Butuh Kebijakan Luar Biasa untuk Cetak Pertumbuhan Tinggi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
Pengelolaan Anggaran I Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi di Bawah Lima Persen

Butuh Kebijakan Luar Biasa untuk Cetak Pertumbuhan Tinggi

Butuh Kebijakan Luar Biasa untuk Cetak Pertumbuhan Tinggi

Foto : Sumber: Kemenkeu – Litbang KJ/and - KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

>> Pemerintah masih menggunakan strategi berutang untuk mengatasi persoalan ekonomi.

>> Pertumbuhan RI sulit tembus lima persen karena belanja modal pemerintah melambat.

JAKARTA – Sejumlah kalangan mengingatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan susah beranjak dari le­vel lima persen, apabila pemerintah te­tap selalu bergantung pada utang, tanpa ada kebijakan ekonomi yang signifikan atau luar biasa. Bahkan, sejumlah lem­baga keuangan internasional mempre­diksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di bawah lima persen.

Guru besar ekonomi dari Universi­tas Brawijaya Malang, Munawar Ismail, mengatakan agar pengelolaan anggaran dapat efektif maka perlu diarahkan un­tuk memperkuat dan sekaligus mem­perluas berbagai sumber pertumbuhan yang penting.

“Misalnya sekarang pertumbuhan banyak ditopang oleh konsumsi. Ka­rena konsumsi ini adalah faktor penting menggerakkan untuk pertumbuhan, maka kebijakan diarahkan bagaimana agar tingkat konsumsi masyarakat tetap terjaga, misalnya mengurangi pajak,” je­las dia, ketika dihubungi, Selasa (19/11).

Namun, Munawar menyatakan per­tumbuhan dengan mengandalkan kon­sumsi adalah tidak berkualitas, apalagi konsumsi yang mencapai lebih dari 50 persen perekonomian itu berasal dari impor yang dibiayai oleh utang. Un­tuk itu, pemerintah juga mesti mencari sumber pertumbuhan baru yang ber­kualitas, misalnya investasi.

“Atau pemerintah bisa saja men­dorong industri substitusi impor guna mengurangi impor dan mempersem­pit defisit perdagangan yang mereduksi pertumbuhan,” kata dia.

Terkait pertumbuhan, sebelumnya ekonom senior, Rizal Ramli, mengingat­kan pemerintah untuk mengubah lang­kah dan kebijakan ekonomi secara sig­nifikan. Jika tidak, dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan hanya sekitar empat persen atau di bawah target sebesar 5,3 persen.

“Jika tidak ada perubahan ekonomi makro hingga Desember 2019, diper­kirakan pertumbuhan ekonomi Indo­nesia akan anjlok ke empat persen,” ujar dia, belum lama ini.

Hal ini, lanjut Rizal, akan semakin menurunkan daya beli dan meningkat­kan jumlah perusahaan yang mengalami gagal bayar. “Tidak ada juga tanda-tanda indikator ekonomi makro, seperti defisit perdagangan, defisit transaksi berjalan, akan membaik pada 2020,” tukas dia.

Apalagi, tegas Rizal, pemerintah ma­sih menggunakan strategi berutang untuk mengatasi persoalan ekonomi. Ironisnya, bunga utang Indonesia lebih besar bila dibandingkan dengan negara lain yang peringkat utangnya lebih ren­dah dari Indonesia.

“Bunga utang luar negeri lebih tinggi dibandingkan negara yang rating-nya lebih rendah dari Indonesia. Bunga utang Indonesia sampai 8,3 persen, se­mentara negara lain, seperti Vietnam, Thailand, dan Filipina bunganya 4–5 persen,” papar dia.

Menurut Rizal, pemerintah sampai harus memangkas subsidi energi dan sosial untuk membayar utang. Dampak­nya, daya beli rakyat lemah karena harga tarif dasar listrik naik, harga bahan ba­kar minyak naik, dan akan menyusul iu­ran BPJS Kesehatan naik 100 persen.

Prediksi Asing

Sementara itu, sejumlah bank in­vestasi global menilai gejolak ekonomi, perang dagang AS-Tiongkok, dan juga perang dagang AS-Eropa dikhawatirkan menggerus pertumbuhan ekonomi In­donesia menjadi di bawah lima persen hingga akhir tahun ini. JP Morgan Chase dikabarkan memprediksi ekonomi In­donesia tumbuh 4,9 persen di tahun ini, sedangkan Deutsche Bank memperkira­kan di angka 4,8 persen.

Menurut JP Morgan, pertumbuh­an ekonomi Indonesia sulit menembus lima persen lantaran belanja modal pemerintah yang melambat. Bank itu memprediksi pertumbuhan konsumsi RI secara keseluruhan tahun ini hanya tiga persen, lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 3,1 persen.

Sedangkan investasi diperkirakan hanya tumbuh 1,3 persen, turun dari pertumbuhan 2018 sebesar tiga persen. Sementara itu, net ekspor diperkirakan tumbuh 0,5 persen. Meski demikian, JP Morgan memperkirakan inflasi Indone­sia masih cukup terkendali. Diproyeksi­kan inflasi tahun ini hanya 2,8 persen. Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut hingga tahun depan. Pada 2020, JP Mor­gan memprediksi pertumbuhan eko­nomi RI juga 4,9 persen.

Sebelumnya dikabarkan, pengelola­an APBN 2019 dinilai menghadapi tan­tangan yang cukup berat, sehingga ham­pir semua asumsi dasar ekonomi makro meleset. uyo/SB/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment