Koran Jakarta | May 19 2019
No Comments

Capres Segar: Nurhadi-Aldo

Capres Segar: Nurhadi-Aldo

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Pekenalkan—walau mungkin kini sudah ter­kenal, pasangan capres dan cawapres baru, di luar yang sudah diumumkan. Nama yang diperkenalkan adalah Nurhadi-Aldo Suparman. Kurang nyaman karena disingkat menjadi “dildo”—alat pemuas seks yang kurang nyaman dibicarakan. Se­jak bulan lalu, pasangan ini mer­ampas perhatian. Karena segar, tidak kaku, dan sedikit melompat dari tata krama yang ada.

Maklum, ini sebenarnya adalah pasangan fiktif, pasangan yang tidak benar-benar ada, tidak benar-benar maju dalam pilpres. Foto Nurhadi yang ditampilkan lewat media sosial, sebenarnya seorang pemijat di wilayah tem­pat tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Sejak empat tahun lalu, foto dirin­ya yang “meyakinkan” dengan tampang pejabat sudah muncul di media sosial dengan pengi­kut lumayan banyak dan terus bertambah. Bersama dengan Aldo, keduanya dicalonkan Partai untuk Kebutuhan Iman—tentu saja ini juga partai politik tidak benar-benar ada, mereka berdua dipasangkan, ditampilkan. Dalam hal ini, semua ini ulah admin, atau dalang, dan kita mengenal dengan sebutan Edwin.

Edwin, dan para pendu­kung pasangann Nurhadi-Aldo menyapa masyarakat. Dengan humor segar khas anak muda, dengan nada satire—yang meledek pasangan resmi yang sok menggurui, dan ada kesan akrab-lucu. Masyarakat tidak dipaksa-paksa memilih misalnya. Dan ternyata, pendekatan ini mendapat respons masyarakat. Ibarat kotak kosong, Nurhadi- Aldo membuat persaingan di pilpres ada lucunya. Tidak melulu tentang kehancuran suatu negara, atau pameran kebencian.

Dengan pengikut yang sudah ratusan ribu, bisa dipastikan ban­yak yang mengikuti, dan mem­berbincangkan, sehingga pesan yang disampaikan, kalau dijum­lah mencapai jutaan kali dibaca. Dan Edwin, mengelola dengan baik. Beberapa postingan mem­beri kesan lebih mendidik dan tidak membosankan. Kalau celah ini dimasuki, capres bohongan ini malah lebih real, lebih nyata dalam bersapa. Ini menunjuk­kan kembali bahwa komunikasi dalam masyarakat kita bisa tetap ketat, tapi juga lucu, bisa tetap gecul . Ada sindiran, ada kritik, tapi dalam balutan senyum. Kutipan-kutipan yang dimuncul­kan selama ini menunjukkan itu.

Memang sebelum ada banyak capres-cawapres yang dimuncul­kan. RSS mungkin salah satunya yang menimbulkan kelucuan karena naifnya. Sebagai calon yang mencalonkan diri, mem­buat polling sendiri di akunnya, padangan bisa melambung-lam­bung. Semua rakyat dijanjikan akan diberi duit misalnya. Semua yang punya utang akan dilunasi. Saya termasuk yang mengikuti, meskipun ketika disusun susunan kabinet, nama saya tak termasuk di dalamnya. Ketika cuitan-nya mulai menjurus mendukung ke salah satu calon, ditinggalkan pengikutnya.

Nurhadi-Aldo berbeda, mudah-mudahan. Sejak awal pemuncu­lannya memberi kesan ini fiksi, ini “main2”, dan justru karena itu menghibur—sesuatu yang amat sangat dibutuhkan dalam komuni­kasi politik saat ini. Dengan segala kesederhaan dalam penampilan di postingan, memperkuat bahwa yang disampaikan perlu diden­gar. Bukan hanya oleh pengge­marnya, melainkan, justru oleh tim pemenangan calon-calon resmi yang berkuasa dan ber­punya dana.

Atau jangan-jangan, Nurha­di-Aldo lebih serius dari yang selama ini ada. Karena bahkan dengan modal cuitan saja, telah bisa ratusan ribu orang menoleh, dan merasakan selingan yang menyehatkan. Yang mengembalikan bahwa pilpres juga suatu pesta, juga kegembiraan, suatu senyum dan tawa, yang kini dirampas ketegangan permusuhan.

Nurhadi-Aldo, teruskan teruslah berkarya dengan bebas murni sampai pilpres sebenarnya nanti.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment