Koran Jakarta | October 14 2019
No Comments
Penguatan Persatuan | Ditawarkan Solusi untuk Atasi Berbagai Persoalan Bangsa

Demokrasi Pancasila Jadi Kekuatan Pemersatu

Demokrasi Pancasila Jadi Kekuatan Pemersatu

Foto : ISTIMEWA
Bambang Soesatyo, Ketua DPR
A   A   A   Pengaturan Font
Aneka gagasan yang ada harus bisa menjadi penunjang dalam mewujudkan demokrasi Pancasila, yang sungguh menjadi kekuatan pemersatu bangsa.

 

JAKARTA – Demokrasi Pancasila yang dianut bangsa Indonesia merupakan kekuatan pemersatu di antara rakyatnya. Oleh karena itu, demokrasi dan hak politik rakyat harus sejalan dan tidak boleh tergadaikan oleh kepentingan apapun.

“Bila demokrasi dan hak politik rakyat hanya dipermainkan oleh kelompok tertentu yang hanya mementingkan diri sendiri, unsur pesimisme yang disampaikan oleh filsuf Giorgio Agamben atas demokrasi menjadi terbukti,” kata Ketua DPR, Bambang Soesatyo saat memberikan pengantar pada peluncuran buku Demokrasi dan Kedaruratan: Memahami Filsafat Politik Giorgio Agamben, karya Agus Sudibyo, di Jakarta, Selasa (25/6).

Jika demokrasi hanya dipermainkan oleh kelompok tertentu, tambah Bamsoet begitu Bambang Soesatyo biasa disapa, maka yang akan muncul bukanlah demokrasi yang sejati, tetapi hanyalah tirani mayoritas. Di mana yang terjadi adalah adanya ketidakseimbangan antara hukum publik dan fakta politik.

Politikus Partai Golkar tersebut menilai kehadiran buku karya Agus Sudibyo itu sangat bermanfaat dalam proses pendidikan politik Bangsa Indonesia. Buku ini akan mendewasakan pola pikir masyarakat dalam memahami, menganalisis, dan mempraktikkan nilai-nilai demokrasi sehingga demokrasi yang dijalankan adalah demokrasi yang substansial, tidak hanya demokrasi yang prosedural semata.

“Buku semacam ini akan memperkaya khazanah pemikiran politik di Indonesia. Gagasan-gagasan dalam buku ini mampu menjadi penunjang dalam perjuangan mewujudkan penyelenggaraan demokrasi Pancasila yang lebih baik dari waktu ke waktu,” tutur Bamsoet.

Tawaran Solusi

Bamsoet menambahkan hadirnya buku tersebut juga akan memberikan tawaran solusi untuk mengatasi berbagai persoalandan tantangan Indonesia dalam mewujudkan nilai-nilai demokrasi, yang mana dalam kondisi tertentu, tantangan yang ada bahkan dapat dipandang sebagai darurat dalam proses belajar berdemokrasi.

“Keadaan darurat ini misalnya adanya potensi diskriminasi, kekerasan, terorisme, dan eksploitasi sebagai persoalan yang berpola oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang memang tidak menghendaki Indonesia berdiri kuat dengan landasan demokrasi Pancasila-nya,” ulasnya.

Menurut Bamsoet, buku ini semakin menguatkan keyakinan akan pentingnya mempertahankan keunggulan demokrasi Pancasila. Bila diimplementasikan secara murni dan konsekwen, tantangan-tantangan yang bersifat darurat demokrasi dapat teratasi dengan baik.

“Sebagai Bangsa Indonesia yang memiliki demokrasi Pancasila, kita harus berjuang semaksimal mungkin agar kondisi- kondisi kedaruratan sebagaimana yang digambarkan dalam filsafat Giorgio Agamben tidak terjadi di negeri ini. Saya sangat optimistis itu tidak akan terjadi di negeri ini,” tandasnya.

Penulis buku Demokrasi dan Kedaruratan: Memahami Filsafat Politik Giorgio Agamben, Agus Sudibyo, menjelaskan buku yang diluncurkan mempermasalahkan hubungan antara keadaan darurat dan demokrasi. Sebab, sejarah menunjukkan bahwa demokrasi selalu lahir dari adanya keadaan darurat. tri/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment