Cinta Buatan Indonesia Jangan Terpaksa | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 19 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Cinta Buatan Indonesia Jangan Terpaksa

Cinta Buatan Indonesia Jangan Terpaksa

Foto : ANTARA/HO-Humas PT Semen Gresik.
Rumah BUMN yang berada di Jalan Jenderal Sudirman Rembang, Jawa Tengah.
A   A   A   Pengaturan Font
"Cinta Buatan Indonesia” jangan hanya menjadi slogan, jangan hangat-hangat tai ayam.

Entah sudah berapa kali pencanangan cinta buatan Indonesia dilakukan. Rasanya hampir semua Kepala Negara di masa pemerintahannya selalu mencanangkan gerakan cinta buatan Indonesia. Buat generasi 1980-an, tentu tidak asing dengan lirik lagu Aku Cinta Buatan Indonesia yang dinyanyikan grup musik asal Bandung, Bimbo. “Aku cinta, Anda cinta, semua cinta, buatan Indonesia” selalu kita dengar tiap hari di TVRI, satu-satunya stasiun televisi nasional saat itu.

Di masa Orde Baru, Presiden Soeharto sampai perlu memasukkan Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri dalam Kabinet Pembangunan IV, 1983–1988 yang dijabat Ginanjar Kartasasmita guna menggugah kesadaran semua warga Indonesia untuk lebih mencintai produk-rpoduk dalam negeri.

Sebelumnya, di Era Orde Lama, grup musik papan atas, Koes Bersaudara, pernah dipenjara karena musiknya dinilai kebarat-baratan. Musik ngak ngik ngok, istilah saat itu, dinilai tidak mencerminkan Bangsa Indonesia.

Yang terbaru, Presiden Joko Widodo akhir pekan lalu mengajak semua masyarakat untuk membeli produk pertanian, perikanan, dan produk UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) dalam negeri. Ajakan tersebut untuk meningkatkan pendapatan para petani, nelayan, dan para pelaku usaha kecil.

Ajakan Presiden Jokowi itu bertujuan bukan hanya akan menguatkan daya beli petani, nelayan, dan UMKM, tapi juga akan menjadi mesin penggerak bagi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2020. Presiden meminta kerja sama untuk membangkitkan pelaku usaha kecil yang sangat terdampak oleh kontraksi ekonomi akibat pandemi Covid-19. Dengan membeli produk pertanian, nelayan, dan UMKM buatan anak bangsa, Presiden Jokowi berharap roda perekonomian bisa digerakkan lagi.

Permintaan Presiden Jokowi ini cukup wajar mengingat negara lain juga melakukan kampanye besar-besaran agar untuk bangga menggunakan produk dalam negerinya. Dan itu tidak tanggung-tanggung dilakukan, mereka serius dengan mengenakan bea masuk yang tinggi terhadap barang impor. Dengan demikian, produk dalam negeri merajai pasar lokal mereka. Dan yang terpenting, devisa negara tidak dihambur-hamburkan untuk membeli barang-barang atau produk makanan.

Sepanjang 2019 saja, total impor Indonesia sebesar 171,3 miliar dollar AS atau setara 2.500 triliun rupiah. Dari jumlah tersebut, 15 miliar dollar AS atau sekitar 210 triliun rupiah di antaranya hanya untuk impor komoditas yang bisa dimakan seperti gandum-ganduman, makanan olahan, buah-buahan, sayuran, daging binatang hidup, gula dan kembang gula, biji/buah berminyak, susu, telur, dan mentega. Tidak termasuk beras.

Ajakan Jokowi agar kita semua membeli produk pertanian, perikanan, peternakan, dan UMKM dalam negeri tentu patut kita acungi jempol. Agar ajakan tersebut tidak hanya menjadi slogan, seperti ajakan-ajakan atau pencanangan yang sudah-sudah, pemerintah bisa memberi contoh dengan menjadi pembeli utama semua produk dalam negeri. Pemerintah juga bisa manfaatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai garda terdepan untuk menjadi pelindung produk dalam negeri. Tidak hanya itu, swasta juga bisa turut berperan, misalnya hotel-hotel dan rumah makan harus menyajikan buah dan produk makanan lainnya dari dalam negeri, kecuali untuk item-item tertentu.

Kita harus bisa menjadikan produk nasional terutama produk pertanian, perikanan, dan UMKM seperti batik. Batik tidak hanya sudah menjadi tuan rumah di negara sendiri, tetapi banyak warga asing yang bangga mengenakan batik khas Indonesia yang sudah resmi dinobatkan UNESCO sebagai warisan dunia untuk kategori Budaya Lisan dan Nonbendawi.

Jangan malu menggunakan produk buatan dalam negeri. Produk Indonesia tidak kalah mutunya dengan produk asing. Jangan sampai terjadi seperti cerita banyak orang yang malu membeli buatan Indonesia. Makanya saat ke luar negeri, apa pun dia beli. Setelah dibeli, ternyata di barang tersebut terdapat tulisan Made in Indonesia.

Mari kita jadikan peringatan 75 Tahun kemerdekaan Indonesia sebagai tonggak untuk bangga dengan buatan Indoensia. “Cinta Buatan Indonesia” jangan hanya menjadi slogan, jangan hangat-hangat tai ayam, jangan terpaksa karena ekonomi terpuruk akibat covid-19. Indoensia Maju. Bangga Buatan Indonesia.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment