Daeng Mohammad Faqih : Pembatasan Sosial Membantu Tenaga Medis | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 31 2020
No Comments
WAWANCARA

Daeng Mohammad Faqih : Pembatasan Sosial Membantu Tenaga Medis

Daeng Mohammad Faqih : Pembatasan Sosial Membantu Tenaga Medis

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Tenaga medis terutama dokter merupakan garda depan dalam penanganan pandemi virus korona. Kehadiran tenaga medis sangat vital mengingat tugasnya selain merawat juga menyembuhkan pasien.

Bertugas di wilayah rawan terdampak mengancam nyawa tenaga medis.

Apalagi tenaga medis sempat kekurangan fasilitas saat bertugas. Tidak sedikit tenaga medis yang gugur dalam tugas merawat pasien Covid-19. Semua pihak mesti mendukung tugas tenaga kesehatan.

Ketersediaan fasilitas kesehatan seperti alat pelindung diri dan alat kesehatan pendukung lain sangat diperlukan. Kebijakan pembatasan sosial yang agresif bisa meringankan tugas tenaga medis.

Untuk membahas seputar tenaga medis dalam menangani pandemi Covid-19, wartawan Koran Jakarta, Muhamad Marup berkesempatan mewawancarai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Daeng Muhammad Faqih dalam beberapa kesempatan terpisah, di Jakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Bagaimana perkembangan kondisi tenaga medis menangani pandemi ini?

Tenaga medis di lini depan masih bertugas membantu penyembuhan pasien Covid-19. Semakin banyak pasien maka harus lebih banyak dukungan untuk tenaga medis, baik kebutuhan sehari-hari maupun kesehatannya. Mereka yang bertugas di zona merah atau kasusnya banyak. Hal-hal tersebut harus dipastikan dan kalau bisa kapasitasnya ditambah agar lebih banyak.

Jumlah dokternya perlu ditambah?

Saat ini ada sekitar 6.000 dokter yang bertugas. Mereka adalah dokter penanggung jawab pasien. Khawatirnya kalau mengandalkan jumlah sekarang tidak akan cukup. Kami mengadakan program dokter semesta. Itu gerakan dalam menyiapkan dokter di luar jumlah yang tadi.

Pertama, mereka akan dilatih. Setelah itu, diberi wewenang menangani Covid-19. Dengan itu kita aman punya sekitar 200.000 dokter. Ini untuk mengantisipasi jika jumlah kasus Covid-19 semakin banyak.

Dukungan apa saja yang dibutuhkan dokter?

Selain kebutuhan sehari-hari, penerapan kebijakan pembatasan sosial juga membantu dokter. Dalam dua bulan ke depan akan ada tes massal secara cepat dan luas. Itu penting untuk besaran masalah dan pemetaan kasusnya. 

Setelah itu, ada penanganan seperti isolasi. Itu penting dalam meminimalisir penularan. Kedua, kontak penderita akan diketahui dan terlacak sehingga bisa menghambat dan menghentikan penularan. Tes masal akan memperbanyak kasus maka kesiapan fasilitasnya disiapkan terutama rumah sakit.

Bentuk tesnya Polymerase Chain Reaction (PCR) atau rapid test?

Paling penting adalah tes PCR. Itu sudah terstandar WHO. Tes cepat hanya penelitian, bukan penentuan. Itu menggambarkan kondisi awal. Kalau ada yang perlu ditindaklanjuti maka akan dites PCR. Pemerintah sudah menyiapkan 400.000 lebih reagen PCR. Ini penting agar tes PCR massal dapat dilakukan.

Bertambahnya reagen yang telah didistribusikan akan mampu meningkatkan penanganan. Diharapkan itu bisa ditarget sepuluh ribu per hari. Alatnya ada seratus ribu lebih. Itu sudah dua kali lipat tesnya.

Ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) sudah mencukupi?

Sekarang relatif bagus, tapi dokter di rumah sakit swasta masih mengeluh ketersediaan APD. Mereka akhirnya memodifikasi dengan jas hujan dan plastik. Kadang, mereka dapat APD, tapi tidak sesuai standar. Itu tidak menjamin mereka tidak terpapar. Untuk itu pemerintah harus memperhatikan karena rumah sakit swasta diminta pemerintah menangani Covid-19. Kebutuhan seperti APD, alat, dan obat, harus diperhatikan.

Rumah sakit swasta jangan dilupakan. Pembiayaannya ini mereka mandiri. Keuntungan mereka saat ini hanya 30 persen dari biasa. Pengeluarannya malah lebih banyak. APD bahkan diperlukan fasilitas kesehatan tingkat pertama misal Puskesmas dan klinik biasa karena lebih rawan. Mereka lebih rawan karena campur semua di sana.

Kesiapan dokter di daerah mencukupi?

Kalau kebutuhan dokter, tiap daerah punya kebutuhan masing-masing. Tapi social distancing atau pembatasan sosial di daerah harus dilakukan. Daerah harus menyiapkan rumah sakit khusus Covid-19. Kalau perlu rumah sakit darurat. Harus disiapkan jangan sampai ketika ada kejadian tidak siap.

Memang fasilitas di daerah tidak sebagus di DKI Jakarta. Daerah sangat rentan. Penanganannya bukan dokter, tapi mencegah penularan masif juga penting. Pemerintah daerah harus respons dan menjalankan pembatasan sosial di daerahnya. bahkan sampai tingkat desa harus dilakukan pembatasan mobilitas penduduk. 

Di tingkat desa bisa menyiapkan rumah isolasi. Itu harus disiapkan. Seluruh warga desa harus terlibat dalam melacak kontak fisik. Kalau itu digerakan oleh semua maka rantai pemutusan di desa bisa dilakukan. Kalau tidak, banyak yang sakit, tapi fasilitas tidak sebaik di DKI. Dokter harus didukung kebijakan pembatasan sosial. Bahkan pembatasan di tingkas desa harus dilakukan.

Tadi disebutkan penambahan fasilitas di rumah sakit. Apa yang bisa dilakukan mengatasi lonjakan kasus?

Harus ada strategi penataan. Sekarang ada rumah sakit rujukan dan rumah sakit darurat Covid-19. Rumah sakit rujukan harusnya merawat para pasien yang gejalanya berat atau gejala pernapasan pneumonia. Kalau belum parah bisa di Rumah Sakit Wisma Atlet. Ini penting bagi dokter dan pasien. Rumah sakit juga harus dinamis. Jangan statis. Kalau ketersediaan fasilitas di rumah sakit tersebut kurang, harus ditambah.

Bagaimana IDI menanggapi kasus kematian dokter?

Kami mendata dokter yang meninggal dan menampung informasi itu. Data itu bukan dari pemerintah, jadi tidak jelas. Untuk itu, kami membuat audit kematian dokter terkait Covid-19. Dari jumlah dokter yang meninggal akan kami audit dan telusuri kontak mereka. Ini perlu divalidasi dengan proses itu karena kami dapat dari bawah. Audit ini verifikasi final. Kami ingin merekomendasikan sehingga tenaga kesehatan yang lain aman.

Faktor apa yang menyebabkan kematian?

Salah satunya kelelahan. Pandemi ini kejadian luar biasa. Kami mengimbau rumah sakit dan dokter mengatur jadwal. Bukan hanya dokter, tapi seluruh bagian yang merawat. Jangan lebih dari delapan jam. Kalau lebih mengalami kelelahan. Faktor kelelahan ini yang membuat dokter mudah terpapar. Yang dihindari adalah agar fokus tidak menurun saat bertugas.

Beberapa kasus dokter terpapar karena pasien tidak jujur. Tanggapan Bapak?

Ada memang pasien tidak jujur. Tapi yang bersangkutan sebenarnya tidak tahu dia sebenarnya sakit Covid-19. Semua orang bisa menularkan karena tidak tahu mana tempat yang aman. Kami tidak tahu mana yang tertular. Masalahnya di situ. Ada beberapa kasus orang tanpa gejala (OTG) banyak sekali.

Mereka tidak mengetahui riwayat kontak. OTG ini banyak menularkan ke dokter saat berobat. Mereka periksa bukan Covid-19 tapi penyakit lain. Itu yang membuat tenaga medis tidak waspada. Untuk itu, kami mengeluarkan petunjuk penanganan Covid-19 bagi dokter.

Bagi dokter menghadapi pasien apapun harus memakai APD sesuai tempat praktik. Ini untuk menghindari OTG tadi. Dokter harus patuh mengenakan APD berstandar. Pemerintah menjaga ketersediaannya. Kewaspadaan harus dilakukan terhadap seluruh pasien. Ini banyak yang membuat dokter tertular.

Setelah bertugas, apakah dokter membatasi kontak fisik?

Setelah bekerja akan beristirahat dan dites swab. Kalau negatif, boleh kontak dengan orang lain. Ada juga yang lebih berhati-hati sehingga tidak pulang dan bahkan tidur di rumah sakit. Ada bantuan juga dari pemerintah bagi yang bekerja di zona merah menyediakan rumah singgah. Diharapkan di setiap daerah juga begitu.

Adakah santunan untuk dokter yang meninggal?

Sudah dihubungi dan sudah menyerahkan daftar lewat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Semoga bisa direspons. Selain pemerintah, swasta juga ada. Semoga cepat terealisasi.

Tadi disinggung soal data. Seberapa berdampak ketersediaan data dalam penanganan?

Kebutuhannya selain penaganan adalah keterbukaan data sehingga semua orang dapat terlibat dalam mencegah penularan diri maupun penanganan dari Puskesmas kepada warga. Banyak kematian PDP itu belum terlapor dan tekonfirmasi.

Pemerintah sudah mengumumkan angka PDP sudah lebih dari 13.000 dan orang dalam pemantauan (ODP) lebih dari itu. Dengan tes cepat, nomor satu mempercepat dan memperluas testing. Itu akan memunculkan potensi jumlah pasien positif Covid-19.

Identitas data perlu dibuka?

Yang pertama kami menganjurkan daftar PDP selain jumlah dan kematian PDP, diumumkan pemerintah sehingga melahirkan evaluasi kebijakan. Kami berebut terkait tata laksananya, karena belum PDP, tapi sudah meninggal. Testing dilakukan cepat ini sudah diminta Presiden. Ini kunci.

Percepatlah testing secara masal dan luas. Mohon dalam pengadaan alatnya harus dipermudah dan dipercepat. Sehingga tes di daerah-daerah bisa dilakukan. Sekarang 34 provinsi sudah ada. Kalau tidak, mengalahkan kecepatan dalam penemuan dan melokalisir kasus.

Apa imbauan untuk masyarakat agar terlibat aktif dalam pembatasan sosial?

Masyarakat perlu untuk isolasi di rumah dan tidak perlu khawatir karena petugas kesehatan, pemerintah, tetap bersama kawan-kawan, tidak ditinggal sendirian. Tetap diawasi, tetap diobservasi sehingga yang diperlukan kawan-kawan yang isolasi di rumah tetap bisa berhubungan dengan petugas kesehatan. 

Pemerintah telah bekerja sama dengan hampir seluruh penyedia jasa layanan telemedis untuk menyediakan konsultasi kesehatan jarak jauh. Masyarakat yang mengisolasi diri di rumah jangan segan-segan menggunakan layanan telemedis tersebut, baik itu konsultasi kesehatan, ataupun untuk menerima saran dan pesan dari tenaga kesehatan tentang apa yang harus dilakukan selama berada di rumah.

Silakan dimanfaatkan. Jangan khawatir kami dari IDI dan yang lain siap melayani mereka yang memerlukan konsultasi, memerlukan petunjuk-petunjuk bagaimana cara yang baik menjaga kesehatan, bagaimana cara mencari pertolongan untuk periksa lanjutan, melihat perkembangan perjalanan penyakit apakah perlu perawatan di rumah sakatu atau tidak.

Seluruh warga yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumah untuk bersabar dan tetap patuh menjalani masa karantina. Mohon kesabarannya untuk mematuhi apa yang sudah dimintakan pemerintah dan petugas kesehatan untuk secara tertib diam di rumah, tetap jaga kebersihan, kesehatan, dan stamina yang baik.

 

N-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment