Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi - Defisit Neraca Perdagangan April 2019 Cetak Rekor Tertinggi

Defisit Perdagangan Bakal Ganggu Pertumbuhan Tinggi

Defisit Perdagangan Bakal Ganggu Pertumbuhan Tinggi

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
>> Kontraksi ekspor yang lebih tajam dibandingkan impor perlu segera diperbaiki.

>> Pemerintah perlu mengendalikan impor barang, misalnya yang melalui e-commerce.

JAKARTA – Neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 mencatatkan defisit 2,5 miliar dollar AS, atau dianggap yang tertinggi sepanjang sejarah RI. Defisit itu perlu diwaspadai karena berasal dari penurunan impor dan ekspor yang melemah lebih tajam. Ini mengindikasikan kinerja perdagangan dan kegiatan ekonomi yang merosot.

Untuk membenahi hal itu, pemerintah harus segera memperbaiki terutama kinerja ekspor, yang kini terancam akibat dampak perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Jika tidak, defisit perdagangan bakal makin melebar sehingga berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan, dan menghambat laju pertumbuhan ekonomi tinggi RI.

Peneliti ekonomi Indef, Bhima Yudhistira, menilai defisit perdagangan yang tinggi tersebut mesti dimaknai sebagai peringatan keras untuk segera memperbaiki perekonomian. “Melebarnya defisit perdagangan menjadi indikasi struktur ekonomi makin lemah. Kinerja ekspor diperparah oleh perang dagang,” kata dia, di Jakarta, Rabu (15/5).

Bhima memaparkan bahwa ekspor April lalu ke AS dan Tiongkok masing- masing turun 5 persen dan 10 persen secara tahunan. Di sisi lain, kedua negara yang bersengketa dagang itu diperkirakan telah mengalihkan kelebihan produksinya ke Indonesia. Ini terlihat dari impor barang konsumsi sepanjang bulan lalu yang meningkat 24 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Impor spesifik asal Tiongkok tumbuh 22 persen secara tahunan. “Kita jadi makin bergantung pada barang dari impor untuk memenuhi kebutuhan,”kata Bhima. Sebagai upaya memperbaiki neraca perdagangan, Bhima menyatakan selain melakukan diversifikasi pasar ekspor, pemerintah juga perlu mengendalikan impor barang konsumsi melalui pengawasan ketat di pintu-pintu masuk barang impor utama, serta meningkatkan daya saing produk domestik untuk berkompetisi dengan produk impor.

“Kemudian, perlu diatur porsi barang impor di e-commerce. Sebab selama ini, 97 persen barang yang dijual melalui e-commerce adalah produk impor,” tukas dia. Badan Pusat Statisktik (BPS) mencatat defisit perdagangan April 2019 sebesar 2,5 miliar dollar AS, yang berasal dari nilai ekspor 12,6 miliar dollar AS dan impor sebesar 15,10 miliar dollar AS.

Defisit perdagangan itu dianggap yang paling besar sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Sebelumnya, defisit terdalam terjadi pada Juli 2013 sebesar 2,3 miliar dollar AS.

Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menjelaskan defisit perdagangan perlu diwaspadai. “Meski impor kontraksi, tapi ekspornya juga kontraksi lebih dalam lagi.Jadi, ini faktor ekspor yang mengalami pelemahan, kita harus waspada,” kata dia, Rabu.

Kemudian, lanjut Menkeu, dari sisi impor, mulai dari bahan baku dan bahan modal juga perlu diantisipasi, karena ini akan digunakan untuk pertumbuhan ekonomi ke depan. “Sinyal ini menggambarkan ekonomi dunia mengalami situasi yang tidak mudah. Indonesia kalau ingin tetap menjaga ekonomi di atas 5 persen dari komposisi pertumbuhannya itu manufaktur akan mengalami tekanan yang cukup dalam. Pertanyaannya apakah sektor lain bisa mem-backup,” jelas dia.

Menurut Sri Mulyani, apabila neraca transaksi berjalan atau neraca perdagangan Indonesia defisit saat ini maka akan berisiko tinggi bagi pertumbuhan ekonomi. Ketika terjadi defisit perdagangan maka ekspor neto akan negatif sehingga mereduksi pertumbuhan.

 

Transformasi Industri

 

Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Ma’ruf, mengungkapkan penurunan impor bahan baku dan bahan modal konsisten membayangi neraca perdagangan nasional, baik ketika surplus maupun defisit. “Tak ada jalan lain, transformasi industri manufaktur harus dipercepat sehingga tidak makin kalah dengan Tiongkok bahkan Vietnam,” ujar dia.

Ma’ruf menjelaskan, sejak awal Indonesia mentransfrormasi agribisnis dan manufaktur, modelnya mengikuti pola tukang jahit, yakni mengimpor bahan baku dan barang modal kemudian diolah untuk diekspor. Cukup lama Indonesia menikmati keunggulan di industri padat karya dengan input sedikit teknologi, seperti garmen.

Tapi saat ini, industri garmen mendapat pesaing kuat dari Tiongkok, Vietnam, bahkan negara-negara sekawasan yang lebih miskin seperti Kamboja. 

 

ers/YK/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment