Koran Jakarta | December 19 2018
No Comments
Phantom of The Opera

Cinta Segitiga dalam Legenda Klasik

Cinta Segitiga dalam Legenda Klasik

Foto : Koran jakarta/ M Ismail
A   A   A   Pengaturan Font

Meskipun telah dipertontonkan sejak 30 tahun silam sampai sekarang, pertunjukan kisah klasik Phantom of The Opera selalu dipadati penonton, mulai dari remaja hingga orang tua. Tak heran, Pertunjukan opera yang diangkat dari kisah novel Prancis, Le Fantôme de l’Opéra, karangan Gaston Leroux tersebut mendapat apresiasi positif dan menuai pujian dari penonton.

Di sela-sela rangkaian pertemuan dengan sejumlah profesional terkait perkembangan pasar modal di New York, Amerika Serikat (AS), delapan peserta International Visitor Leadership Program (IVLP), termasuk wartawan Koran Jakarta, Muchammad Ismail, menyempatkan diri untuk menikmati sajian seni pertunjukan opera di Broadway pada awal November. Para peserta IVLP beserta tiga pendamping akhirnya memutuskan untuk memilih menonton Phantom of The Opera dari sekian banyak pertunjukan saat itu.

Drama musikal yang digarap oleh komposer ternama, Andrew Lloyd Webber itu berlatarbelakang gedung pertunjukan Paris Opera House. Kisah berawal ketika sosok Christine Dae yang diperankan Ali Ewoldt sangat terobsesi menjadi pemain utama opera di gedung ternama tersebut. Namun, gadis bersuara sopran tersebut tak yakin bisa menjadi pemeran utama, menggantikan Carlotta yang saat itu menjadi primadona.

Keinginan tersebut akhirnya diketahui oleh sosok misterus, Phantom of The Opera yang diperankan oleh aktor ganteng, Ben Crawford. Karena terobsesi dengan Christine, sang hantu pun secara diam-diam berupaya membantu gadis pujaannya mewujudkan mimpinya. Serangkaian teror dilakukannya, terutama terhadap Carlotta.

Aksi teror pun berhasil membuat Carlotta ketakutan hingga kehilangan suara. Sang sutradara pun akhirnya kebingungan dan melakukan audiensi untuk mencari pemain pengganti Carlotta. Dari hasil seleksi, sang sutradara akhir menunjuk Christine yang saat itu menyanyikan lagu Don Juan Triumphant gubahan sang hantu yang ternyata bernama Eric Destler.

Cinta Segitiga

Selama menjadi primadona baru, Christine terus dibayang-bayangi sang hantu. Hingga tiba waktunya, Eric mengungkapkan perasaan dan mengajak Christine ke tempat tinggalnya yang ternyata berada di bawah Paris Opera House. Padahal, Christine telah mempunyai kekasih yang dikenalnya sejak masih remaja, Raoul.

Terjebak dalam cinta segitiga, akhirnya Christine memutuskan untuk memilih Raoul yang diperankan Jay Amstrong Johnson. Singkat cerita, Eric atau Phantom of The Opera akhirnya merelakan Raoul dan Christine menikah.

Pertunjukan tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga setengah jam dengan diselingi jeda atau break sekitar 30 menit. Selama pertunjukan berlangsung penonton dibuat kagum dengan setting panggung yang spektakuler dan berubah-ubah. Efek suara yang dimunculkan pun seakan-akan membuat penonton ikut melebur dalam pertunjukan di Paris Opera House.

Tak hanya itu, semua pendukung, baik itu orchestra maupun lagu yang dinyanyikan para pemeran dilakukan secara live alias bukan adegan lipsync. 

Salah satu peserta IVLP, Dian Ayu Yustina mengaku sangat takjub dengan pertunjukan Phantom of The Opera di Majestic Theatre. Menurut ekonom Bank Danamon itu, dari berbagai pertunjukan yang pernah ditontonnya, terutama di Sydney Opera House, Phantom of The Opera yang terbagus.

“Bagus banget. Show-nya sih sesuai ekspektasi. Lagulagunya bagus, perubahan set (setting panggung) dan koreografinya benar-benar amazing. Selain itu, di Phantom, banyak intrik dan dramanya,” ujarnya.  mad/R-1

Pementasan Terpanjang

Phantom of The Opera saat ini menjadi pertunjukkan terlama sepanjang sejarah show drama musikal di Broadway, New York, AS. Kisah klasik dan atraksi panggung yang spektakuler membuat pertunjukan drama musikal Phantom of The Opera masih banyak penontonnya. Bahkan, boleh dibilang Phantom of The Opera saat ini menjadi ikon pertunjukan di Broadway.

Opera garapan Andrew Lloyd Webber tersebut pertama kali dipertontonkan pada 1986 di West End London, Inggris. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 26 Januari 1988, Lloyd Webber membawa karyanya tampil di pusat pertunjukan opera terkemuka di Kota New York, Broadway. Karena sampai sekarang masih dipentaskan, Phantom of The Opera dinobatkan sebagai drama musikal yang terlama tampil di Broadway.

Berdasarkan data yang dihimpun Koran Jakarta dari berbagai sumber, pada 11 Februari 2012, Phantom of The Opera merayakan penampilannya ke 10.000 di Broadway. Pundi-pundi dollar yang dihasilkan pun sangat besar.

Sejak pertama kali dipentaskan hingga 2013, Phantom of The Opera berhasil mendulang pendapatan tiket secara gross di seluruh dunia senilai 5,6 miliar dollar AS atau setara 80,7 triliun, dengan 845 juta dollar AS atau setara 12,2 triliun rupiah diantaranya berasal dari Broadway. Tak ayal apabila Phantom of The Opera dinobatkan sebagai entertainment tersukses secara keuangan sebelum akhirnya dilampaui The Lion King pada 2014.

Ikon Broadway

Menurut Dian Ayu Yustina, Phantom of The Opera itu kisah klasik yang sudah lama dipentaskan di Broadway dan juga sudah difilmkan. Tak heran jika dia menyebut Phantom sudah menjadi ikon pertunjukkan Broadway.

Pujian tersebut cukup beralasan mengingat sampai sekarang peminat Phantom of The Opera masih banyak meskipun sudah dipentaskan sejak lama. Menurutnya, hal itu dipengaruhi sejumlah faktor. Pertama, kisah klasiknya yang diangkat dari Novel berjudul asli Le Fantôme de l’Opéra karya Gaston Leroux (1868-1927).

Kedua, komposer yang menggarapnya adalah Andrew Lloyd Webber. “Dia kan komposer terkenal Amerika Serikat dan sudah meraih banyak penghargaan,” ujar Dian.

Ketiga, alur cerita yang dikemas Lloyd Webber sangat bagus terlebih dengan bumbu-bumbu cinta segitiga. Keempat, tata panggung yang ditampilkan juga sangat luar biasa.

“Tiap perubahan scene berjalan sangat rapih dan apik,” ujarnya. Seperti diketahui, Broadway yang terletak di Distrik Manhattan, New York menjadi pusat industri teater di AS. Di kawasan tersebut terdapat sekitar 40 gedung teater dengan kapasitas tempat duduk di atas 500 kursi.

Sepanjang musim pementasan teater pada 2017-2018, nilai pendapatan tiket dari pementasan opera di kawasan Broadway mencapai 1,7 miliar dollar AS atau setara 24,49 triliun rupiah (kurs Rp14.408 per dollar AS).  mad/R-1

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment