Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments

Desain Inovatif dan Instalasi Berbahan Kayu

Desain Inovatif dan Instalasi Berbahan Kayu

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Sebuah pameran arsitektur telah digelar di Berlin, Jerman, pekan lalu. Pameran ini menyuguhkan beragam teknik desain dengan instalasi yang inovatif.

Salah satu karya yang dipilih sebagai karya terbaik pada ajang bertitel World Architecture Festival 2017 itu adalah instalasi berbahan kayu dan material lokal. Desain tersebut dianggap menggunakan bahan sederhana namun terasa menyenangkan.

Salah satu pemenang pada perhelatan yang telah berakhir pada 17 November lalu, merupakan desain milik mahasiswa arsitektur di Filipina. Dia bekerja dengan sebuah lembaga swadaya mayarakat di Streetlight, Tagpuro. Pemenang lain adalah desain arsitektur milik Alison Brooks, arsitektur dari Inggris.

Juri menilai bahwa desain para pemenang mampu memberikan inovasi terhadap teknik dasar sehingga menghasilkan instalasi yang menyenangkan. “Konsep sederhana dan kuat yang mengatasi tantangan teknis besar untuk menghadirkan instalasi yang menyenangkan,” ujar juri pada kategori tersebut, seperti yang dilansir dari situs dezeen.com, sebuah situs arsitektur.

Tiga mahasiswa arsitektur bekerja sama dengan sebuah lembaga swadaya masyarakat membangun sebuah panti asuhan dan pusat studi di Filipina pada 2010. Namun baru tiga tahun kemudian, bangunan tersebut hancur karena topan. Trio arsitek tersebut (Alexander Eriksson Furunes, Sudarshan Khadka dan Jago Boase) membangun kembali struktur baru.

Mereka menggunakan material lokal, teknik konstruksi pada daerah tersebut serta menciptakan bangunan yang menggabungkan beton berat dengan struktur kayu ringan.

Seperti yang dilansir dari situs archdaily. com, bangunan baru mengakomodasi program-program pusat studi dan panti asuhan. Setelah diterjang angin dan topan, para arsitek mengembangkan konsep open dan light serta closed dan safe.

Akhirnya, mereka menggunakan volume beton berat yang digunakan utnuk menyediakan perlindungan saat topan serta struktur kayu ringan yang memiliki ventilasi. Maksudnya, agar bangunan memiliki ventilasi alami dan memungkan angin kencang melewati celahcelah ventilasi.

Sementara, Brooks membuat instalasi kayu berlapis silang yang dinamai The Smile for london Design Festival. Struktur berbentuk tabular dibuat dengan menggunakan kayu tulip yang direkayasa melengkung untuk mengangkat dua ujungnya dari tanah.

“Saya ingin menciptakan dengan kayu tulip CLT dengan format terbesar yaitu 4,5 dengan pelat 20 meter untuk mengekspresikan kekuatan tambahan CLT yang dibuat dari kayu keras,” ujar Brooks.

Desain tersebut disebut-sebut sebagai proyek pertama di dunia yang menggunakan panel CLT kayu keras besar. Strukturnya dianggap mampu menciptakan interaksi di berbagai tingkatan dengan interior yang menyenangkan dan kontemplatif. Desain berbahan kayu diletakkan di Rootstein Hopkins Parade ground di Chelsea College of Art di London Barat Daya. Di dalamnya, mereka bisa berjalan di kedua arah untuk melihat balkon di kedua ujung yang terangkat. Bentuk desain yang dibuat mirip seperti senyuman sebagai cara untuk menguji pavilion selain itu memberikan tantangan berjalan di lantai yang melengkung.

World Architecture Festival merupakan perhelatan tahunan dalam bidang arsitektur. Perhelatan tersebut menilai bangunanbangunan di seluruh dunia yang dibangun pada tahun lalu. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment