Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments

Dedikasi Dokter Lie di Pelosok Negeri

Dedikasi Dokter Lie di Pelosok Negeri
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Dokter di Jalan Kemanusiaan

Penulis : Sylvie Tanaga dan Basilius Triharyanto

Penerbit : Gramedia

Cetakan : Pertama, April 2018

Tebal : 228 halaman

ISBN : 978-602-424-837-6

Buku ini menceritakan perjalanan hidup Lie Dharmawan, seorang dokter bedah yang menginisiasi terbentuknya DokterShare, Rumah Sakit Apung (RSA), dan Dokter Terbang (DT). Pria kelahiran Padang ini dianggap “gila” karena bergagasan unik dengan melayani kesehatan bagi kaum papa di pelosok negeri.

Salah satu idenya, membuat RSA tahun 2010. Namun, gagasan itu dicibir dan dianggap angin lalu. “Kita tidak mungkin mendirikan rumah sakit di setiap tempat. Jika mereka tak dapat mendatangi kita, mengapa bukan kita yang jemput bola dengan rumah sakit bergerak?” (hal 3).

Akhirnya, RSA pun terbentuk pada tahun 2013, kemudian berlayar dan beroperasi dari ujung barat hingga timur perairan Indonesia. RSA memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma bagi warga miskin yang kesulitan mendapatkan pelayanan medis. Lie pun mulai memikirkan nasib orang-orang di daerah pegunungan yang sulit mendapat pelayanan medis. Ia berpikir untuk memiliki pesawat sendiri agar mudah menjangkau mereka yang ada di pelosok. Maka, terbentuklah DT.

Kegigihan Lie untuk melayani kesehatan masyarakat tidak terbentuk begitu saja. Sejak kecil, dia bersikeras ingin menjadi dokter. Kematian adiknya di pengungsian karena diare akut dan meninggalnya sang Ayah menjadi alasan kuat menjadi dokter. Sayang, impian itu mendapat banyak cibiran. Maklum, saat itu pergi ke dokter merupakan sesuatu yang sangat mewah. Maka, dia ingin menjadi dokter agar bisa membantu orang lain.

Namun, perjalanan menjadi dokter penuh liku-liku. Awalnya, dia ditolak berbagai kampus di Jawa. Kemudian, dia diterima di Ureca, Jerman. Sayangnya, karena terjadi kemelut, Lie tak bisa meneruskan kuliahnya di sana. Semangatnya untuk kuliah kedokteran di Jerman tetap membara. Ia mengirim surat lamaran ke berbagai universitas di Jerman, di sela-sela kegiatannya membantu kakak berjualan.

Selang beberapa saat, Lie mendapat kabar diterima di Freie University. Sebelum pergi, Ibunya memberi nasihat, “Kalau kamu menjadi seorang dokter, jangan mengambil duit banyak, jangan mengambil duit orang miskin. Mereka akan membayar, tapi di rumah menangis karena tidak ada uang untuk membeli beras,” (hal 40).

Perjuangan Lie tidak berhenti sampai di sana. Kehidupannya di Jerman penuh kerja keras untuk bertahan hidup. Beragam pekerjaan dilakukan, mulai di panti jompo hingga kuli. Meskipun sulit, Lie terus penuh keyakinan. Setelah lulus, dokter baik hati ini belajar empat spesialisasi sekaligus (hal 64).

Setelah dua dekade, kehidupan di Jerman menjadi lebih baik. Namun, seluruh kesuksesan itu tak membuatnya ingin menetap di negeri Eropa tersebut. Pelayan langka ini ingin mengabdikan di Indonesia demi kemanusiaan (hal 76) dan mewujudkan cita-cita masa kecil untuk membantu orang lain.

Di Indonesia, semua ide-ide gilanya muncul. Bermula dari ide bedah jantung terbuka gratis, hingga mendirikan DT. Seluruh aktivitas sosialnya terus berlanjut dan semakin berkembang. “Seseorang yang dihargai dan menjadi besar bukan dari berapa banyak yang dapat dikumpulkan, tetapi berapa banyak yang dapat diberikan,” (hal 95).

Biografi ini begitu inspiratif. Kisah perjuangan Lie dapat menjadi pelajaran bahwa sukses tidak datang begitu saja, perlu kerja keras dan pantang menyerah. Buku menegaskan, sukses bukan semata-mata yang didapat, tapi yang diberikan. Contoh teladan ini tidak lupa Tanah Airnya. Baginya, iman dan nasionalisme adalah dua komponen yang tak terpisahkan. Mencintai Tuhan dan Indonesia harus nyata serta diwujudkan dengan melayani sesama (hal 225). 

Diresensi Wening Niki Yuntari, Mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment