Desa Bangun, Mojokerto Terkubur Sampah Impor | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments

Desa Bangun, Mojokerto Terkubur Sampah Impor

Desa Bangun, Mojokerto Terkubur Sampah Impor

Foto : ANTARA/Zabur Karuru
TUMPUKAN SAMPAH - Sejumlah anak berlarian di tumpukan sampah plastik impor di Desa Bangun, Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (19/6).
A   A   A   Pengaturan Font

Awalnya, Desa Bangun di Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, berada di lingkungan yang asri, dengan hamparan sawah yang subur dan sungai yang mengalir. Kini, lingkungan itu terkubur tumpukan sampah, besi tua, dan polusi asap dari pembakaran barang bekas. Warga harus berjejalan melalui gang-gang yang dipadati oleh barang bekas, mulai produk rumah tangga kemasan makanan, dan produk perawatan pribadi. Perlahan-lahan, desa ini ditenggelamkan oleh plastik kiriman dari negara-negara maju.

Channel News Asia edisi 7 Juli 2019 melaporkan, Desa Bangun adalah gambaran nyata kegagalan sistem daur ulang sampah di dunia. Desa ini berada di Indonesia yang telah memiliki masalah sampah plastik. Plastik mulai mengubah kehidupan warga desa yang berjarak sekitar 40 kilometer dari kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya.

Sejak tahun lalu, volume kiriman sampah dari luar negeri semakin meningkat. Kini, jenis sampah kiriman yang tiba di Mojokerto semakin beragam, karena mengambil celah dari kebijakan impor Indonesia yang lemah. Laporan kelompok pencinta lingkungan, Ecoton, menyebutkan, diperkirakan dari sekitar 20 persen kertas impor juga tercampur limbah rumah tangga didaur ulang oleh negara asal.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perdagangan tahun 2016, impor potongan kertas diizinkan masuk tanpa harus menjalani pemeriksaan oleh pihak berwenang, padahal jenis limbah yang lain, tidak masuk dalam ketentuan itu. “Ini penyelundupan. Ini ilegal, dan tidak sehat,” kata Direktur Eksekutif Ecoton, Prigi Arisandi.

Dia mengatakan tingkat kontaminasi insidental dari jenis limbah lain yang masih bisa ditoleransi adalah sekitar 2 persen, bukan dengan kadar yang sekarang, seperti tindakan yang disengaja untuk dibuang ke Indonesia. Namun, setelah Tiongkok pada tahun lalu memutuskan pelarangan terhadap sampah impor, aturan berubah.

Kontributor limbah plastik terbesar adalah Amerika Serikat, Kanada, Italia, Korea Selatan, dan Inggris. Impor limbah itu telah menjadi beban negara-negara yang sedang berjuang untuk mengatasi limbah domestiknya. Sementara itu, Indonesia belum siap karena juga telah menjadi penyumbang terbesar sampah plastik di laut. 

 

AFP/SB/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment