BRG Latih Warga Membuka Lahan Tanpa Membakar | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 13 2020
No Comments
Pencegahan Karhutla - Sekolah Lapang BRG Akan Dibuka April 2018

BRG Latih Warga Membuka Lahan Tanpa Membakar

BRG Latih Warga Membuka Lahan Tanpa Membakar

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Untuk mencegah karhutla, BRG menyiapkan sekolah lapang untuk mengajarkan masyarakat yang berdiam di lahan gambut melakukan pembukaan lahan tanpa bakar.

JAKARTA - Badan Restorasi Gambut (BRG) menyiapkan sekolah lapang untuk masyarakat di sekitar hutan. Sekolah ini mengajarkan masyarakat yang berdiam di lahan gambut melakukan pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB). Ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Masyarakat bisa melihat dan belajar cara PLTB yang sudah sukses dijalankan sejauh ini melalui sekolah lapang. Masyarakat di beberapa desa dilatih PLTB. Masyarakat bisa melihat hasil PLTB di demplotdemplot yang dibuat untuk sekolah lapang,” kata Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, Myrna, di Jakarta, Sabtu (10/3).

Menurut Myrna, sekolah lapang ini rencananya mulai dilaksanakan pada April 2018. Saat ini persiapan masih dilakukan sambil menentukan lokasi-lokasi yang tepat di enam provinsi yang akan dibuka secara serentak. Khusus sosialisasi terkait cara PLTB kepada masyarakat sendiri juga dilakukan di setiap fasilitas desa peduli gambut yang dibentuk BRG.

Beberapa desa peduli gambut, tambah Myrna, yang memang sudah memiliki demplot sudah ada yang menggelar pelatihan PLTB tersebut. Desa Sebangau Jaya, Kecamatan Sebangau Kuala, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, sudah mengembangkan PLTB yang awalnya hanya seluas satu hektare (ha).

Hasilnya, tambah Myrna, petani di Desa Sebangau Jaya bisa melakukan panen sampai 4,5 ton per ha. Saat ini, tambah Myrna, kegiatan pertanian sawah tanpa bakar di lahan gambut budidaya ini dibantu oleh Wetland International. Sedangkan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat bentuknya memang masih demplot.

Lebih Praktis

Kepala Desa Sebangau Jaya, Kisruh Sekar Tran Lestari mengatakan cara membuka lahan gambut dengan membakar memang lebih praktis dan murah. Namun, Kisruh sadar betapa berbahayanya menggunakan cara itu karena bisa berujung karhutla besar seperti yang terjadi di tahun 2015. Awalnya pengembangan cara PLTB di desanya dilakukan secara swadaya dan kini diperluas hingga tujuh ha dengan bantuan BRG.

Kisruh memulai sistem pertanian ini setelah pada tahun 2017 melihat praktik PLTB yang dilakukan di Desa Pantik, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau. Warga Desa Sebangau Jaya, tambah Kisruh, sudah tidak berani membakar untuk memulai tanam sehingga banyak ladang yang ditinggalkan.

Pada saat yang sama sumber pangan mereka mulai berkurang, karenanya mereka belajar melakukan PLTB. Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Blangbintang, Zakaria mengatakan BMKG Blangbintang pada Sabtu (10/3) mendeteksi adanya tiga titik panas terpantau oleh satelit, berada di wilayah Aceh.

Dari total 12 titik panas terdeteksi di Sumatera hari ini, ada tiga titik di antaranya di Aceh. Ketiga titik panas itu, lanjut Zakaria, dari hasil pantauan sensor modis menggunakan Satelit Terra dan Aqua terdapat pada tiga wilayah kabupaten/ kota di provinsi terletak bagian paling barat Indonesia itu. Titik panas tersebut berada di Aceh wilayah tengah yang daerahnya terisolir akibat dikelilingi wilayah pengunungan, seperti Aceh Tenggara terpantau satu titik di Kecamatan Babul Makmur.

Di daerah dataran tinggi Gayo Lues, 1.500 meter di atas permukaan laut terdeteksi satu titik di Kecamatan Pinding, dan Subulussalam di Kecamatan Simpang Kiri terpantau satu titik. “Analisis kami, ketiga titik panas ini belum menunjukkan titik api akibat kebakaran hutan dan lahan. Paling tinggi 67 persen, dan paling rendah 60 persen,” tegas Zakaria. eko/SM/Ant/N-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment