Cari Harun Masiku, KPK Minta Bantuan Interpol | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 21 2020
No Comments
Kasus Suap I Penyidik Geledah Ruang Kerja Komisioner KPU

Cari Harun Masiku, KPK Minta Bantuan Interpol

Cari Harun Masiku, KPK Minta Bantuan Interpol

Foto : ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY
BARANG BUKTI I Penyidik KPK membawa koper yang diduga berisi barang bukti usai menggeledah Kantor KPU Pusat di Jakarta, Senin (13/1). Penggeledahan itu dilakukan untuk penyidikan kasus dugaan suap terhadap Komisioner KPU Wahyu Setiawan.
A   A   A   Pengaturan Font
Ditjen Imigrasi Kemenkumham mencatat tersangka Harun Masiku telah keluar Indonesia menuju Singapura pada Senin (6/1) melalui Bandara Soekarno-Hatta.

 

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera berkoordinasi dengan Kepoli­sian Negara Republik Indo­nesia (Polri) untuk meminta bantuan National Central Bu­reau (NCB) Interpol Indonesia mencari kader PDI-P, Harun Masiku (HAR).

“Iya, kami akan segera berkoordinasi dengan Polri un­tuk meminta bantuan NCB In­terpol,” kata Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron, di Jakarta, Senin (13/1).

Harun Masiku merupakan salah satu tersangka suap ter­kait dengan pergantian an­tarwaktu (PAW) anggota DPR RI dari Fraksi PDI-P periode 2019–2024.

Ghufron pun yakin tersang­ka Harun tidak akan sulit dite­mukan. “Saya kira untuk pen­jahat koruptor tidak akan sulit ditemukan,” ucap Ghufron.

Sebelumnya, Ditjen Imigrasi Kemenkumham mencatat Har­un telah keluar Indonesia menu­ju Singapura pada hari Senin (6/1) melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Diketahui dalam kasus tersebut, KPK telah melakukan kegiatan tangkap tangan dela­pan orang pada hari Rabu (8/1) hingga Kamis (9/1) di Jakarta, Depok, dan Banyumas. Dari delapan orang tersebut, diketahui tidak ada nama Harun.

KPK pada hari Kamis (9/1) telah mengumumkan empat tersangka terkait dengan tin­dak pidana korupsi suap pene­tapan calon terpilih anggota DPR RI 2019–2024. Sebagai penerima, yakni anggota KPU, Wahyu Setiawan (WSE), dan mantan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) atau orang kepercayaan Wahyu, Agustiani Tio Fridelina (ATF). Sebagai pemberi Harun Masi­ku dan Saeful (SAE) dari unsur swasta atau staf Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

Diketahui, Wahyu me­minta dana operasional 900 juta rupiah untuk membantu Harun menjadi anggota DPR dari Dapil Sumatera Selatan I menggantikan calon terpilih anggota DPR dari PDI-P Dapil Sumatera Selatan I, Nazarudin Kiemas, yang meninggal du­nia. Dari jumlah tersebut, Wa­hyu menerima 600 juta rupiah.

Geledah Ruang KPU

Sementara itu, penyidik KPK menghabiskan waktu lebih dari delapan jam meng­geledah ruang kerja anggota KPU, Wahyu Setiawan, di Mess Bank Indonesia, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Selain itu, KPK juga melakukan peng­geledahan di rumah dinas Wahyu yang berlokasi di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara KPK, Ali Fikri, menjelas­kan penggeledahan ini di­lakukan seusai penyidik me­nyelesaikan administrasi izin sita maupun penggeledahan kepada Dewan Pengawas (De­was) KPK.

“Informasi sementara dari tim di lapangan mendapatkan beberapa dokumen yang penting terkait dengan rangkaian perbuatan dari para tersang­ka,” katanya.

Sedangkan Ketua KPU, Arief Budiman, mengatakan penyi­dik KPK melakukan penggele­dahan di ruang kerja Wahyu Setiawan ketika anggota KPU sedang menghadiri sidang di Mahkamah Konstitusi. “Yang dimasuki hanya ruangannya Pak Wahyu,” kata Arief.

Selama penggeledahan, KPU sudah menugasi beberapa orang untuk membantu mempermudah pemeriksaan dokumen yang dibutuhkan KPK. “Kami juga sudah sam­paikan bahwa prinsipnya KPU terbuka kooperatif siap bekerja sama bilamana diperlukan klarifikasi informasi tambahan dokumen, nanti kita siap hadir dan sediakan,” ujarnya. Ant/ola/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment