Desain JPO yang Mengembalikan Ruang Sosial | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 21 2020
No Comments

Desain JPO yang Mengembalikan Ruang Sosial

Desain JPO yang Mengembalikan Ruang Sosial

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Melalui karya arsitektur, jembatan penyeberangan orang (JPO) menjadi ruang untuk mengekspresikan diri maupun tempat bersosialisasi.

Setelah dibangun kembali, JPO dekat Gelora Bung Karno, Jakarta, tidak sekedar sebagai tempat melintas saja. Tidak sedikit dari para penyeberang yang berhenti sejenak untuk mengabadikan foto di jembatan yang tampak seperti lorong tersebut.

Di malam hari, lampu-lampu menambah artistik jembatan. Selain tampak instagramable, jembatan membuat penyebrangnya melupakan jarak tempuh yang akan dilalui sehingga tidak melelahkan.

Dalam makna yang tidak jauh berbeda, pemerintahan Tiongkok berupaya mengembalikan kehidupan pedesaan dengan membangun JPO di Foshan, sebuah Kota baru.

Seperti yang dilansir dari archdaily, belakangan iniTiongkok mengalami perkembangan yang pesat yang mempercepat persaingan antar Kota. Inilah yang menyebabkan perluasan jalan raya menuju desa dilakukan secara terus menerus. Sehingga, hak jalan milik kendaraan menyerbu kehidupan lokal yang lebih lengang.

Proyek JPO di Foshan merupakan upaya bersama antara pemerintah dan arsitek untuk melepaskan diri gaya hidup Tiongkok yang terburu-buru. Tujuannya tidak lain untuk menciptakan kembali budaya tradisional dan jejak arsitekturnya. Untuk itu, desainnya mencoba mencerminkan budaya asli desa setempat, yaitu kehidupan dengan gaya sederhana.

Diharapkan, konsep ini dapat berkelanjutan. Proyek sipil dan lanskap kota berfokus pada desain yang mengordinasikan antara lanskap dan lalu lintas di sekitarnya.

Heyue Road adalah arteri utama Timur- Barat untuk kendaraan ke Kota baru Foshan. Proyek membentang Di Heyue Road yang menghubungkan desa sekitar dan menyediakan cara yang aman, nyaman dan mudah dijangkau penduduk desa. Jembatan trotoar ini mencakup 1500 meter persegi dengan panjang sekitar 60 meter.

Desainnya menggabungkan berbagai fasilitas aksesibilitas, seperti lift dengan kaca di kedua sisi, tangga dan platform yang lebar dan terasa lembut. Struktur dan bahan kayu alami ditangani secara kontemporer sebagai cerminan kesederhanaan dan kekuatan abadi perdesaan.

Penyelesaian jembatan ini mengoptimalkan sistem berjalan di desa sekitar, praktik tanggung jawab sosial, kepedulian manusia dan eksploratif positif. Foshan yang merupakan wilayah ikan, beras, sungai dengan aliran air, sumber daya berlimpah dan wilayah yang tenang, menjadi wilayah yang perlu dijaga. Mengingat, urbanisasi di Tiongkok terus menggerus perdesaan.

Melalui JPO, arsitek berupaya mengakomodasi pembangunan kota bersamaan dengan budaya lokal. Arsitek menerapkan metode desain kontemporer untuk mewujudkan ruang alami dan halus.

Mereka menggunakan kayu kuno untuk menciptakan dan menyoroti budaya desa setempat, supaya memori masyarakat setempat tidak hilang. Selain itu, desain juga digabungkan dengan struktur baja yang abstrak sehingga memiliki sentuhan kontemporer.

Dengan desain dan jembatan yang tergolong luas, penyeberang terkesan lebih santai saat melintas, serta tidak terkesan terburu-buru. Di sisi lain, para penyeberang dapat berhenti sejenak untuk bercengkrama mengingatkan kembali akan kehidupan desa yang tidak diburu waktu. Alhasil, jembatan mampu menjaga kehidupan sosial masyarakat sekitarnya. din/R-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment