Koran Jakarta | October 19 2017
No Comments

Buang Barang yang Tidak Digunakan Lagi

Buang Barang yang Tidak Digunakan Lagi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Seni Berberes Kekinian

Penulis : Riza Aritara

Penerbit : Psikologi Corner

Cetakan : Pertama, 2017

Tebal : 180 Halaman

Ukuran : 14 x 20 cm

ISBN : 978-602-6595-52-2

Berbenah adalah perkara sederhana, namun pelik karena tidak semua mau melakukan. Pelik karena tidak semua orang tahu cara yang tepat. Setiap orang sebenarnya memiliki kemampuan berbenah (hal 7). Sama dengan matematika, kemampuan berbenah juga perlu diasah. Semakin mampu, orang bisa mendapat kondisi rumah seperti diimpikan. Kadang, seorang asisten rumah tangga pun tidak mampu merealisasikan keadaan rumah yang diinginkan tersebut.

Perlu beberes sedikit demi sedikit atau sekaligus. Buku ini menganjurkan opsi sekaligus. Sebab, berbenah sedikit demi sedikit hanya menunda barang yang seharusnya dapat disingkirkan atau buang. Ini memenuhi tempat penyimpanan (hal 13). Selain itu, beres-beres sedikit demi sedikit memakan waktu lebih lama dan tidak berujung.

Kunci berbenah harus berani dan rela membuang barang yang sudah tidak berguna. Ini bisa benar-benar dibuang, dijual, atau disumbangkan. Ruangan yang menampung barang lama kelamaan penuh. Kotak penyimpanan juga tidak selamanya mampu menjadi solusi. Barang lama menumpuk, barang baru mendesak ingin masuk.

Memilah barang untuk dibuang tidak selamanya mudah karena bisa berkaitan masa lalu. Sisakan barang-barang yang membahagiakan, terutama yang mengalirkan energi positif. Hilangkan rasa “sayang” saat ingin membuang. Barang penting simpan. Sisanya buang, tanpa ampun (hal 50).

Setelah berhasil menyisakan barang yang semestinya, langkah selanjutnya adalah berbenah berdasarkan kategori. Begitu banyak tempat penyimpanan membuat barang sejenis tercecer di berbagai penjuru. Berbenah berdasarkan lokasi terasa kurang efektif. Barang dapat memiliki macam-macam nilai seperti fungsional, informatif, dan sentimental.

Memilah barang berdasarkan kategori akan mempercepat pekerjaan. Merapikan benda bernilai sentimental, seperti kenang-kenangan, akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Ingatan dapat kembali ke masa lalu saat membereskan kenang-kenangan. Butuh sejenak berdialog dengan “kenangan” yang melekat pada barang tersebut. Ini dikerjakan terakhir saja.

Pengaturan tempat penyimpanan barang juga perlu diperhatikan dan perlu komitmen untuk menyimpan barang di satu tempat dan mengembalikannya ketika selesai menggunakan (hal 122). Menyimpan barang tidak harus repot-repot menambah tempat khusus. Ini dapat disiasati dengan cara peletakannya. Misalnya, menyimpan secara vertikal, memindahkan barang yang betebaran di lantai ke dalam lemari dan memasukan tas kecil ke dalam tas besar.

Dambaan gaya hidup dapat diperoleh melalui berbenah. Kepercayaan diri akan meningkat ketika kondisi rumah rapi dan bersih. Dikelilingi barang yang ‘memiliki energi positif’ akan membuat suasana hati gembira. Secara tidak langsung, penerapan metode berbenah ini dapat menekan pemborosan.

Buku ini akan lebih menarik jika ada infografis, foto atau gambar. Misalnya, infografis cara penyusunan barang, urutan kategori, atau foto ruangan hasil berberes. Halaman jadi lebih menarik.

Diresensi Intan Nirmala, Sarjana S-1 Statistik UGM

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment