Koran Jakarta | November 22 2017
No Comments
Festival Budaya

BWCF 2017 Digelar di Yogyakarta

BWCF 2017 Digelar di Yogyakarta

Foto : istimewa
Festival Borobudur - Wartawan senior, Seno Joko Suyono (kedua dari kanan), dan budayawan Romo Mudji Sutrisno (ketiga dari kanan) saat jumpa pers tentang rencana festival Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2017, di Jakarta, Selasa (14/11).
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Sebuah festival tahunan, Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF), akan digelar di kawasan Malioboro, Yogyakarta, pada 23–25 November 2017. Gelaran BWFC ke-6 ini akan mengangkat tema “Gandawyuha dan Pencarian Religiusitas Agama-agama Nusantara”. Wartawan senior dari salah satu media swasta nasional, Seno Joko Suyono, mengatakan tema tersebut diangkat untuk memperkukuh persahabatan antarsesama umat beragama.

Pada puncak rangkaian kegiatan tersebut rencananya akan digelar perbagai kegiatan, di antaranya seminar kebudayaan, pentas kolaborasi tari-rupa-musik, pembacaan puisi, meditasi pagi, pemutaran film, pameran foto, pesta buku dan pemberian penghargaan. Seno, yang akan menjadi salah satu pembicara dalam diskusi tersebut, menjelaskan makna dari Gandawyuha merupakan suatu pencarian kebenaran yang luar biasa.

“Gandawyuha merupakan pahatan relief di dinding lorong dua, tiga, dan empat Candi Borobudur, yang di dalamnya terdapat 460 buah panel relief. Relief-relief tersebut berbicara tentang suatu pengembaraan pencarian kebenaran (the ultimate truth) yang luar biasa,” kata Seno, di Jakarta, Selasa (14/11).

Ia menjelaskan, Gandawyuha merupakan kisah esoteris Agama Budha Mahayana mengenai anak muda bernama Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari pengetahuan dan kebijaksanaan tertinggi. Ia berkeliling dunia untuk menemui satu guru dan guru lain atau para sahabat spiritual (mitreka satata).

Dalam kesempatan yang sama, Romo Mudji Sutrisno mengatakan tema “Gandawyuha dan Pencarian Religiusitas Agama-agama Nusantara” dipilih karena ada unsur pluralis dan toleransi Buddha dan Hindu yang tergambarkan dalam relief lorong 2 dan 3 di Candi Borobudur yang selama ini tidak pernah didiskusikan secara serius.

Menurutnya, relief ini menceritakan hal yang sangat relevan di tengah kecenderungan fanatis dan intoleransi agama saat ini. Sesi Dialog Atas dasar itu, Romo Mudji mengatakan kalau Borobudur Writers and Culture Festival 2017 ingin mendiskusikan “Gandawyuha” secara lintas disiplin. Sesi dialog dengan konteks budaya tersebut akan menghadirkan pemuka agama dari Katolik, Konghucu, Buddha, hingga Islam Nusantara.

Dialog ini guna membangun konteks budaya, dengan keyakinan lain, dalam rangka mencari kebenaran. “Perhelatan kebudayaan yang dilakukan berturut-turut ini dimaksudkan semata untuk meningkatkan muruah kebudayaan Nusantara. Kebudayaan Nusantara ini merupakan budaya yang terus-menerus hidup dalam proses saling negosiasi di antara beragam pengaruh yang ada,” ujarnya. rag/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment