Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Strategi Pembangunan - Tak Capai Target, Pertumbuhan Ekonomi 2018 Sebesar 5,17%

Daya Saing Industri Mesti Dipacu

Daya Saing Industri Mesti Dipacu

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font

>> Ekspor bersih yang mencatat minus mengganjal laju pertumbuhan ekonomi.

>> Pertumbuhan hanya di kisaran 5 persen, RI dikhawatirkan tua sebelum kaya.

 

JAKARTA - Indonesia mesti segera mem­benahi kinerja ekspor dengan mendorong daya saing industri nasional, agar pertum­buhan ekspor bisa melampaui laju impor dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.

Meskipun pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,17 persen tercatat merupakan pertumbuhan tertinggi dalam lima tahun terakhir, namun capaian itu masih jauh di bawah target APBN yang sebesar 5,4 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Su­hariyanto, mengemukakan dilihat dari sisi pengeluaran, sepanjang tahun ini pertum­buhan impor masih melebihi laju ekspor sehingga net ekspor turun 0,99 persen. Ini menjadi sandungan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk mencapai target.

“Ke depannya, kami berharap imple­mentasi dari kebijakan mendorong ekspor, termasuk program B20 ke depannya men­jadi lebih bagus,” ujar dia, di Jakarta, Rabu (6/2).

Suhariyanto mengakui upaya untuk mengenjot ekspor tersebut cukup memakan waktu, tetapi harus dimulai saat ini dengan mendorong daya saing industri nasional.

Secara kumulatif, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 se­besar 5,17 persen didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 5,05 persen dibandingkan 4,94 persen pada 2017. Adapun, ekspor di dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB) terpangkas menjadi 6,48 persen dibandingkan 8,91 per­sen pada 2017. Net ekspor yang minus ini mereduksi pertumbuhan ekonomi.

Suhariyanto memaparkan sepanjang 2018, ekspor barang Indonesia tercatat tu­run dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, impor justru naik. “Nilai ekspor ba­rang Indonesia kurang menggembirakan, terjadi penurunan 4,48 persen quarter to quarter (q to q) dan 1,04 persen year on year (yoy). Impor lebih besar dari pada ekspor, bahwa selama Oktober, November, Desem­ber kita mengalami defisit neraca perda­gangan,” papar dia.

Secara tahunan (yoy) impor barang ter­catat naik 12,10 persen. Hal ini tentu men­jadi penghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia menyusul adanya koreksi akibat defisit neraca perdagangan.

Menurut Suhariyanto, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2018 yang men­capai 5,18 persen merupakan pencapaian yang baik di tengah tekanan ketidakpastian ekonomi global.

“Di tengah tekanan ekonomi global, se­perti kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau The Federal Reserve, mulainya perang dagang, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa 5,17 persen (sepanjang 2018). Kita me­mang bukan the best, tapi pencapaian kita tetap baik,” jelas dia.

Menanggapi kinerja pertumbuhan itu, ekonom Chatib Basri mengkhawatirkan Indonesia akan menjadi tua sebelum kaya jika pertumbuhan ekonomi hanya berteng­ger di kisaran 5 persen hingga 2060. “Tentu tantanganya adalah bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat. Kita tak bisa terus menerus tumbuh hanya 5 persen. Tahun 2060 Indonesia akan masuk dalam aging population. Jika terus tumbuh hanya 5 persen, maka ada risiko kita tua sebelum kaya,” tulis Chatib dalam akun Twitter-nya.

Tantangan Pemerintah

Ekonom Universitas Indonesia, Telisa A Falianty, mengatakan meski stabilitas mak­roekonomi Indonesia cukup bagus, tapi un­tuk mencari sumber-sumber baru pertum­buhan ekonomi di 2019 bakal jadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah. Dengan adanya tahun politik diharapkan govern­ment spending dapat membantu mendo­rong sektor konsumsi.

“Begitu juga dengan ekspor, kita berha­rap potensinya bisa digarap,” ujar dia.

Telisa memprediksi pertumbuhan eko­nomi sepanjang 2019 hanya akan berada di level 5,2 persen, atau di bawah target peme­rintah sebesar 5,3 persen. Dari sisi ekster­nal, dia meminta pemerintah tetap mewas­padai dampak perang dagang. Sebab, hal itu akan memunculkan ketidakpastian.

Meski begitu, Telisa berharap selama in­vestor masih wait and see di tahun politik, pemerintah semestinya mampu memper­baiki kinerja ekspor dengan memanfaatkan celah dari perang dagang tersebut, misalnya dengan mencari pasar nontradisional, ka­rena sebetulnya target pasar ekspor Indone­sia sangat luas.

“Seperti Aljazair, Panama. Jadi, sebetul­nya banyak pasar nontradisional yang membutuhkan barang kita, walaupun ng­gak sebesar Amerika dan Eropa. Pasar ses­ama ASEAN juga sebetulnya potensial. Jadi untuk amannya, karena ada ketidakpastian tadi, kita lebih baik segera diversifikasi pro­duk dan pasar juga,” tukas dia. ahm/Ant/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment