Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
PERADA

Contoh Religiositas Kaum Papa

Contoh Religiositas Kaum Papa

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

 

 

Teladan tidak hanya datang dari orang kaya ataupun tokoh agama, tapi juga kaum miskin yang tiada pernah kekurangan derita. Hal inilah yang menggerakkan Sindhunata untuk menuliskan cerita-cerita di dalam buku Aburing Kupu-kupu Kuning. Buku memang diterbitkan Gramedia pada 2019, namun sejatinya kita disuguhi tulisan-tulisan kerohanian Sindhunata dari dekade 1980-an.

Dari total 38 tulisan, sebagian besarnya dicatat pada periode 1983–1986, sewaktu Sindhunata menjadi pastor paroki Gereja Maria Assumpta Pakem, Sleman, Yogyakarta. Sebagai seorang pastor, Sindhunata selalu pergi ke gereja setiap pagi. Dalam rutinitas tersebut, dia mendapati seorang tukang becak yang sering masuk ke gereja berbarengan dengannya.

Lelaki itu berusia sekitar 50. Di gereja, tukang becak tidak berani duduk di depan. Ia merasa pakaiannya tidak pantas dilihat orang. Jadilah, dia selalu duduk di larik paling belakang, dekat tempat air suci. Lelaki itu khusuk berdoa hingga tertidur akibat rasa lelah. Barangkali dia sedang memimpikan keindahan-keindahan (hlm 48).

Melihat pemandangan semacam itu, pikiran Sindhunata terbang membayangkan doa, keluh kesah, dan mimpi-mimpi si tukang becak. Sebelumnya, Sindhunata sudah sering bertemu dan mengobrol dengan banyak tukang becak. Jadi, gambaran kehidupan mereka pun gampang terbayangkan. Tukang becak itu memang tertidur, namun boleh jadi ia justru berdoa dengan sungguh-sungguh dalam alam bawah sadarnya.

Buktinya, setelah misa selesai, tukang becak keluar gereja dan langsung mengayuh. Ia seperti mendapat kekuatan dan semangat baru untuk menjalani sisa hari itu. Meski bekerja puluhan jam, seorang tukang becak belum tentu mendapat hasil cukup untuk kebutuhan keluarga. Tapi, dia yang sering dilihat Sindhunata di gereja menunjukkan, kemiskinan tak membuatnya lupa Tuhan.

Tidak ada gunanya, kata Sindhunata, jika pun beribadah berjam-jam, namun malas bekerja. Demikian sebaliknya. Semua sia-sia kalau manusia hanya sibuk bekerja hingga mengosongkan kehidupan batinnya, lupa beribadah kepada Tuhan (hlm 211). Orang suci, Theresia Avila, mengatakan orang Katolik harus menjadi Maria dan Marta sekaligus. Maria adalah simbol manusia rajin beribadah, sedang Marta simbol manusia rajin bekerja.

Artinya, manusia harus menjalankan ibadah dan kerja secara beriringan. Sindhunata pun percaya, dengan menjadi Maria dan Marta sekaligus, manusia akan dapat mengingat dan menemukan Tuhan di mana pun. Tuhan membersamainya. Ajarannya memang begitu.

Namun yang terjadi orang sering terlena sewaktu bekerja, entah di sawah, pabrik, sekolah, maupun perkantoran. Pulang bekerja, badan sudah lelah dan masih harus menyediakan waktu reriungan bersama keluarga. Setelah itu tidur, tanpa sempat mengingat Tuhan hari itu. Rutinitas demikian terjadi selama enam hari dalam sepekan.

Akibatnya, yang seakan-akan lumrah, orang-orang hanya punya kesempatan mengingat Tuhan pada saat ke gereja, satu kali dalam sepekan (hlm 252). Kebiasaan semacam itu mesti segera diubah dan diperbaiki. Barangkali, layaknya proses metamorfosis kupu-kupu, buku ini mengajak pembaca memasuki tahapan menjadi kepompong, di mana untuk menjadi seekor kupu-kupu yang indah dan disenangi banyak orang, kita harus menahan diri dari segala nafsu. Kita harus mengintrospeksi segala tingkah laku buruk sewaktu menjadi ulat.

Tak sekadar disuguhi cerita dan peristiwa yang dapat dijadikan teladan, dalam Aburing Kupu-kupu Kuning, pembaca juga diajak merenungkan potret kehidupan yang pantas disesali, sehingga dapat menemukan kedamaian dan tingkat keberimanan yang semakin kuat. Tuhan telah menaburkan cinta kasih. Kemampuan berpikir, kelancaran bernapas, mata yang dapat melihat, tubuh yang sehat dan sempurna geraknya adalah sebentuk anugerah Tuhan setiap hari.

Ini jelas pantas disyukuri setiap saat, tidak cukup hanya seminggu sekali. “Beribadahlah dalam setiap tindakanmu dan temukan Tuhan dalam semua segi kehidupanmu,” tulis Sindhunata di sampul belakang. Tentang hal tersebut, religiositas orang-orang kecil nanmiskin dalam buku ini memang pantas dijadikan teladan. 

 

Diresensi Hanputro Widyono, Mahasiswa Sastra Indonesia UNS Solo

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment