Koran Jakarta | September 24 2018
No Comments

Depok, 19 Tahun, Masih Mentok

Depok, 19 Tahun, Masih Mentok

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Kota Depok, minggu lalu berusia 19 tahun. Usia remaja yang penuh gairah, penuh semangat, dan tenaga masih penuh. Namun sebagai kota, Depok terkesan terengah- engah, lemah, dan keberatan menanggung beban.

Seolah sudah mentok, sudah dead lock, sudah di jalan buntu, susah menemukan loncatan ke depan. Depok, yang dianggap “bersaudara” dengan Jakarta bersama Bogor, Tangerang, Bekasi sebagai Jabodetabek, belum sepenuhnya berderap dengan yang lainnya.

Saya tergoda melihat Depok, karena saya pernah menjadi penduduk, dengan KTP Depok kota admisnistratif, dan menjadi segan bahkan hanya untuk menengok rumah lama.

Kemacetan di Jalan Margonda, barang kali puncak kemacetan yang menimbulkan frustasi tanpa akhir, karena tak melihat apakah bakal bisa diatasi atau tidak.

Nyatanya tidak karena masih begitu-begitu juga. Kalau jalan utama yang menghubungkan dengan kota lain—dalam hal ini Jakarta, masih seperti itu, bisa terbayangkan lambatnya komunikasi dan atau hubungan, bahkan dalam Kota Depok itu sendiri.

Mungkin saya terlalu bawa perasaan, baper. Sangat mungkin karena saya yang mendiami Perumnas Depok Baru atau dikenal Depok 1, di tahun 1977. Bersama 200 wartawan, dan ratusan penghuni baru lain dari instansi pemerintah, kami menempati rumah baru.

Sebagian besar, atau seluruhnya dari kami belum pernah memiliki rumah sendiri. Lelah dan gelisah hidup menyewa, Perumnas Depok adalah harapan. Juga jawaban.

Daerah baru, dan bergegas. Ada Universitas Indonesia, kemudian ada KRL—kereta rel listrik, yang menuju stasiun kereta Gambir—dari sana bisa ke seluruh penjuru Jawa. Kendaraan masih teratur—walau sangat terbatas.

Kendaraan umum, dari Pasar Minggu, hanya sampai pukul 22.00 itu pun hanya sampai Lenteng Agung. Yang kendaraan antar-jemput dari perusahaan dari dini sampai malam, yang menyatukan para penghuni dalam kebersamaan.

Pada awal-awal itu, kami masih mendengar dan mengunjungi kisah dan lokasi Cornelis Chastelein, “tuan tanah” pertama yang membuka wilayah perkebunan di Depok.

Dengan tenaga dari berbagai daerah lain di Indonesia, kebanyakan dari wilayah timur. Kami masih sempat berkenalan dengan 12 “kepala suku”, atau klan yang menguasai tanah di Depok, setelah Chastelein meninggal pada 1714.

Proses berpindahnya ribuan keluarga Jakarta, sejauh saya rasakan berlangsung damai, aman, juga nyaman. Padahal, jelas ada perubahan pergaulan atau bangunan pasar, bahkan sekolah, rumah sakit, termasuk stasiun kereta api.

Ada dinamika yang amat sangat bergegas, tapi nyaris tanpa gesekan berarti. Bahkan peristiwa kriminalitas jarang muncul.

Depok dengan sejarah perkebunan tebu, lada, kelapa, dengan percampuran beberapa tenaga kerja, dengan daerah yang indah dan bersejarah, seakan tak punya sisa kenangan indah lagi.

Juga ketika di akhir tahun 70-an yang menandai bangkitnya sebuah kota penyangga, telah dikalahkan entah oleh apa dan dengan proses yang bagaimana. Yang jelas, kalau dari Jakarta mau ke kota-kota Botabek, tidak seruwet ke Depok.

Tujuh tahun saya tinggi di Depok dengan segala nostalgia yang romantik, yang menghidupkan, yang menyemangati, saya masih berharap suatu saat yang dekat, Depok meloncat ke suasana dan situasi yang memberi semangat warganya.

Tanpa itu, Depok benar-benar mentok, gagal memberi kehidupan yang layak bagi warganya.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment