Koran Jakarta | March 24 2019
No Comments

Debat-Debit-Debut

Debat-Debit-Debut

Foto : kj/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Debat presidensial antara pasangan 01 melawan pasangan 02 yang disiarkan serentak di seluruh kanal tv, juga lewat media sosial, dan disertai komentar dari kedua calon, seolah berakhir dengan antiklimaks. Kurang greget, bahasa anak muda. Kurang adu argumen, mengomentari pendapat pesaing, menegas­kan pendapat sendiri. Seolah dua pasangan ini berasal dari kubu yang sama.

Mungkin malah bisa besar hati. Bahwa bangsa ini tak punya tradisi debat secara terbuka, ngomong di forum resmi secara terus terang, apa­lagi ini mengenai persyaratan mau sebagai pasangan nomor satu republik ini. Meskipun tidak berarti kita lebih berani kalau ngrasani, membicarakan orang yang tak ada di depan kita, atau lebih mahir nyinyir, komentar yang tak langsung berkaitan dengan pokok persoalan. Bahwa bangsa ini sebenarnya memiliki “kemam­puan’ untuk itu, mempunyai debit, tidak terasakan kelebi­hannya.

Mungkin juga sebagian dari kira salah persepsi, karena berharap seperti debat pres­idensial di Amerika Serikat, di mana sejak awal pencalo­nan sudah masuk wilayah debat terbuka, yang diikuti masyarakat penonton. Di awal masih dalam tahap pencalo­nan, sudah “ditelanjangi” dalam arti sebenarnya.

Rekam jejak masing-masing calon diperlihatkan, sehingga mem­buat peserta berhenti di tengah jalan. Seorang calon presiden dalam konvensi partainya, terpaksa mundur gara-gara foto “skandalnya” dimuncul­kan. Foto sedang memangku perempuan, di suatu pantai—atau suatu tempat.

Kata “ditelanjangi” mung­kin tepat menggambarkan bahwa calon presiden benar-benar ditelanjangi, dikuliti, dibongkar sisik meliknya apa yang terjadi dengan­nya. Bahkan, termasuk asal usul kelahirannya, orang tua, atau riwayat pergaulan­nya. Sampai di sini, kadang hoaks memegang peran penting—atau dipentingkan. Sehingga calon bisa diberita­kan keturunan suka bangsa beda, agama beda, beda pendidikan, beda sekolah.

Ini masa-masa gawat, karena berita dusta, hoaks sempat menyebar. Kalau tak segera diantisipasi, yang hoaks bisa “dianggap sebagai yang benar.” Di sini fitnah mewa­bah, gosip tampil mengkilap, dan kalau sudah begini, “salah” dan “benar” menjadi samar. Bubarlah pengertian-pengertian yang masuk akal, yang menggambarkan sebab-akibat karena pemak­saan satu realita.

Semua keraguan tadi muntah dalam debat terbuka. Tapi, pada putaran pertama ini tak terjadi. Bahkan dugaan wakil capres no 2 yang selama ini diam, akan memakai fo­rum ini sebagai debut masuk dunia politik bebas, berakhir tanpa ombak, tanpa riak.

Walhasil, kali ini debat tak banyak efeknya. Masih ada empat kali lagi, tapi mungkin juga akan berakhir sama. Suara-suara menderu sebelumnya, termasuk “tes baca Al Quran”, tak terdengar gemanya.

Mungkin, yang sesuai di sini adalah berbalas pantun.

Mungkin pesan sampai dan menghibur.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment