Koran Jakarta | August 24 2019
No Comments
Pengelolaan Anggaran - ULN Indonesia Mencapai 359,8 Miliar Dollar AS

Dana WNI di Luar Negeri Dipinjamkan Jadi Utang RI

Dana WNI di Luar Negeri Dipinjamkan Jadi Utang RI

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
>>Singapura jadi negara pemberi pinjaman terbesar utang luar negeri Indonesia.

>>Pertumbuhan ULN pemerintah melambat, pertumbuhan ULN swasta meningkat.

JAKARTA - Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia terus meningkat dan mencapai 359,8 miliar dollar AS atau setara 5.253 triliun rupiah (pada kurs 14.600 rupiah per dollar AS) pada akhir kuartal III-2018. Berdasarkan asal kreditur ULN itu, Singapura menjadi negara pemberi pinjaman terbesar, yakni sebesar 58,7 miliar dollar AS atau sekitar 857 triliun rupiah.

Ironisnya, dana warga negara Indonesia (WNI) yang ditempatkan di luar negeri, termasuk di Singapura, dikabarkan mencapai ribuan triliun rupiah. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa dana WNI yang disimpan di luar negeri tersebut, masuk kembali ke Tanah Air menjadi ULN Indonesia.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Munawar Ismail, mengatakan posisi Singapura sebagai negara pemberi ULN terbesar untuk Indonesia, dengan porsi sekitar 16 persen, adalah sebuah ironi. Sebab, dikabarkan banyak dana WNI yang disimpan di negara tetangga tersebut.

“Harus kita akui, Singapura adalah pasar uang yang menarik dan cukup besar di kawasan Asia Tenggara. Jadi, banyak dana beredar dan disimpan di sana, baik dari Indonesia dan negara kawasan lainnya,” ujar dia, ketika dihubungi, Minggu (18/11). Munawar memaparkan dana asal Indonesia itu bisa terbagi menjadi dua kategori.

Pertama, dana legal dari keuntungan proses ekspor-impor yang sengaja diparkir di Singapura karena berbagai alasan. Kedua, dana ilegal dari beragam tindak kejahatan, seperti skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) atau korupsi lainnya. “Ini memang pintar-pintarnya Singapura memberikan pelayanan kepada pemilik dana itu.

Namun, yang membuat kita mengelus dada dari fenomena ini adalah, kita tahu banyak dana di Singapura yang berasal dari berbagai skandal di Indonesia,” tukas Munawar. “Ini memang ironi, uang diambil dari kita, disimpan di Singapura, kemudian dipinjamkan ke kita. Lalu yang menikmati keuntungan Singapura,” imbuh dia.

Dana WNI di luar negeri memang tidak bisa diketahui dengan pasti jumlahnya. Berdasarkan estimasi lembaga internasional, Tax Justice Network, jumlah kekayaan WNI yang disimpan di luar negeri pada 2010 mencapai 331 miliar dollar AS atau sekitar 4.832 triliun rupiah.

Sementara itu, jumlah harta luar negeri yang diikutkan dalam program pengampunan pajak (tax amnesty) periode Juli 2016 sampai Maret 2017 hanya sebesar 1.034 triliun rupiah. Pada 2016, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengungkapkan jumlah kekayaan WNI yang berada di Singapura mencapai 200 miliar dollar AS atau setara 2.920 triliun rupiah pada kurs saat ini.

Jumlah tersebut sama dengan 80 persen dari total harta kekayaan WNI di luar negeri. “Studi sebuah konsultan international yang cukup kredibel menjelaskan, dari 250 miliar dollar AS kekayaan orang-orang dengan kekayaan sangat tinggi dari Indonesia di luar negeri, terdapat sekitar 200 miliar dollar AS disimpan di Singapura,” kata Sri Mulyani. Dari 200 miliar dollar AS kekayaan WNI di Singapura itu, sekitar 650 triliun rupiah dalam bentuk non-investable assets seperti properti.

 

Kebutuhan Likuiditas

 

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) melaporkan hingga September 2018, ULN Indonesia mencapai 359,8 miliar dollar AS. Rinciannya, utang pemerintah dan bank sentral sebesar 179,2 miliar dollar AS, dan utang swasta termasuk BUMN sebesar 180,6 miliar rupiah.

ULN Indonesia pada akhir kuartal III-2018 itu tumbuh 4,2 persen (year-onyear/ yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,7 persen (yoy). “Perlambatan pertumbuhan ULN tersebut bersumber dari melambatnya pertumbuhan ULN pemerintah, di tengah- tengah meningkatnya pertumbuhan ULN swasta,” ungkap BI, dalam siaran persnya, Jumat (16/11).

Menanggapi hal itu, Kepala Ekonom Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat, menilai pilihan swasta berutang ke luar negeri bergantung pada eksposur masing-masing terhadap kondisi kurs. Namun, naiknya ULN swasta juga bisa jadi seiring dengan kebutuhan swasta terhadap likuiditas. “Kalau ada proyek besar sendiri, swasta akan issue utang ke luar negeri, karena biar bagaimanapun likuiditasnya lebih besar,” jelas dia. 

 

SB/bud/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment