Koran Jakarta | August 23 2019
No Comments

Bunda Teresa, Inspirasi yang Tak Pernah Lekang

Bunda Teresa, Inspirasi yang Tak Pernah Lekang
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Bunda Teresa
Penulis : Anom Whani Wicaksana
Penerbit : C-Klik Media
Cetakan : November 2018
Tebal : 173 halaman
ISBN : 978–602-5448-47-8

Cerita tentang Bunda Teresa ti­dak pernah habis dikupas. Ada saja kisah yang ditemukan para penulis seperti dalam buku ini. Dialah Ibu yang selalu memberi inspirasi kemanusiaan sepanjang masa, juga setelah wafat. Teresa adalah Ibu segala bangsa, etnis, suku.

Pelayanan Ibu tidak pernah melihat latar belakang agama. Baginya, setiap manusia berhak mendapat pelayanan­nya. Hanya manusia yang merasa “super” yang selalu melihat pelayanan berdasar seagama. Tapi, Bunda Teresa melayani karena di dalam setiap hati manusia terdapat citra yang ilahi.

Bunda Teresa selalu digerakkan oleh cinta. Baginya, cinta adalah sum­ber pelayanan sebagai manifestasi cinta kepada Tuhan yang diwujud­kan dalam aspek kemanusiaan. Tak pelak, dimensi keimanan kepada Yesus sejajar dengan kecintaan ke­pada manusia. “Mengucapkan ‘aku mencintai Tuhan’ saja tak cukup. Kita harus mengucapkan ‘aku mencintai tetanggaku’,” katanya (hlm 135).

Bunda yang bernama kecil Agnes Gonxha Bojaxhiu tersebut, pertama-tama melayani kaum papa di Kalkuta, daerah kumuh pinggiran India. Di sini tinggal ratusan ribu orang miskin, tunawisma, penderita lepra, dan anak-anak terbuang dari kerabat.

Menurutnya, sebelum ajal, setiap orang berhak dimandikan dan didoa­kan agar perjalanan menghadap sang Khalik lancar. Maka, Ibu selalu men­cari orang-orang di pinggir jalan yang tak terurus untuk dibawa ke kediaman. Mereka dimandikan, diberi makan, dan disembuhkan. Kalau terpaksa nyawanya tak bisa diselamatkan, se­tidaknya orang-orang miskin tersebut meninggal dalam keadaan layak.

Atas pengorbanan dan perjuangan­nya, dunia menghadiahi Nobel Perda­maian pada tahun 1979. Yang menyen­tuh dunia, Bunda minta ditiadakan perjamuan makan atas penganugera­han tersebut. Sebagai ganti, Bunda mohon agar dana makan malam dianugerahkan kepada orang-orang miskin. Puncak penghargaan karya cinta kasihnya ketika Gereja meng­gelari santa (orang suci). Dunia kini mempunyai Santa Teresa dari Kalkuta.

Santa Teresa dari Kalkuta seluruh hidupnya diabdikan untuk orang-orang terbuang. Dia secara suka rela membangun rumah sakit, permu­kiman layak huni, dan panti untuk anak-anak. Dia tidak memilih-milih lokasi untuk membangun rumah sakit. Bunda membangun rumah sakit di lahan kuil Hindu di Kalighat. Mengapa orang Hindu membiarkan orang Katolik membangun rumah sakit di lahannya? Karena Bunda melayani se­tiap orang, termasuk orang Hindu.

Masyarakat perlu membaca buku ini untuk menimba inspirasi Santa Teresa dari Kalkuta. Dunia perlu be­lajar kemanusiaan, pelayanan, dan penghargaan kepada makhluk hidup dari Bunda Teresa. Dunia semakin perlu inspirasi dari Bunda Teresa saat masyarakat semakin rakus memper­kaya diri supaya belajar kemiskinan, tapi kaya dalam cinta.

Buku ini mengisahkan orang suci yang menjadi inspirator kemanusiaan sepanjang masa. Rasanya, seperti mencari jarum di jerami, untuk mene­mukan seorang seperti Bunda Teresa. Tidak ada dengki, dendam, dan ama­rah di dalam hatinya. Yang ada hanya kasih, suka-cita, dan keprihatinan bagi sesama. Diresensi P Erni Damayanti, aktivis sosial kemanusiaan

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment