Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments

Desain Hunian Harus Nyaman untuk Manula

Desain Hunian Harus Nyaman untuk Manula

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Hunian modern belum didesain untuk manula (manusia usia lanjut) dan penyandang disabilitas. Kebanyakan hunian masa kini hanya dirancang untuk anak muda atau rentang usia produktif.

Seringkali desain interior hunian hanya mementingkan anggota keluarga yang masih produktif. Hampir jarang ditemui, desain yang mengakomodir kebutuhan pada manula atau penyandang disabilitas. Padahal bertambahnya usia atau kondisi tertentu, manusia membutuhkan interior rumah yang mendukung kemampuan fisiknya. Bayi sampai manula merupakan daur kehidupan manusia. Artinya, sudah selayaknya sebuah hunian harus dapat memenuhi daur hidup manusia. Memenuhi kebutuhan sosial baik manula bahkan penyandang disabilitas.

”Para orang tua telah berjasa (mencari nafkah) tapi setelah tua tidak mendapatkan tempat (yang sesuai kebutuhannya),” ujar Lea Aviliani Aziz, Dewan Majelis Himpunan Desainer Interior Indonesia. Lea mengkritisi banyaknya hunian yang kurang ramah untuk para manula dalam diskusi Universal Design For Living di Jakarta, belum lama ini.

Hunian dirancang tidak hanya untuk kehidupan maka kini melainkan untuk masa depan hingga masuk usia senja. Usia panjang merupakan anugerah yang kuasa sehingga kebutuhan hidup pada usia tersebut perlu dipertimbangkan sejak awal.

Keberadaan penyandangan disabilitas menjadi pertimbangan lain. Dalam masyarakat, keberadaan mereka kerap dikucilkan sehingga kebutuhannya tidak terakomodir termasuk di dalam rumah.

Hal itu tentu saja harus dihindari. Sebab, cacat tubuh tidak hanya diperoleh lantaran bawaan lahirnamun dapat terjadi kecelakaan maupun penyakit tertentu.

Sayangnya di dalam negeri, hunian yang ramah lingkungan untuk para manula, penyandang disabilitas maupun anak-anak sampai hewan peliharaan yang dibawa masuk ke dalam rumah masih minim. Kebanyakan hunian dirancang untuk anak muda yang masih dalam rentang usia produktif.

“Orang kita merancang tanpa memikirkan masa depan, itu kesalahan kita,” ujar Lea. Berbeda dengan orang luar negeri, mereka telah merancang hunian dalam jangka panjang bahkan mempersiapkan hunian digunakan saat usia menginjak manula.

“Orang luar negeri (desainnya) sangat efisien banget,” ujar dia. Tujuannya tidak lain, agar hunian dapat mengakomodir kebutuhan manusia di segala lapisan usia maupun mengakomodir kecintaan terhadap hewan peliharaan.

Hunian untuk para manula maupun penyandang disabilitas sedikit berbeda dengan masyarakat umumnya. Lantaran, mereka memiliki keterbatasan gerak akibat kondisi tubuh maupun penyakit yang dideritanya.

Karena itu, interior hunian harus menyesuaikan untuk beberapa tahun ke depan. Tujjuannya supaya mereka dapat mandiri selama tinggal di dalam rumah maupun apartemen.

Pegangan tangan yang menempel pada tembok menjadi salah satu interior untuk memenuhi kebutuhan manula maupun penyandang disabilitas. Adanya pegangan tangan membuat mereka tidak khawatir jatuh saat berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain. Pegangan tangan dapat dibuat dari kayu untuk memberikan nilai estetis dalam ruang dan agar ruang tidak terkesan seperti rumah sakit. Yang terpenting, pegangan tidak dibuat dari benda tumpul. Adanya space atau ruang yang dibiarkan kosong akan memberikan keleluasaan penghuni yang menggunakan kursi roda. Ruang kosong akan memudahkan kursi roda melakukan mobilitas di dalam rumah.

Untuk itu, minimal ada jarak satu meter untuk memisahkan satu bagian dengan bagian lainnya. Kamar mandi merupakan bagian lain yang perlu mendapatkan perhatian. Pasalnya, banyak kecelakan yang terjadi di kamar mandi yang berakhir dengan musibah. Setidaknya, kamar mandi dibuat dengan luas minimal 2,5 x 2,2 meter.

Luasan kamar mandir diperlukan supaya kursi roda dalam masuk dengan leluasan bahkan memutar untuk mendapatkan posisi yang nyaman. Selain itu, kamar mandi dibuat dengan pegangan tangan untuk membantu penyandang berdiri dari kursi rodanya.

W House, sebuah biro desain interior memberikan rancangan yang mengakomodasi kebutuhan para manula dan penyandang disabilitas. Rumah yang digambarkan berada di lingkungan urban yang padat dirancang untuk memfungsikan ruang sesimple mungkin.

“Toilet menggunakan shower dan ada pegangan tangannya,” ujar Very Novianto, perwakilan W House yang mendapatkan penghargaan sebagai Most Inspiring Design dalam ajang Dulux Designer Award 2018 untuk kompetisi dengan tema Universal Design for Living.

Dengan desain yang tergolong sederhana, hunian di daerah urban dengan lahan terbatas dapat menjadi hunian yang nyaman untuk setiap penghuninya termasuk manula dan penyandang disabilitas. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment