Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments
Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, tentang Pilpres 2019

Debat Perdana Capres Akan Berimplikasi pada Debat Berikutnya

Debat Perdana Capres Akan Berimplikasi pada Debat Berikutnya

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Awal tahun 2019 dapat menjadi momentum titik balik kondisi perpolitikan nasional, dari yang semula hanya berbalut kampanye pemilu yang bersifat ujaran kebencian dan saling menyerang, menjadi kampanye yang substantif dangan adu gagasan dan program-program.

 

Jadwal debat perdana pada 17 Januari akan menjadi sarana yang efektif bagi kedua pasangan calon (paslon) presiden–wakil presiden untuk menunjukkan segala gagasan dan programnya untuk menyejahterakan rakyat Indonesia.

Sebab, jika masih terjadi kampanye saling serang yang tidak substantif, maka akan membuat masyarakat semakin jenuh. Untuk mengupas hal tersebut lebih lanjut, Koran Jakarta mewawancarai pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indone­sia, Ujang Komarudin, di Jakarta, Minggu (30/12). Berikut hasil pem­bahasannya.

Bagaimana prediksi peta perpolitikan nasional pada awal tahun 2019?

Peta politik akan semakin me­manas, karena kedua paslon capres dan cawapres akan tancap gas berkampanye. Januari 2019 menjadi momentum terbaik para kandidat untuk menyapa rakyat. Selain karena semangat baru di bulan dan awal tahun, juga karena hari pencoblosan sudah semakin dekat. Masing-ma­sing kandidat akan berusaha keras untuk mendekati rakyat guna meraih simpati mereka.

Apa yang akan dilakukan paslon?

Bisa melalui dua cara. Cara darat dan cara udara. Cara darat, bisa langsung door to door kampanye. Dan cara udara, bisa menyapa me­lalui media sosial karena selama ini cara ini lebih efektif dan efisien.

Apakah debat perdana dapat menjadi momentum?

Iya. Kampanye kreatif, inovatif, dan substantif akan dipersembah­kan oleh para kandidat di acara debat. Karena bagaimanapun debat pertama akan menentukan debat-debat berikutnya. Oleh karena itu, para kandidat akan berusaha berkampanye dengan kualitas tinggi, berbobot, dan substantif, karena jika yang dijelaskan tidak berisi dan tidak memiliki substansi, maka bagaikan “tong kosong yang nyaring bunyinya” dan akan ditinggalkan pemilih.

Lalu, apakah sejauh ini belum substantif?

Sejauh ini, kedua paslon dan tim suksesnya masih bergaya ofensif. Menyerang lawan agar lawan tak berkutik. Masih mencari kesalahan lawan politik lalu diviralkan agar masyarakat tidak simpati.

Apakah berulang di awal tahun?

Tentu kedua paslon akan mem­berikan kampanye terbaik di­awal tahun. Karena jika tidak, maka kampanye membosankan, tidak menyenangkan, dan menyebalkan. Awal tahun bisa saja akan diwarnai dengan kampanye-kampanye yang aktraktif, kreatif, dan inovatif, sehing­ga kampenye menjadi menyenang­kan dan membahagiakan. Itulah sesungguhnya esensi kampanye, menyosialisasikan ide dan gagasan juga program-program terbaiknya dengan cara menyenangkan, se­hingga rakyat yang mendengarkan, melihat, dan memperhatikan men­jadi simpati.

Terkait penyelenggara pemilu, apa yang masih menjadi evaluasi?

Selesaikan masalah-masalah yang mendapat perhatian publik, seperti soal DPT, kotak suara berbahan kardus, dan persoalan OSO (Oes­man Sapta Odang). Dan KPU akan bekerja sesuai dengan tahapan yang sudah ditetapkan. Terkait OSO, KPU itu penyelenggara pemilu. Bekerja berdasarkan konstitusi dan UU, jadi bekerja saja secara profesional.

Jangan pernah melanggar kon­stitusi dan UU. Jika ada persoalan hukum terkait dengan OSO, pasti bisa diselesaikan dengan cara adil dan terbaik. Terkait Bawaslu, harus bekerja secara profesional, adil, dan bekerja untuk bangsa dan negara. Jangan sampai bekerja untuk ke­pentingan yang lain. trisno juliantoro/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment