salah satu idaman masyarakat modern di kota besar. Penghuni dapat merasakan kenyamanan tempat tinggal tanpa membuang banyak waktu untuk merawatnya. Waktu menjadi barang berharga untuk masyarakat modern yang penuh kesibukan. Lantaran minimnya waktu, mereka hampir tidak memiliki kesempatan untuk merawat tempat tinggalnya. Jika tidak memiliki asisten khusus untuk merawatnya, desain tempat tinggal yang mengakomodasi kesibukan sehari-hari menjadi pilihan untuk mendapatkan tempat tinggal yang nyaman. Ruangrona, sebuah studio arsitektur di Indonesia membuat desain yang mengakomodir kebutuhan pasangan muda di kota besar yang sarat dengan pekerjaan dan kegiatan. Rumah di desain dengan fasad yang tidak biasa seperti rumah-rumah Indonesia pada umumnya. Dengan alasan, karena mereka ingin memfokuskan ruang pada bagian dalam tepat tinggal.

Seperti yang dilansir dari archdaily, desain yang diberi nama CJ-House ini membuat fasad yang tertutup di bagian depannya, sedangkan bukaan terletak di bagian samping. Semula sempat muncul kekhawatiran tentang cahaya di dalam rumah, namun banyaknya bukaan ke samping dan skylight menjadi solusi untuk memberikan cahaya ke dalam rumah yang tampak terhalang dari bagian depan.

Untuk menanggapi situasi di sekitar bangunan, tempat tinggal dengan luas 230 meter persegi ini dirancang dengan orientasi ke dalam. Sehingga, penghuni dapat menikmati tempat tinggal tanpa gangguan lingkungan sekitarnya. Keterbatasan lahan menjadikan bangunan didesain dengan kompak antara satu dengan lainnya. Selain itu, desain tempat tinggal memberikan ruang penghijauan untuk menghilangkan kesan sempit din/S-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment