Koran Jakarta | June 23 2017
No Comments

Budaya Tradisional dalam Telaah Sains dan Teknologi

Budaya Tradisional dalam Telaah Sains dan Teknologi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Kode-kode Nusantara

Penulis : Hokky Situngkir

Penerbit : Expose 

Cetakan : I, November 2016

Tebal : xxiii + 197 halaman

ISBN : 978-602-7829-37-4

Budaya membangun peradaban begitu kompleks. Sebagai pewaris kebinekaan, hendaknya bangsa bijak. Jangan hanya mengeksplorasi budaya dan tradisi secara ekonomis atas nama pariwisata atau ekonomi kreatif. Namun juga mengaji, analisis, dan telaah mendalam, sebagai salah satu upaya melestarikan.

Buku ini mengetengahkan hasil penelitian keberagaman budaya Indonesia. Jejak pengetahuan terkuak ketika tak hanya melihatnya sebagai budaya dan tradisi. Saat modernisme Eropa membanggakan lukisan The Last Supper, karya Leonardo da Vinci, Nusantara juga menghasilkan lukisan Smaradhana, lukisan Bali yang merupakan penggalan mitologi Hindu. 

Ini menggunakan konsep geometri fraktal yang tidak memandang sebuah objek sebagai berdimensi angka seperti satu, dua, atau tiga, melainkan berdimensi angka pecahan. Hal ini karena anggapan bahwa alam lebih rumit dari sekadar bentuk garis, persegi, kubus, atau piramida. Smaradhana serupa dengan penggambaran batik.

Prinsip utama membatik untuk mengisi kekosongan ruang-ruang pada lembaran kain. Ia tidak menggunakan teknik gambar dan lukis naturalis, yang memotret alam. Fokus terletak pada tema dan makna dengan simbol, bukan pada detail pengukuran atau skala. Pola berulang pada batik menangkap dinamika sebagai bentuk ekspresi dengan geometri fraktal (hlm 28).

Salah satu simbol romantika cinta dari motif batik dikisahkan berawal dari kesepian Kanjeng Ratu Kencana, permaisuri Sunan Pakubuwana III Surakarta Hadiningrat karena raja sibuk dengan selir barunya. Ratu kemudian melukiskan bintang-bintang malam dan bunga-bunga tanjung yang setia menemani kesepiannya pada selembar kain dengan warna biru gelap malam. 

Gambar itu menyentuh raja. Cinta dan sayangnya pada sang ratu pun bersemi kembali. Motif ini diberi nama “Truntum” yang dalam bahasa Jawa berarti tumbuh kembali. Filosofi di baliknya, tentang kesetiaan, kesabaran, ketelatenan, dan ketuhanan. 

Telaah terhadap situs purbakala seperti candi Borobudur dan situs Gunung Padang dilakukan melalui model komputasi Otomata Selular. Rekonstruksi Borobudur yang memiliki 2.672 panel relief dengan berbagai kisah dan 504 arca Buddha berhasil membuktikan bahwa aturan-aturan sederhana dapat diakuisisi menjadi adikarya berabad-abad kemudian (hlm 57).

Penelitian juga membuktikan bahwa praktik kehidupan demokrasi Indonesia telah ada sejak zaman Mataram. Saat warga melakukan tapa pepe untuk menyampaikan aspirasinya kepada raja. Tapa pepe bentuk protes warga yang dilakukan dengan berjemur bertelanjang dada di alun-alun kota. 

Demokrasi kerajaan-kerajaan Indonesia saat itu juga membatasi kekuasaan raja melalui peran pemuka agama, sesepuh kerajaan, atau para bangsawan. Tujuannya agar raja mendengarkan aspirasi dan terhindar dari penyimpangan terhadap aturan dan norma. Analisis lain mengenai pola anyam dan tenun, lagu daerah, rumah adat, hingga cara bersosial masyarakat tradisional. 

Proses akulturasi dan hubungan kekerabatan antara kelompok-kelompok budaya di Indonesia dapat dipelajari melalui sekuen-sekuen mem yang menyusun elemen-elemen dari kelompok budaya tersebut. Mem adalah unit terkecil dari budaya. Ini terlihat dari karakter dasar ekspresi budaya yang dominan di satu suku bangsa. 

Eksplorasi berbagai tradisi menggunakan sains dan teknologi modern dapat menjadi jalan mengembangkan peradaban. Di era digital dan komputasi sekarang, saatnya melihat utuh elemen-elemen budaya sebagai sebuah informasi pengetahuan. Pencatatan digital atas budaya tradisional telah dimulai lewat situs. Perpustakaan digital budaya Indonesia dalam buku ini menyajikan eleman-elemen budaya yang telah diubah menjadi bit-bit digital sebagai data multimedia, gambar, suara, video, dan teks (hlm 183). 

Diresensi Anindita Arsanti, lulusan UPN Veteran Yogyakarta 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment