Cegah Sampah dari Rumah Masuk ke Sungai Citarum | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 10 2019
No Comments
suara daerah

Cegah Sampah dari Rumah Masuk ke Sungai Citarum

Cegah Sampah dari Rumah Masuk ke Sungai Citarum

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Citarum merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat (Jabar) yang mengaliri area irigasi untuk pertanian seluas 420.000 hek­tare. Citarum mengaliri 12 wi­layah administrasi kabupaten/kota dan merupakan sumber air untuk kebutuhan sekitar 28 juta warga.

Pemanfaatan Sungai Cit­arum sangat bervariasi, mulai dari kebutuhan rumah tangga, irigasi, pertanian, peternak­an, sampai ke sektor industri. Sungai ini juga merupakan sumber air minum bagi ma­syarakat kota besar seperti Bandung, Purwakarta, Bekasi, dan Jakarta.

Sekarang Citarum justru menjadi momok menyeram­kan bagi warga Jabar karena air yang mengalir di sungai ini telah tercemari limbah beracun dan berbahaya (B3). Salah satu sumber pencemar­an yang paling signifikan bagi Citarum adalah limbah industri. Dengan sekitar 2.700 industri sedang dan besar yang membuang limbahnya ke ba­dan sungai.

Kondisi itulah yang mem­buat Citarum mendapatkan julukan sungai terkotor di du­nia dan jadi sorotan dunia in­ternasional. Upaya penanggu­langan sampah Citarum terus digulirkan dengan anggaran triliunan rupiah. Bukan hanya anggaran dari pemerintah pusat melalui APBN ataupun APBD Jabar, Bank Dunia pun menawarkan bantuan dana untuk Citarum.

Untuk mengetahui apa saja yang telah dan akan dilakukan jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar menata dan membersihkan Sungai Cit­arum dari sampah dan limbah, wartawan Koran Jakarta, Teguh Raharjo, berkesempat­an mewawancarai Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, di Ban­dung, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Apakah benar Bank Du­nia membantu dana untuk penanggulangan Sungai Citarum sebesar 1,4 triliun rupiah?

Bank Dunia akan me­ngucurkan dana bantuan se­besar 100 juta dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar 1,4 triliun rupiah untuk mengatasi persoalan sampah di Sungai Citarum. Nantinya, 80 persen dari total dana pinjaman Bank Dunia dipergunakan untuk mengatasi persoalan sampah di Bandung Raya. Faktanya sekitar 80 persen sampah di Sungai Citarum berasal dari kawasan Bandung Raya. Seki­tar 20 persen sampah Citarum berasal dari luar Bandung Raya, seperti Bekasi, Kara­wang, dan Purwakarta.

Dana dari Bank Dunia ini detailnya digunakan untuk apa?

Dana ini bukan digunakan untuk ngangkut-ngangkut sampah, kami mau berinvesta­si di level rumah-rumah, se­perti bikin biodigester, di level RT kami bikin TPS 3R. Kalau masih belum cukup, di keca­matan bikin skala kawasan, sampai akhirnya betul-betul yang menjelang ke sungainya itu jumlah sampah mendekati nol. Maka, teknologi-teknologi rumahan level RT/RW itu akan banyak dibiayai oleh anggaran dari Bank Dunia ini.

Teknis pembagiannya se­perti apa?

Sebanyak delapan kabupaten/kota yang berada di wilayah DAS Citarum akan men­dapatkan dana ban­tuan untuk mengatasi sampah su­ngai hingga bersih. Rapat persiapan dan usulan ke­butuhan penanganan limbah domestik DAS Citarum sudah dilaksanakan, bersama Bupati Bekasi, Karawang, Cianjur, Purwakarta, Bandung Barat, Bandung serta Wali Kota Ci­mahi dan Bandung di Gedung Sate.

Prioritasnya di daerah tersebut agar sampah yang dibuang berkurang. Sebab kan 80 persen sampah dari daerah itu. Sebanyak 20 per­sen sampah Citarum berasal dari Kabupaten Purwakarta, Cianjur, Karawang, dan Bekasi. Maka itu, dana bantuan akan dialokasikan kepada setiap daerah sesuai dengan proporsi permasalahan­nya.

Nilainya berbeda-beda?

Metro Ban­dung akan men­dapat dana bantuan terbesar dengan jum­lah 300 miliar ru­piah. Anggarannya akan kami bagi sesuai proporsi persoalan sampahnya. Kalau dirupiah­kan minimal 50 miliar rupiah per kabupaten/kota. Ada juga yang 100 miliar rupiah, 200 miliar rupiah, dan paling besar 300 miliar rupiah.

Anda yakin akan tersalur­kan dengan benar?

Optimistis bisa dilaksana­kan. Jika bisa dilaksanakan dengan baik sesuai rencana dan program, saya optimistis sungai sepanjang 300 kilome­ter akan bebas dari sampah dalam lima tahun ke depan. Jadi, kami komit dan optimis­tis dalam lima tahun sampah Citarum akan selesai.

Ada semacam jaminan dari daerah untuk sanggup menjalankan program de­ngan anggaran yang besar ini?

Semua kepala daerah akan membuat surat kesanggupan kepada Gubernur Jabar untuk ikut berperan serta anggaran, di antaranya harus melakukan pembebasan lahan, fasilitas, dan biaya operasional. Boleh juga nantinya untuk membeli truk sampah yang canggih atau bikin biodigester raksasa.

Kunci penyelesaian sampah Citarum adalah pencegah­an sampah sejak dari rumah. Sebab, anggaran itu akan lebih banyak digunakan untuk pen­cegahan sampah habis di tem­pat, pendirian bank sampah di tingkat kecamatan.

N-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment