Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi 2019 - Anggaran Subsidi Energi Berpotensi Membengkak

Defisit Migas Bayangi Pertumbuhan

Defisit Migas Bayangi Pertumbuhan

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and - koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
Sebagai net importir minyak, kenaikan harga minyak bakal menjadi ancaman bagi defisit perdagangan Indonesia tahun depan.

 

JAKARTA - Pemerintah harus mewaspadai potensi membengkaknya defisit neraca mi­nyak dan gas (migas) akibat kenaikan harga minyak global, menyusul keputusan Organi­sasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) memangkas produksi pada tahun depan.

Sebab, pelebaran defisit migas berpeluang meningkatkan defisit neraca perdagangan se­hingga bisa menghambat laju pertumbuhan ekonomi, akibat ekspor neto yang negatif.

Selain itu, kenaikan harga minyak juga bakal memicu laju inflasi sehingga menurunkan daya beli ma­syarakat. Padahal, pertumbuhan ekonomi In­donesia masih mengandalkan konsumsi rumah tangga, dengan kontribusi lebih dari 50 persen.

Ekonom Indef, Abra Talatto, mengemukakan pertemuan OPEC belum lama ini memutuskan untuk memangkas produksi minyak 1,2 juta barel per hari, mulai 1 Januari 2019. Hal itu dini­lai akan memicu kenaikan harga minyak dunia.

“Buktinya, setelah seminggu pertemuan OPEC itu, harga minyak langsung naik lima persen, walaupun harganya masih di kisaran 61 dollar AS per barel minyak brent,” jelas dia, di Jakarta, Senin (10/12).

Abra menambahkan, harga minyak ter­tinggi tahun ini mencapai 80 dollar per barel pada Oktober. Saat itu, defisit migas Indonesia secara kumulatif, Januari–Oktober, menyen­tuh angka tertinggi sejak 2014 mencapai 10,74 miliar dollar AS. (Lihat infografis)

“Saat itu, pertumbuhan volume impor mi­gasnya juga paling tinggi, ditambah dengan pelemahan rupiah terparah, mencapai 15.200 rupiah per dollar AS. Akibatnya, nilai impor mi­nyak melambung,” imbuh dia.

Sebagai net importir minyak, dengan ke­butuhan konsumsi mencapai 1,4 juta hingga 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksinya hanya 700 ribu hingga 750 ribu barel per hari maka kenaikan harga minyak bakal menjadi ancaman bagi defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan Indonesia tahun depan.

Menurut Abra, dengan melihat realisasi terse­but, bisa dipastikan tahun depan defisit migas bakal semakin lebar. Makanya diperlukan lang­kah konkret agar defisit tersebut tidak membu­ruk. “Kerawanan tahun depan, terutama pada anggaran subsidi yang makin jebol,” kata dia.

Hingga Oktober lalu, realisasi subsidi migas sudah melebihi pagu atau 102 persen. Padahal, masih ada dua bulan lagi subsidi yang harus dibayarkan. “Pagunya 156 triliun rupiah. Sedang­kan tahun depan subsidinya 157 triliun rupiah. Hanya naik satu triliun rupiah,” ungkap Abra.

Berkaca pada subsidi tahun ini, lanjut dia, tahun depan subsidi energi bahan bakar mi­nyak (BBM) dan listrik berpeluang membeng­kak. “Kalau sudah demikian, pilihan pemerin­tah hanya dua, yaitu menaikan harga BBM atau menambah subsidi.”

Jika pemerintah menambah subsidi, kon­sekuensinya utang akan bertambah untuk me­nambal pelebaran defisit. Menurut Abra, sebe­narnya pemerintah nampak sudah kewalahan menanggung belanja subsidi. Hal itu terlihat dari pendapatan BUMN energi yang turun drastis.

“Tahun ini saja PLN rugi 18 triliun rupiah. Se­dangkan Pertamina cuma untung lima triliun ru­piah. Jadi sudah tertekan juga BUMN,” tukas dia.

Akan tetapi, lanjut Abra, pemerintah tam­paknya sulit menaikkan harga BBM tahun de­pan, karena akan berdampak pada inflasi se­hingga memangkas daya beli masyarakat, serta berpotensi menimbulkan gejolak.

Sulit Diperhitungkan

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mul­yani, menilai harga minyak mentah dunia masih belum stabil, sehingga sulit untuk di­perhitungkan. Oleh karena itu, fluktuasi harga minyak perlu diwaspadai pada 2019.

“Harga minyak yang naik dan turun dan kita ha­rus waspadai volatilitas harga minyak dunia. Karena ini sulit untuk diperhitungkan dan bisa mempengaruhi dari target yang kita tentukan dalam APBN 2019,” ujar Menkeu, pekan lalu.

Dia menambahkan pergerakan harga minyak dunia masih akan dipengaruhi oleh kebijakan dari OPEC, serta keluarnya Qatar dari keang­gotaan OPEC. “Saya bertemu dengan Menteri Minyak Arab Saudi dengan outlook harga mi­nyak berapa dan ini tergantung OPEC.

Lalu kerja sama Arab Saudi dan Russia, serta sekarang Qa­tar keluar dari OPEC dan forecast global gross. Harga minyak bisa tertahan dan ini berbeda den­gan asumsi kita yang targetkan sampai 70 dollar AS per barel,” papar Sri Mulyani. ahm/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment