Koran Jakarta | February 22 2017
1 Comment

Cara Penulis Melawan Realitas

Cara Penulis Melawan Realitas

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Judul           : The Seven Good Years

Pengarang : Edgar Keret

Penerbit     : Bentang

Cetakan     : Juni 2016

Tebal          : 198 Halaman

ISBN`         : 978-602-291-200-2

Sebuah perang dimanapun itu, tetap menyisakan trauma menda­lam. Ada banyak reruntuhan, ban­gunan yang hancur, perasaan-perasaan yang rapuh, dan harapan-harapan yang musykil balik lagi. Tapi, perang memi­liki riwayat, sejarah, dan layak untuk kita kisahkan. Begitu pula perang yang ada di Palestina, perang antara muslim dengan orang Yahudi. Perang ini bukan semata mata perang fisik dan senjata, tetapi juga perang ideologi, perang sejarah, dan perang mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan.

Menjadi manusia yang tumbuh dan besar diantara perang memang bukan­lah sesuatu yang mudah. Edgar Keret seorang penulis Yahudi yang lahir 20 Agustus 1967 pun mengalami ketaku­tan-ketakutan itu. Rasanya tak mudah menjadi seorang Yahudi, yang boleh dibilang dikecam orang seluruh dunia karena membantai Palestina.

Amat susah, itulah yang dirasakan Keret untuk menjelaskan kepada anaknya tentang sebuah dunia yang dihadapinya. Tapi, keret mengatasi hal ini dengan cara yang alamiah. Ia mengajak anaknya mendengar deru bom, suara mesiu, hingga dentuman senjata di kanan-kirinya dengan biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.

Memoar yang ditulisnya bukanlah memoar yang bersifat keluar, tetapi le­bih bersifat ke dalam. Dalam memoar yang ditulisnya, kita justru menemu­kan bagaimana keseharian penulis di eksplorasi lebih. Tak hanya itu, kita bakal mendapati cerita-cerita yang tak ada kaitannya dengan perang, tapi ada di sekitar penulis.

Dalam nukilan esainya berikut misalnya “Dia benar-benar hidup di masa sekarang : Dia tidak pernah mendendam,tidak pernah takut akan masa depan. Dia benar-benar tidak punya ego. Dia tidak pernah mem­pertahankan kehormatannya atau mengambil keuntungan”. Dalam esai yang bertajuk Bayi Besar , ada peras­aan-perasaan yang bernada khawatir, tetapi juga berupaya menenangkan.

Ada ketakutan besar, tapi hendak di­lawan dengan optimisme, bahwa kelak anaknya tak boleh memiliki sikap pesi­mis, apalagi takut akan masa depan. Mengingat negara yang terus-menerus dalam keadaan perang, cenderung susah membayangkan masa depan. Inilah sebagian dari cara Keret untuk menghadapi realitas yang ia alami.

Bila anda berharap menemukan rumus dan cara menghadapi perang, anda tak bakal menemukannya disini. Tetapi bila anda hendak mencari bagaimana cara Keret menghadapi situasi dan pengalaman berkesan dalam hidupnya, kita bakal menemu­kan kisahnya di buku ini. Seperti di esai bertajuk Dengan (tidak) hormat, dikisahkan pengalaman Keret selama pekan buku diberbagai negara.

Keret dulu di masa kecilnya sering meminta tanda tangan kepada penulis idolanya, tetapi kini ia berubah, ia ha­rus menandatangani buku-buku dari penggemarnya. Dan sesekali menulis­kan pesan yang diminta pembaca buku­nya di halaman awal buku itu. Ia mulai mencoba eksperimen ketika buku-buku itu hendak dimintakan tanda tangan dan kata-kata dari Keret, ia mencoba untuk menuliskan kalimat-kalimat fiksi.

Setiap kalimat yang dituliskan di buku mereka, macam-macam dan hampir semua imajinasi. Misalnya “untuk Tziki. Aku mengakui kalau aku bertingkah seperti bajingan. Tetapi, kalau adikmu bisa memafkanku, kamu juga bisa”. Kalimat-kalimat itu justru berbuah tamparan dan kemarahan dari seorang pembaca yang tak terima de­ngan kalimat yang dituliskan Keret.

Peresensi Arif Saifudin Yudistira, tuan rumah Pondok Filsafat Solo, guru MIM PK Kartasura

View Comments

Instagram
Senin 9/1/2017 | 09:47
ia adalah seorang penulis terkenal

Submit a Comment