Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments

Desain Apartemen Tak Lagi Personal

Desain Apartemen Tak Lagi Personal

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Apartemen bukan sekedar tempat tinggal untuk tidur. Dalam luas yang terbatas, apartemen dapat dirancang sebagai ruang yang menghibur sekaligus ruang publik untuk menerima teman maupun saudara.

Desain di dalam apartemen atau hunian vertikal tidak lagi didominasi konsepprivate atau personal. Desain sebuah ruang apartemen kini bisa dibuat lebih terbuka dan terkesan untuk publik, konsepnya adalah indahnya ruang bersosialisasi di dalam apartemen. Adalah Leandro Garcia, arsitek Brazil yang merancang ruang untuk menghibur sekaligus ruang publik. Apertemen tersebut merupakan pesanan seorang jurnalis muda. Dia membutuhkan tempat tinggal tidak hanya untuk tidur melainkan mengakomodasi pekerjaan sekaligus kehidupan sosialnya.

Apartemen seluas 35 meter persegi persegi direnovasi dengan fokus memaksimalkan area publik. Denah lantai unit ini terbagi dua satu setengah digunakan untuk menghibur dan relaksasi. Bagian lain digunakan untuk kamar tidur, kamar mandi dan dapur. “Titik awal proyek ini adalah untuk memperluas dan memanfaatkan area sosial, menggabungkan teras ke ruang tamu,” ujar Garcia, seperti dilansir dari laman dezeen. Alhasil, tamu yang bertandang akan langsung masuk ke area sosial, yang terbuka ke teras dan dipisahkan melalui pintu kaca geser.

Garcia membuat apartemen yang terletak di lingkungan San Francisco, ibukota negara bagian Parana, Brazil, terasa lebih lapang dan rapi. Dinding kiri dilapisi menggunakan kayu dengan bukaan dipotong ke dalam. Salah satu dinding tidak memiliki pintu. Bagian ini menjadi celah menuju ke dapur. Sedangkan, akses lainnya digunakan untuk menuju kamar mandi dan kamar tidur. “Dapur tampak seperti ceruk pada panel, semua dilapisi dengan ubin mozaik,” ujar dia. Sehingga, dapur tidak terlihat dari pintu masuk.

Di seberang dinding, Gracia meletakkan rak-rak yang diletakkan dari dinding hingga langit-langit. Rak-rak yang digunakan untuk menyimpan buku dirancang supaya dapat menghemat ruang. Karena di ruang tersebut, ada meja makan sebagai tempat jamuan makan dan sofa daybed yang dapat digunakan tamu untuk bermalam.

Sebagai estetika, arsitek menggunakan perabot vintage untuk melengkapi dinding dan rak build in yang presisi. Konsep vintage digunakan juga untuk meja kopi tahun 1950 an, dua kursi logam antik dan meja dari mesin jahit tua. Konsep vintage untukfurniture membuat terasa hanya dan memiliki kehidupan. Sementara, kamar mandi dan kamar tidur dipisahkan dengan koridor.

Di bagian ini sekaligus digunakan sebagai tempat penyimpanan, dua lemari yang juga untuk menyebunyikan mesin cuci. Renovasi ruang tersebut konsisten menggunakan pelapis berbahan putih dan kayu. Warna-warna tersebut dianggap sebagai bagian netral. Sementara, aksen warna-warni baru muncul melalui furnitur dan tekstil. Sehingga, ada harmonisasi warna dalam ruang.

Secara keseluruhan, renovasi apartemen digunakan untuk memaksimalkan ruang terbatas. Dalam ruang yang minim, penghuni masih bisa memiliki ruang publik untuk menjamu tamu dan menyimpan barang-barang pribadi pendukung kerja. Alhasil, apartemen tak sekedar kotak ruang untuk tidur namun ruang yang mamu menampung kehidupan manusia di dalamnya. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment