Koran Jakarta | April 19 2019
No Comments

Cegah Kanker dengan Gaya Hidup Sehat

Cegah Kanker dengan Gaya Hidup Sehat
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Berdamai dengan Kanker

Penulis : Rahmi Fitria

Penerbit : Elex Media

Cetakan : 2018

Tebal : 208 halaman

ISBN : 978–602- 04 – 5330 - 9

Penyakit kanker ibarat monster mengerikan. Tak banyak orang tahu bahwa sel kanker sebetulnya hidup berupa sel mikro tumor tak berbahaya yang terdapat dalam tubuh setiap orang. David Servan, dokter dan ilmuwan Prancis yang juga seorang penyintas kanker otak stadium dua, menggambarkan sel kanker ibarat gerombolan bandit bersenjata di luar jangkauan hukum. Mereka menabrak aturan sistem tubuh yang dipatuhi sel-sel sehat seperti kewajiban untuk mati setelah sekian kali membelah diri. Jika tidak segera dibasmi, sel kanker akan menduduki berbagai organ vital dan merusak fungsinya. Akhirnya berujung kematian.

Hingga kini belum diketahui pasti penyebab kanker. Sebagai penyintas kanker, penulis buku ini merasa bahwa pemicu kanker payudara yang dialami karena emosi negatif yang dipendam dan stres berkepanjangan. Pemicu kanker bukan cuma menyangkut persoalan fisik, namun juga faktor emosi dan pikiran yang tidak bisa dikelola dengan. Hal itu memengaruhi keseimbangan tubuh fisik yang melahirkan penyakit.

Ketika sel kanker tumbuh dan berkembang menjadi penyakit, yang sebaiknya dilakukan menerima kehadirannya sambil berupaya menenangkannya agar kembali pada sifat asalnya yang tak berbahaya. Pikiran tenang dan hati damai merupakan kunci menenangkan sel-sel kanker. Pengobatan kanker kerap hanya berfokus pada aspek fisik, melupakan pikiran dan hati. Padahal keduanya justru menjadi fondasi penanganan kanker.

Terdapat korelasi antara kesehatan tubuh fisik, pola pikir, dan spiritualitas seseorang. Ilmuwan dan psikiater Amerika, David R Hawkins, mengatakan bahwa atom, sel, elemen, elektron, dan segala yang membentuk tubuh manusia dipengaruhi kesadarannya. Dengan kata lain, kesadaran seseorang terkait emosi, sikap, dan keyakinannya dapat memengaruhi kesehatannya.

Hawkins mengatakan titik awal untuk memiliki kesadaran positif yang bermanfaat untuk proses penyembuhan, berani mengambil tanggung jawab atas diri sendiri dan berupaya mencari jalan kesembuhan. Pasien harus berani menghilangkan keputusasaan dan ketidakberdayaan, dua jenis kesadaran negatif. Dua itu kerap dialami pasien kanker dan bisa mempercepat perkembangan kanker. Tentu saja keduanya menghambat proses penyembuhan.

Tubuh pada dasarnya memiliki sistem pertahanan untuk melawan proses perkembangan sel kanker. Cara memanfaatkannya ditentukan kebiasaan hidup tiap-tiap orang yang bisa jadi berbeda pada setiap budaya. Sebagian besar orang percaya, kanker berkaitan erat dengan gen, bukan gaya hidup. Namun, sejumlah penelitian mutakhir menunjukkan, faktor lingkungan seperti nutrisi, emosi, mental, dan spiritualitas bisa memengaruhi ekspresif genetik. Artinya, gaya hiduplah yang sebetulnya menjadi pangkal timbulnya kanker, bukan bluerprint kode genetik.

Menurut Data World Cancer Report (2003), jumlah penderita masyarakat barat mencapai 70 kali lipat penderita kanker Asia. Orang Asia yang tinggal di barat, selama satu atau dua generasi, kecepatan pertumbuhan kanker mereka tidak jauh berbeda dengan orang barat. Para peneliti juga menemukan, kecepatan pertumbuhan kanker pada anak adopsi berkolerasi dengan orang tua adopsinya, bukan orangtua biologisnya. Penelitian tersebut membuktikan, gaya hidup sangat berpengaruh bagi kemunculan kanker.

Terapi konvensional berupa operasi, kemoterapi, radioterapi, dan imunoterapi sangat diperlukan untuk mengobati kanker. Namun, tidak bijak terus-menerus menggantungkan harapan pada pengobatan konvensional. Setiap orang harus berupaya menerapkan gaya hidup sehat yang seimbang secara fisik, emosional, maupun spiritual untuk menciptakan sistem tubuh antikanker. 


Diresensi Misnawi, Dosen IAIN Madura

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment