Koran Jakarta | November 23 2017
No Comments
SAINSTEK

Cangkang Kepiting Pembasmi Nyamuk Malaria

Cangkang Kepiting Pembasmi Nyamuk Malaria

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Studi menunjukkan bagaimana campuran chitin dan silver nanopartikel menghambat pertumbuhan larva nyamuk.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari National Taiwan Ocean University , menunjukan cara baru dalam penanganan nyamuk malaria. Studi yang dilakukan oleh Jiang-Shiou Hwang ini, berhasil menunjukkan bahwa campuran serbuk kepiting yang tidak beracun dari chitin dan partikel perak nanosisasi dapat menjadi cara ampuh yang ramah lingkungan.

Campuran tersebut untukmengendalikan penyebaran nyamuk pembawa penyakit. Terutama pada kasus nyamuk malaria. Sejumlah nyamuk dapat berperan dalam membawa penyakit seperti malaria, demam berdarah, demam kuning, virus Zika dan ensefalitis. Meski telah diteliti lebih dari 100 tahun, namun malaria tetap menjadi masalah kesehatan global, terutama di sejumlah negara di Afrika Sub-Sahara dan negara-negara di Asia.

Termasuk di Indonesia, dimana hingga saat ini, kasus-kasus malaria masih di temukan di sejumlah wilayah di Indonesia. Pada tahun 2013, jumlah kasus malaria diperkirakan mencapai 198 juta, dan jumlah kematian terkait malaria sebesar 548.000. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, satu anak meninggal setiap menit karena malaria di Afrika. Produk seperti organofosfat, regulator pertumbuhan serangga, agen kontrol mikroba dan larutan organik digunakan untuk mengendalikan populasi nyamuk dan penyebaran penyakit ini.

Hwang dan timnya mencoba mengalihkan perhatian mereka ke chitosan atau chitin, yakni zat alami yang tidak beracun yang telah digunakan dalam beberapa hal seperti penyembuhan luka, sebagai pembawa obat dan dalam pembuatan filter membran air dan lapisan kemasan makanan biodegradable. Chitin ditemukan di jaringan hewan, seperti exoskeletons arthropoda, paruh burung dan telur serangga. Hal ini dapat dengan mudah diubah secara kimiawi, chitin ini cukup kuat dan yang lebih menyenangkan adalah karena kelimpahannya di alam serta sangat efektif untuk digunakan.

 

 

Hwang dan tim peneliti lainya pertama-tama adalah menghancurkan dan mengeringkan dengan menggunakan oven exoskeletons sejumlah kepiting ventilasi hidrotermal (Xenograpsus testudinatus) sebelum mengeluarkan chitin dan mineral lainnya. Filtrat krim putih kemudian dicampur dengan perak nitrat (AgNO3) untuk mendapatkan larutan kuning kuning nanopartikel perak (AgNP). Sebagai solusi , konsentrat tersebut kemudian disemprotkan di atas enam waduk air di National Institute of Communicable Disease Centre di Coimbatore , India.

Bahkan hanya dengan sedikit konsentrat saja itu sudah mampu membunuh larva nyamuk dan pupa dengan cukup efektif. Proses ini bahkan memiliki efek yang paling besar pada tahap awal perkembangan larva nyamuk. Konsentrat ini juga kemudian diuji bersamaan dengan ikan mas air tawar (Carassiu auratus) yang diberi pakan larva nyamuk. Rupanya nanopartikel ini tidak berpengaruh pada ikan, hal ini menunjukkan bahwa produk ini ramah lingkungan dan tidak beracun.

Ini juga menghambat pertumbuhan spesies bakteri penyebab penyakit seperti Bacillus subtilis, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae dan Proteus vulgaris. “Penelitian ini menyoroti bahwa nanopartikel perak yang dibuat dengan chitosan mudah diproduksi, stabil sepanjang waktu, dan dapat digunakan dengan dosis rendah yang efektif untuk mengurangi populasi vektor malaria, nyamuk Anopheles sundaicus , tanpa efek merugikan pada pemangsaan/ predator yang menjadi musuh nyamuk secara alami.

Seperti ikan goldfishes, “kata Hwang. “Ini juga secara efektif menghambat patogen bakteri yang penting.” Hwang berhipotesis bahwa partikel nanosisasi melewati kutikula serangga dan masuk ke sel individu untuk kemudian mengganggu proses fisiologis yang berbeda yang merupakan bagian dari siklus hidup nyamuk. Meski demikian, masih ada sejumlah penelitian lanjutan yang akan dilakukan Hwang dan timnya untuk menguji temuan mereka tersebut. Temuan Hwang dan timnya ini dipublikasikan di Springer’s journal Hydrobiologia. 

 

nik/berbagai sumber/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment