Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments

Data Perlambatan Mulai Terungkap

Data Perlambatan Mulai Terungkap

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Bank Dunia, Dana Monter Internasional, maupun lembaga-lembaga internasioal telah jauh-jauh hari mengingatkan, kondisi perekonomian global sedang menuju perlambatan. Ini terjadi, terutama bersumber dari ketegangan perdagangan, normalisasi kebijakan suku bunga beberapa Bank Sentral, dan ketegangan geopolitik di beberapa kawasan.


Sejumlah negara kemudian melakukan penyesuaian, di antaranya mengurangi ketegangan dan efisiensi. Namun, beberapa negara maju justru meningkatkan pembangunan energi baru terbarukan demi menjaga keberlanjutan energi dalam negeri. Indonesia sendiri juga melakukan antisipasi dengan menyesuaikan sejumlah regulasi agar bisa menjaring investor dan meningkatkan kegiatan dunia usaha.


Sayang, kenyataannya perekonomian Indonesia hanya bisa tumbuh 5 persen. Malah, Badan Pusat Statistik melaporkan pertumbuhan kuartal II-2019 hanya 5,05 persen secara tahunan atau melambat dibandingkan periode sama tahun lalu 5,27 persen. Tak cuma itu, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat dari 5,2 persen pada 2018 menjadi 5,0 persen pada 2019. Namun meningkat menjadi 5,1 persen pada 2020 dan 5,2 persen pada 2021.


Bahkan, Bank Indonesia (BI) mencatat kinerja sektor Industri pengolahan pada kuartal III 2019 melambat dibanding sebelumnya. Hal ini tecermin dari Prompt Manufacturing Index (PMI) BI sebesar 52,04 persen pada kuartal III 2019. Angka tersebut sedikit lebih rendah dari kuartal II 2019 yang sebesar 52,66 persen.


BI juga menyebutkan fase ekspansi terjadi pada hampir seluruh subsektor, namun terpantau adanya perlambatan pada sub sektor makanan, minuman, tembakau serta tekstil, barang dari kulit dan alas kaki. Di sisi lain, kontraksi terjadi pada barang kayu dan hasil hutan lainnya sejak triwulan lalu terlihat masih berlanjut pada kuartal III-2019.


Perlambatan ekspansi kegiatan usaha diperkirakan akan terus berlanjut di kuartal IV 2019. Hal tersebut juga tecermin pada perkiraan PMI BI kuartal IV 2019 sebesar 51,90 persen yang lebih rendah dari kuartal sebelumnya. Perlambatan ekspansi usaha diduga terjadi pada beberapa sub sektor seperti industri tekstil, barang kulit dan alas kaki. Kemudian, industri kertas dan barang cetakan. Lalu industri pupuk, kimia dan barang dari karet.


Perlambatan berdasarkan Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) disebutkan, kegiatan usaha kuartal III 2019 tetap tumbuh positif, meskipun melambat dibanding kegiatan usaha kuartal sebelumnya. Hal itu tecermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 13,39 persen, lebih rendah dari 19,17 persen pada kuartal sebelumnya.


Sementara itu, perlambatan kegiatan usaha terutama terjadi pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Ini khususnya pada subsektor pertanian tanaman bahan makanan yang dipengaruhi musim kemarau.


Perlambatan sudah di depan mata karena konsumsi melambat dan hambatan pada likuiditas ke sektor usaha ikut memberi imbas pada perlambatan industri pengolahan dan kegiatan usaha. Selain itu, para pelaku usaha tengah menahan diri untuk ekspansi. Salah satu alasan permintaan sedang tidak bagus. Tambah lagi kondisi ekonomi global tengah bergejolak.


Tampaknya, pemerintah tak bisa begitu saja menyerahkan pada menterinya untuk mengatasi perlambatan. Mesti ada kepedulian bersama demi masa depan bangsa. Semua pihak, terutama para pejabat harus berani “mengencangkan ikat pinggang” alias efisiensi agar tercipta pertumbuhan berkualitas.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment